@GUSW’s Personal Sites

menebar SENYUM merajut UKHUWAH

Lagu Kekalahan

Oleh : Ragdi F. Daye

Tergesa kucomot minyak rambut dari kemasan, meratakannya di telapak tangan, kemudian mengacak-acak rambut sampai terminyaki rata. Kuraih sisir berdiri di depan cermin. Menyisir cepat-cepat.

Kuperhatikan rautku di cermin yang sedikit terkotori debu yang datang dari jendela kamar yang tiap pagi kubuka. Rambutku hitam. Sebenarnya tanpa disisir aku malah kelihatan ganteng seperti Ricky Martin. Ganteng? hehehe… masa iya sih? Tapi memang, alisku hitam lebar. Hidungku mancung dan ada patahan di antara mata. Bibirku me…, ech… “alhamduliLlahi Allahumma kamaa hasanta kholqi fa hasin khuluqi.” Lirih, ingat juga ku berdoa. Mensyukuri wajahku yang tidak jelek.

Aku tersenyum. Senyumku kata teman-teman seperti senyum Panji Manusia Milenium. Senyum Bang Panji yang sedang sakit gigi kali. Ah kalau sudah melihat wajahku di cermin, bisa-bisa sampai sore aku tak kan beranjak dari kaca. Aku dengan seenaknya akan merasa wajahku mirip si Anu, mataku seperti mata artis itu, telingaku seperti telinga tokoh itu, gigiku bagai anu, daguku mirip dagu aktor itu, rahangku…

Ku pasang kacu pramuka merah putih yang tadi telah menyita banyak waktuku untuk mencatinya. Hampir seperempat jam aku mengaduk-aduk isi kamar ternyata segitiga penuh makna itu terserak di bawah lemari. Entah bagaimana bisa sampai ke sana.

Kulirik jam belajar hadiah ulang tahun dari seseorang pada masa laluku dulu di atas meja. Oalah Rabbi… sudah pukul tujuh lewat lima! Busyeet. Terlambat sudah.

Tergesa kupasang kaus kaki hitam. Menyorong kaki ke sepatu. Membuhul tali, menyambar tas kampus abu-abuku, berlari ke pintu.

Ciiiittt…!! Aku mengerem lariku.

Oh Tuhan! Hari apa sekarang? Sabtu? Sabtu apa Jum’at? Sabtu! Pelajaran apa sekarang? Hadap kiri, grak! Fisika tiga jam, agama dua jam, bahasa Indonesia dua jam. Oh My God! Bukankah hari ini ujian Fisika?

Aku menggaruk-garuk hidungku yang tak gatal dengan putus asa. Ah masa bodoh. Toh IQ-ku nggak jongkok-jongkok amat. Peduli amat belum belajar. Selama ini khan aku sering latihan soal. Pasti nanti aku bisa menjawab soal ulangan. Tapi, ulangan bab lalu aku Cuma dapat enam, padahal sudah belajar semalam suntuk. Lalui sekarang? Apa aku bisa mendapat nilai di atas enam dengan keadaan mendadak begini? Riskan sekali.

Alaah, cuek aja! Kali aja nanti aku kejatuhan mukjizat dari loteng. Bnisa sukses ulangan meski belum belajar barang sepokok bahasan pun. Bukan mustahil khan sodara-sodara?

Setelah men-swzzzzsh-swzzzsh-kan axe ke bagian-bagian sensitif air di tubuhku, kubuka pintu dengan bergegas.

Dugh…!!!

“Masya Allah si Tempe, nyeruduk-nyeruduk kayak buldoser. Mo jadi tukang gusur?” Tanya seseorang yang tertumbuk olehku di depan pintu kamar.

Ah dasar Nyap-Nyap. Paling senang lihat orang sengsara. Tak kupedulikan si Bawel Nining yang – maaf – adalah kakakku yang tanpa acara serah terima enak saja selalu memanggilku dengan si Tempe. Kutemui Amak (ibu) yang sibuk membuat telur dadar mata jengkol (istilahku karena masakan itu spesial untuk bokap tercinta yang punya mata sekembaran pimpong) di dapur.

“Maa, mau pergi nih.”

“Ya. Hati-hati di jalan ya!”

“Maa, pergi Ma.”
”Iya!” Amak masih asyik dengan penggorengannya. Tewas aku! Sudah dua belas menit melangkah dari pukul tujuh.

Aje gilleee…! Jatah belom cair juga.

“Iya-iya, tapi ongkosnya mana? Ih, Amak ini.”

“Lho, yang kemarin?” Amak menoleh ke arahku. “Khan untuk beli obat tadi malam Amak kasih uang lima ribu. Sisanya belum kamu kembalikan khan? Amak rasa itu malah sama dengan jajanmu untuk setengah dua hari. Ada empat ribuan khan?”

Ah Amak ini. Mukaku mulai berpijar seperti senter kehabisan baterai. Merah nyaris padam. “Itu kemarin Mak. Yang lalu biarlah berlalu. Kan itu kata Amak selalu. Sekarang jatah harian Mak, nanti kan malming, malam minggu.”

Dengan sedikit bersungut-sungut Amak menyerahkan tiga lembar uang ribuan padaku. “Sono pergi, ntar terlambat kamu!”

“Siap Ma. Salam lekum.”
”Hush! Baca salam kok kayak gitu. Uah mau jadi anak sekolahan sarjana-an masih…”

“Sudah! Sudah! Sudah! Udah telat niiiiiiiiih…”

Aku kabur lewat pintu depan.

*****

Astaghfirullah! Buah seri di atas tungku. Mati aku.

Kupreteli lembar soal di depan hidungku. Waktu tinggal lima belas menit lagi, tapi soalnya baru sembilan yang terjawab. Berarti tinggal enam belas lagi. duh Raja Langit dan Bumi…

Reaktansi induktif rumusnya umega kali el. Umega sama dengan satu per dua phi ef. Eh, Benar nih? Bodo’ ah! Kucoret-coret kertas buram sehingga semakin buram dan curam. Curam apa suram apa guram? Pussiiiiiing! Orang lagi bingung malah ditanya yang enggak-enggak.

Wah busyet, kiamat nih. Sudah pukul delapan lima puluh dua menit. Sudah tidak mungkin lagi nih nyari-nyari. Nggak bakalan finish. Bisa-bisa aku malah kebobolan. Terus gimana dong dengan belasan soal yang belum terjawab ini.

Mikir-mikir amat, tengok aja kiri kanan, minta bala bantuan. Kalau kita sedang dilanda kesulitan nggak dosa kok untuk minta tolong.

Jadi, jadi berarti aku harus nyontek?

Nyontek?

Hiiii. Apa iya aku harus nyontek?

Apak, Amak, Enek, Akek, si Bawel, Paman Bibi, guru-guru SD, guru-guru SMP, guru-guru SMU, kepala sekolah, tetangga, kenalan, sobat-sobit…. semuanya selalu mewanti-wantiku bahwa : NYONTEK ITU TIDAK BAIK. Tujuan kita ulangan kan untuk menguji kemampuan, bukan mencari nilai.

Tapi, tapi nggak lucu bila nanti nilaiku seperti baru dilanda gunung meletus. Morat-marit. Bisa-bisa aku masuk DOT, Daftar Orang Tergoblok di kelas. Wih enggak lagi.

AstaghfiruLlah! Oh Tuhan. B-bismillah, ampuni hamba…

Kulongokkan kepala ke arah Junaidi yang sudah berngaso ria. Ia sudah selesai rupanya.

“Jun, Junaid. Junaid!”

Anak itu budek juga. Kali aja nanti bila nerima beasiswa ia perlu membeli alat pembantu pendengar.

“Apa?”

Harap-harap cemas aku melirik Pak Perof di depan yang sedang konsen menebar lirikan-lirikan matunya. Aku mah baru perdana kayak gini. Jadi grogi asli. “Hem, no-nomor tujuh belas, de-dlapan belas, mbilan be-belas.”

Junaidi seperti terheran. Peduli tape uli sama anak itu. Ia memantau Pak Perof sebentar. Kemudian…

“E, E, C!”

Cepat-cepat kuisi kertas jawabanku. Setelah itu aku mengarahkan kepala ke kiri, kearah Junaidi lagi. Tanganku sudah basah berpeluh. “Naid, nomor du…”

“Zainaaal!!”

Huwaaaa. Aku terlonjak saking kagetnya. Pak Perof memandangku dnegan mata elang laparnya. “Nyontek?”

Aku bersusah payah menyelaraskan pernafasanku. Ba-bapak ini, ti-tidak tt tahu, aku kan ke-ke-keturunan penya-nyakit j-jantung. Paling ng-nggak boleh dii-kejuttin. untung saja, t-tadi aku ti-tidak wafat sssess-seketika.

Aku melirik Junaidi yang menyurukkan pandangannya. Inikah mukjizat dari loteng itu?

*****

Pada pergantian jam pelajaran agama dengan pelajaran Bahasa Indonesia, sang cheerman (ketua kelas), si Bliru datang dengan membawa kertas ulangan Fisika pagi tadi. Isi kelas langsung mengadakan acara screaming dadakan.

“Karena kalian semua sepertinya tidak bisa mengendalikan diri masing-masing, maka silakan mengambil sendiri kertas ulangannya!” Bliru mengultimatum sambil meletakkan kertas-kertas ulangan itu di meja bagian depan. Tentunya setelah terlebih dahulu mengantongi kertas ulangannya.

Dari segenap penjuru lokal, dari sayap kiri, sayap kanan, poros muka, poros belakang, corner dekat jendela Utara dan Selatan. Pokoknya semuanya pada semangat reformasi ‘98 menyalurkan aspirasinya dengan menyerbu kertas ulangan.

Setelah menempuh perjuangan berat dengan mengorbankan sepatuku yang baru kemarin disemir super kilap diinjak-injak oleh oknum yang tidak beranggung jawab, akhirnya kertas ulangan itu kudapatkan juga dalam kondisi yang sangat kritis.

Aku bersicepat duduk ke bangkuku ingin segera tahu bagaimana nilaiku.

B L A A A A A R R ! !

Aku merasa jangtungku seperti akan berhenti berdetak. sebuah angka dua yang begitu angkuh dengan sangat PD nya mejeng besar-besaran di kanan atas kertas ulanganku. Dan di bagian bawah, dengan terlalu manisnya, tergores sedikit kata mutiara dari Pak Perof. “Mencontek itu bukanlah suatu perbuatan yang baik. Hanya belajar rajin sebagai penangkalnya.”

Busyet!!

“Dapet berapa Nal?”

“Pasti tinggi. Kan tadi kerjasama dengan sang the best Junaidi. berapa? Sembilan atau sepuluh?”

Aku merasa kejatuhan duren belasan ton. Bonyok luar dalam. Baru sekali ini nyontek sudah dikira jago nyontek. Disindir-sindir pula lagi layaknya seorang pejabat ikut nebeng dalam skandal korupsi.

Bah, frustasi aku!

Aku melirik Junaidi yang dirubungi teman-teman karena keberhasilannya. Ough! Tobat dah. Kapok! Besok nggak mau sok ber-IQ setinggi nyiur melambai lagi. Insyaf. suer dah aku insyaf!! N G G A K L A G I I I . . . . ! !

Penulis adalah Anggota Forum Lingkar Pena Sumatera Barat
radefi@yahoo.com

==============================================
Dapatkan cerita - cerita islam menarik di http:// agusw.cjb.net
menebar SENYUM merajut UKHUWAH
–————————————————————————————-

  • 0 Comments
  • Filed under: Cerita Islam
  • Doa Setelah Makan

    Read the rest of this entry »

  • 0 Comments
  • Filed under: Doa & Hadits
  • Doa Akan Makan

    Read the rest of this entry »

  • 0 Comments
  • Filed under: Doa & Hadits
  • Download E-book Terjemah Hadits Arbain

    Segala puji saya panjatkan kehadirat Rabb Semesta Alam, karena dengan karunia-Nya-lah, setelah mengerjakannya selama hampir satu bulan penuh “Hadits Arbain An-Nawawiyah Terjemah Bahasa Indonesia” dalam format e-book ini bisa di luncurkan.

    Mengingat bahwa amal seseorang tiada akan terputus kecuali tiga perkara dimana salah satunya adalah ilmu yang bermanfaat, untuk itulah saya memberanikan diri mengetik dan meluncurkan e-book terjemahan Hadist Arbain ini dengan maksud bisa menjadi amalan baik yang tiada terputus. Disamping itu Hadits Arbain sudah menjadi pegangan banyak kaum muda islam untuk di jadikan salah satu hadits yang sering di hafalkan.

    Sekaligus e-book ini saya persembahkan buat kemenakanku yang baru lahir, “Fitra Aufa Ahmad” sekalian minta di doakan semoga bisa menjadi anak yang sholeh, pandai, berguna bagi sesama, bisa memuliakan keluarga, agama, dan menjadi anak yang ber-akhlak karimah.

    Baik tulisan arab maupun terjemah Indonesia dalam e-book ini saya ketik satu persatu dari beberapa kumpulan terjemah hadist arbain, dan bukannya mengambil ataupun meng-copy paste, dari situs lain. Barangkali masih terdapat beberapa kesalahan tulis, kesemuanya itu diluar kesengajaan dan karena kebodohan saya semata. Untuk itu saya sangat mengharapkan koreksi dari antum semua. Walaupun saya pribadi telah beberapa kali mengkoreksinya, namun tidak menutup kemungkinan kesalahan ketik tersebut masih terdapat dalam e-book ini.

    E-book ini saya kerjakan ikhlas karena Allah semata, dan semoga tercatat sebagai amal yang diterima-Nya, namun demikian kepada netter, pengguna e-book, ataupun webmaster tidak diperkenankan memuat ulang pada web-nya dengan membuang atribut yang ada di dalam nya, hal ini mengandung maksud untuk memudahkan koreksi (feedback) dari pengguna e-book jika menemukan kesalahan ketik, sehingga source-nya bisa dengan cepat diperbaiki. Disamping itu saya sangat mengharapkan feedback dari antum untuk mengetahui seberapa banyak produk (e-book) yang diluncurkan diterima netter.

    Jika anda tertarik dengan e-book ini, bahkan mencetaknya saya mengharapkan keikhlasan antum untuk menyumbang pada masjid atau mushola atau kegiatan - kegiatan kemanusiaan lainnya seikhlasnya saja. Hal ini bukannya saya mengharapkan sumbangan tersebut anda tujukan karena e-book ini tetapi semata - mata hanya untuk mengingatkan akan pentingnya berinfak bagi yang mampu, toh kalau tidak nyumbangpun juga tidak apa - apa.

    Untuk mendownloadnya klik silahkan klik halaman

    < a href="download.php">

    Download.
    Semoga bermanfaat

  • 6 Comments
  • Filed under: Kreativitas
  • Hari Minggu yang lalu barangkali saya masih upload “curhat di web” dengan banyak bercandanya, tak mengetahui bahwa saudara saya sebangsa setanah air di ujung pulau sumatra tengah berlari - lari menyelamatkan nyawa satu - satunya, tanpa memperpedulikan harta benda miliknya. Terlihat dilayar kaca bagaimana seorang bapak - bapak hanya dengan menggenakan handuk sebagai penutup auratnya-pun berhamburan menyelamatkan diri. Bagaimana seorang ibu yang dengan susah payah melahirkan harus rela melihat kepergiannya buah hatinya. Tak terbayangkan memang. Ribuan orang bergelimpangan meninggal begitu saja bersama lumpur - lumpur. Jalan - jalan dipenuhi dengan mayat - mayat yang kian mengiris hati. Dan tidak mustahil hal semacam itu bisa saja menimpa kita. Lantas patutkan kita berbangga - bangga dengan diri kita, dengan harta kita, dengan kedudukan kita? Barangkali penduduk aceh yang dekat dengan pantaipun tidak pernah berfikir kalau akan diserang badai yang demikian hebatnya. Tidak akan pernah berfikir bahwa gelombang badai akan meluluh lantakkan tanah dan isinya, tidak pernah berfikir bahwa dirinya tidak akan pernah menghirup udara di awal tahun 2005.

    Tak tahu kenapa, rasanya bagi saya sendiri ingin menangis sekeras - kerasanya. Sedih memang, susah memang, namun itulah yang terjadi. Yang harus dihadapi, dan bagi saya semakin menandakan, bahwa manusia hanyalah makhluk yang tiada berdaya. Ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia hanyalah sedikit saja dibanding ilmu yang dimiliki Allah. Bagimana tidak, ahli geofisika-pun tak mampu membaca akan datangnya pergerakan lempengan yang mengakibatkan datangnya gelombang besar, bahkan saking besarnya salah satu kota di Srilangka disapu bersih tumpahan air laut yang tingginya hampir mencapai tinggi pohon kelapa. Barangkali ada satu dua yang telah memprediksikan, itupun diungkapkan setelah kejadian dan menjadi hal yang basi, dan manusia tiada mampu mencegah pergerakan lempeng bumi itu. Memang hanya segitulah ilmu manusia. Dan bumi yang seakan - akan kokoh tiada pernah bergolakpun hanyalah tempat yang rapuh. Ya memang beginilah manusia makhluk yang lemah, dan hanya kepada Allahlah kesemuanya itu kembali. Bagiamanpun nyawa yang kita miliki saat ini hanyalah titipan Allah dan sewaktu - waktu akan diambil oleh pemiliknya.

    Barangkali saya sebagai salah seorang yang tidak bersinggungan langsung dengan badai tersebut dan belum bisa membantu secara materi hanya bisa berdoa, semoga saudara - saudara saya yang di Aceh dan sekitarnya, saudara - saudara saya seislam yang ada di luar indonesia yang meninggal akibat badai geolombang tsunami bisa meninggal syahid (khusnul khotimah) dan mereka yang ditinggalkan bisa tabah menerima cobaan Allah. Dan perlu kita ingat bahwa sesudah kesulitan pasti akan ada kemudahan dan Allah tidak akan membebani suatu kaum kecuali sesuai dengan ukurannya. Rejeki, hidup, mati adalah rahasia Allah dan tiada yang bisa menolaknya. Setidaknya ini adalah renungan bagi saya untuk menapaki tahun 2005 yang kurang beberapa puluh menit lagi.

    Surabaya, 31 Desember 2005 pukul 23.25

  • 0 Comments
  • Filed under: Curhat
  • Tengah Asyik Bermain di Rumah

    Untuk bulan - bulan ini i’m sorry barangkali ngenetnya cuman 1X dalam seminggu untuk membalas mail, guestbook, message di Yahoo Messenger ataupun maintenance http://liriknasyid.com. Banyak yang mesti saya kerjakan dan selesaikan di rumah, sehingga tidak bisa sering - sering online, terlalu eman untuk meninggalkan aktivitas di rumah :D, Pokoknya sedang banyak yang harus di kerjakan yang membuat saya betah banget tinggal di rumah. Buat arek - arek rekan Messengeran via Yahoo Messenger afwannya yang banyak, kalau kirim message di YM kirim saja, insya Allah tak bales +/- seminggu kemudian, kalau emang perlu di bales loh ya?

    Memang kegiatan apa sih kok kelihatannya secret banget? he.. he.. he.. oh enggak cuman sedang belajar php, dan berusaha nyelesaiin web yang akan di launching ini, sama nulis - nulis sesuatu yang perlu di tulis, macam beberapa hadits yang insya Allah akan di online dan di ebookan dalam format pdf siap print, mem *.kar kan file - file midi anak - anak sehingga siap untuk berlatih membaca dan menyanyi bagi adik - adik kecil. Dan juga nich baru kali ini belajar php. wah kepalaku sampe puyeng nich ha.. ha.. ha.., Kalau design-nya kayaknya nggak ada masalahlah, biar jelek - jelek sudah selesai cukup lama, tetapi untuk programingnya waduh, waduh, padahal baceman yang dikasihkan my Brother ada seambreg tapi kayaknya masih kesulitan juga, barangkali aku yang kelewat bloon :D.

    Terus kenapa kok nggak pake nuke, atau mambo, endonesia, ataupun yang lainnya? Wah.. wah.. wah, kalau yang ini nggak pelajar php namanya tetapi nyetup php saja :D, pinginnya belajar sendiri, paling - paling juga kalau sudah kepala buthek di runing nggak keluar - keluar juga outputnya, pergi ke warnet, klik Yahoo Messenger menghub. my Brother, “Eh nanti sore di rumah nggak? Betulin dong script ini?  Nah nanti kalau my Brother tengah mbentulin scripnya aku bisa pura - pura menjaga ponakan (nephew) yang masih baby itu, padahal di kerjain loh :) Eh nangis yang banter(=keras) jangan tidur mlulu :D, soalnya baby-nya my Brother ini jarang nangisnya, nangisnya cuman bentar - bentar saja, Wih gak keren pokoknya.

    Makanya tuh paling asyik bermain - main dirumah saja…. di depan komputer dari pagi sampai malam hari :D, sudah tiada mengeluarkan biaya banyak ilmunya lagi. 

  • 1 Comment
  • Filed under: Salam
  • Selamat untuk Persebaya

    Sejak LIGINA I saya tak pernah absen untuk mengikuti jalannya Liga Indonesia. Dari Liga Dhunhill Indonesia yang disingkat LDI dan biasa di plesetkan dengan Liga Dagelan Indonesia karena banyaknya muatan dagelan disana. Itu adalah sepanjang pengamatan saya, LDI I adalah paling ndagel diantara LIGINA yang pernah di gelar. Bagaimana tidak? Kesuksesan skenario Maung Bandung untuk menjegal Petrokimia dalam laga final adalah sama persis dengan penjegalan salah satu klub (aku lupa namanya, MBR apa PKT atau apa ya) saat di perempempat final. Skenarionya adalah sebuah gol Jacksen di anulir karena berbau offset, dan seorang pemain di kartu merah. Hmm barangkali kalau gol dianulir lantas seorang pemain di kartu merah hanya pada pertandingan Petrokimia Putra saya masih maklum. Tetapi kejadiannya dua kasus, dan kasusnya sama persis, sehingga saya selalu ingat yang namanya Liga Dagelan Indonesia I. Hingga saat itu Petrokimia Putra mendapat gelar Juara tanpa Mahkota.

    Di sini saya bukannya membenci Maung Bandung, sayapun angkat topi juga dengan perjuangan Maung Bandung karena saat LIGINA I kalau tak salah, merupakan club yang tak ada pemain asingnya sama sekali, semuanya pemain lokal dan bisa menjuari LIGINA. Tetapi saya sangat menyesalkan nonteknis - nonteknis di belakang semua itu, ya seperti itulah apa yang saya rasakan. Jual Beli Skor, mafia wasit, dan yang pasti saya tak tahu siapa yang bermain di belakang itu semua. Bisa jadi benar - benar dari club-nya dan bisa juga dari para tukang judi yang bertaruh. Semuanya bisa mungkin. Tetapi syukurlah dengan adanya program pemberantasan Mafia Wasit dewasa ini, semoga saja kejadian - kejadian seperti di LIGINA I tidak terulang lagi.

    Kembali ke LIGINA X yang perhelatan besarnya, puncak diantara pertandingan yang digelar di selenggarakan di Surabaya. Bagaimana tidak, Macan Kemayoran hanya membutuhkan seri melawan Peserbaya untuk menjuarai LIGINA X tersebut, ternyata harus mengakui kehebatan penjaga gawang Hendro Kartiko, dengan sekor tipis 2-1. Pertandingan yang saya tunggu - tunggu tayangannya sejak jam 15.30 di ANTV itu harus molor 1 jam karena hujan yang demikian derasnya. Sejak menit - menit awal saya sudah optimis Peserbaya bakal memenangi pertandingan tersebut karena daya serangnya yang luar biasa, sedangkan Macan Kemayoran kebingungan untuk membagi dan membawa bola. Ujung - ujungnya 5 menit kemudian Danilo Fernando mampu mejebol gawang Persija lewat tendangan kerasnya di luar kotak penalti. Plong rasanya. Namun sejak terciptanya gol tersebut justru kondisi berbalik arah, permainan Persija patut diacungi jempol, sedangkan Persebaya tampil buruk sekali, kebingungan membawa bola dan saya jadi pesimis peserbaya bisa memenangi pertandingan ini. Ketakutan saya terbukti dengan gol bunuh diri Mat Halil pada awal - awal babak ke 2. Namun untunglah 3 menit kemudaian Luciano Saoza (enggak tau bener apa tidak nulisnya) karena pemain ini banyak dibangku cadangkan, mampu menyelamatkan muka Mat Halil dengan tandukan kepalanya, sekaligus menjadi gol penentu kemengangan peserbaya sebagai Juara LIGINA X atau sebagai pemenang Piala Presiden yang ke 2.

    Dalam pertandingan kemarin Man of The Match saya berikan pada Hendro Kartiko yang harus jungkir balik untuk menyelamatkan gawangnya, sehingga walau serangan dari persija datang secara bergelombang dan bertubi - tubi mampu di tepis pejaga gawang kelahiran Banyuwangi ini. Pemain yang saya saluti adalah Danilo Fernando, karena senyumnya dalam setiap pertandingan, saya tak pernah melihat ada pemain yang selalu menebar senyum walau di jegal, menjegal, terlanggar, pokoknya senyum terus dan kemampuannya mengatur bola - bola. Sedangkan pemain yang Pemarah positip :D adalah Budi Sudarsono dari Persija. Karena membela Peserbaya banyak di bangkucadangkan akhirnya sejak di pinjam Persija hingga memengangi LIGINA berapa ya aku lupa, ia menunjukkan kelasnya bahwa dirinya tidak sepatutnya dibangku cadangkan.

    Akhirnya saya mengucapkan selamat untuk Peserbaya yang sukses membawa piala Presiden ke Surabaya, atau masih bertahannya piala Presiden di Jawa Timur? Ya.. semoga kemenangan ini tidak membuat terlena dan melupakan bahwa tahun depan masih ada LIGINA XI.

  • 0 Comments
  • Filed under: Curhat
  • Selamat Untuk Kakakku…..

    Sejak Kamis Sore wajahku mendadak tegang, pikiran buthek, bingung sendiri. Bukannya apa, melainkan saat dihubungi kakak kadungku bahwa kakak iparku di bawa ke sebuah rumahsakit ibu anak. Yang membuat saya deg - degan yaitu proses kelahirannya yang dipaksakan. Berhubung tekanan darah kakak iparku tidak normal, akhirnya bayi kecil yang belum waktunya lahir itu di rangsang supaya keluar, sehingga tiap 3 menit sampai 5 menit sekali harus menahan sakit yang luar biasa. Melihat hal itu sampai badannya kakakku terasa sakit semua, dan saya yang di rumah tidak diperkenankan untuk membantu menunggu. Katanya kakakku, aku nggak bakalan tega untuk melihat kakak ipar yang mengerang penuh kesakitan. Ya, sudah akhirnya aku cuman memberi pesan, kalau butuh teman njaga saya siap setiap saat, dan dari rumah cukup mendoakan saja.

    Namun satu setengah hari menahan sakit yang luar biasa tersebut, berjuang diantara hidup dan mati, adik kecil belum juga keluar, tepatnya jumat malam keluarga yang menunggu sudah tiada tega. Akhirnya diputuskan untuk operasi cesar. Tidak kurang setengah jam operasi itupun selesai, dan seorang bayi mungil lahir kedunia. Berbobot 3 kg, sampai saat saya nulis cerita ini, bayi lelaki cakep tersebut belum diberi nama. Wih lucu loh, pipinya “nyempluk”, kulitnya kalau nggak putih ya sawo mateng, karena nggak kelihatan, dan mbethik banget. Waktu baru di angkat dari rahim marah - marah nangis keras, dan suster yang mengangkat langsung di siram dengan “air“-nya. Ha… ha.. ha.. Tetapi bener cakep banget.

    Baru Sabtu siang saya bisa menjenguk. Ternyata eh ternyata Pak Shulton yang dulu kawan kakak saya di masjid kampus dan kawan kontrakan saat zaman school, istrinya juga melahirkan bayi yang kedua. Operasi juga, dan telah mendapat momongan seorang putri. Setelah ketemu Pak Sulthon saya kasih “guyonan”, “Bagaimana pak kalau besanan*) saja ?” Pak Sulthonpun tertawa. Tetapi ponakan baruku itu sejak dalam kandungan kalau tak salah sudah di pesan beberapa akhwat :D ha.. ha.. ha.. (bercanda)

    Ya.. Selamat untuk kakakku dan Pak Sulthon yang telah mendapatkan momongan, semoga anak - anak yang dilahirkan lucu, cerdas, sholeh dan sholehah, berguna buat agama, bangsa dan bisa memuliakan keluarga.

    Hmm begitu beratnya orang tua mengandung dan melahirkan kita. Berjuang diantara hidup dan mati. Tetapi kalau sudah sebesar ini “mbethik“-nya bukan main. ha.. ha.. ha.. Makanya nggak bakalan berani - berani lagi sama orang tua :)

    catatan :
    nyempluk = pipinya besar dan lucu.
    besanan = orang tua dari keluarga berbeda yang saling menikahkan anaknya.
    mbethik = menjengkelkan, ndableg.

    kank_agus
    sedang mrogram web site pribadi :D, wach sulit juga programing itu, kalau biasanya mintak bantuan mybrother sekarang kelihatannya mesti nyoba - nyoba programing sendiri. ngedel - ngedel ABS (open source weblog-nya mybrother)

  • 2 Comments
  • Filed under: Curhat
  • Barangkali untuk sementara waktu webnya belum dapat di upadate karena sedang ngerjakan web baru, yach biar managenemetnya tidak semrawut seperti sekarang ini. Misalkan saya “nemu” cerita islam yang bagus, maka saya bisa langsung upload dan tidak usah meng-generate- ke html untuk di upload di geocities, belum lagi membuat linknya… Wah memakan waktu yang tidak sedikit. Belum lagi juga kalau internetnya berjalan “senin - kemis” (=baca berjalan lambat), menambah semangat ini menjadi kendor.

    Akhirnya bismillah, membuat home page lagi, insya Allah designnya sudah jadi. tinggal menambahi programnya dan di upload. Sementara waktu selama belum ada biaya ini numpang dulu di servenya mybrother he.. he.. he.. Dua hari full membuat design, yang terlama adalah mengkombinasi warna dan besar font. Yach.. apapun hasilnya, entah itu jelek tetapi itulah design saya selama dua hari full. Sudah barang tentu kalau webnya dapat dilihat kalau semuanya sudah jadi. Saya tidak mau ada prelaunching atau underconstructionnya :D, pokoknya semuanya sudah harus beres baru di upload.

    Eh iya belum lagi convert database yang lama ke yang baru. Sehingga tidak ayal lagi barangkali memakan waktu yang tidak pendek.

    Kalau dulu saya punya “produk unggulan” liriknasyid untuk menarik antum semua sudi berkunjung ke my web, tetapi sekarang sudah saya pisah, biar liriknasyid menjadi milik semua, seperti konsep demokrasi di PPKn saat SD dulu, dari antum oleh antum dan untuk antum :), maka sekarang sedang berfikir produk apa ya yang bisa saya berikan buat antum semua, yach yang jelas bermanfaat, bisa dinikmati banyak orang, tidak terlalu menyita waktu saya dan berukuran kecil atau mudah di download sehingga tidak menghabiskan bandwidth.
    Entah itu saya gelondor dengan karaoke midi, atau doa - doa harian, ataupun aplikasi 2 kecil masih belum terfikirikan :D

    Mengenai konsepnya saya memilih bentuk web pada umumnya, bukan bentuk weblog yang hanya satu lembar, karena ia-nya kurang manusiawi, (afwan weblogger), saya katakan demikian karena di indonesia kecepatan internetnya kurang seberapa bagus, sehingga untuk sebuah weblog yang dibuat hanya satu lembar dengan image yang besar - besar, waduh membuatsaya kadang males untuk membukanya.

    Sehingga kalau ada sebuah konsep yang membuat saya saja kadang males menunjunginya kenapa saya tidak membuat bentuk web yang saya menjadinyaman mengunjunginya :). Minimal diri saya senang, boleh jadi orang lainpun akan senang dan sudi bermain dan berlama - lama di my web

    Doakan ya!

  • 3 Comments
  • Filed under: Salam
  • Buku Merah Tua, Catatan Sebuah Diary Lama

    Tumpukan buku begitu banyak, text book dan kertas bertumpuk meninggi. Rasanya sangat “eman” untuk diloakkan, tetapi di tumpuk juga untuk apa? Akhirnya daripada menggunung rencananya sebagian saya titipkan ke laboratorium optik jurusan, barangkali ada yang membutuhkan untuk referensi. Kadang senyum - senyum sendiri saat tangan ini meraih album - album kenangan dari pelatihan. Berhenti sebentar terus baca - baca komentarnya teman - teman pelatihan.

    Eh, mendadak pandanganku menatap sebuah diary tebal dan kumal yang dulu seringkali saya gunakan untuk nulis - nulis. Ya, sebelum saya kenal web ini, disitulah ada beberapa coretan - coretan kata, Pokoknya buku campur aduk. Nemu resep masakan saya masukkan, ada doa yang pass saya masukkan, bahkan kalau ada kajian catatannya juga disitu. Gado - gado lah. Namun bentuknya bukan seperti diary pada umumnya melainkan macam buku kerja. Ada notulen - notulen rapat, ada coretan rencana suatu kegiatan bahkan sampai catatan keuangannya. Ada chord nasyidnya. ha.. ha.. ha.. Makanya kumal mal.. mal…

    Aku biarkan kertas - kertas tidak berguna yang sedianya mau dibuang berceceran, sambil mendengarkan lagu - lagunya NowSeeHeart yang terputar di PC, tanganku masih asyik membolak balik diary merah tua itu. Hmmm kadang senyum - senyum kecil. Di bagian sampul depan dalam terdapat sebuah kantong kecil, biasanya dulu untuk menyusupkan uang kertas, atau catatan kecil lainnya. Aku coba memungut sebuah kertas yang sudah usang pula. Aku bersihkan dari kotoran debu. Aku terkejut banget, tulisan mungil inipun kok masih ada. :D

    Agak remang - remang tulisan tangan dari bolpoint hitam itu aku baca,

    “Apa benar anda Agus Waluyo ? Yang di SKI SMUN I Durenan.”

    NamaPengirim
    “(031)XXXXXXX”

    (maaf sebagian disensor, bukan konsumsi umum :) )

    Anganku langsung melayang ke masa - masa dulu (flash back)

    Pada suatu ketika saya naik kereta api ekonomi jurusan Tulungagung - Surabaya dan duduk satu meja dengan seorang akhwat, yang saya tidak mengenalnya sama sekali. Sekedar diketahui walau satu meja tetapi saya dan akhwat itu tidak berhadap - hadapan, karena satu meja tersebut diisi 6 orang , saya duduk dekat jendela sedangkan akhwat tadi duduk di dekat lorong gerbong. Kayaknya sih akhwat itu adalah satu smu sama aku tetapi berlainan kelas. Ah mau nyapa juga nggak seberapa familier, kalau benar? Kalau salah bisa muka pucat sampai Surabaya. Ya sudah, biarkan saja, lagian kalau itu akhwat yang satu SMU denganku, semasa SMU pun saya juga nggak akrab, artinya saya sendiri nggak tau siapa namanya dan tidak pernah berinteraksi sama sekali. Kan susah juga nyapanya. Hmm paling - paling bukan. AKhirnya sayapun memutuskan untuk diam seribu bahasa, hanya ditanganku terbawa kumpulan cerita - cerita lucu untuk mengendorkan syaraf karena perjalanan yang bagi saya lumayan melelahkan.

    Nah akhirnya sampai juga di Stasiun Wonokromo Surabaya berarti kurang satu stasiun lagi yaitu Stasiun Gubeng saya turun. Akhwat tadi mengucapkan salam dan menyerahkan secarik kertas. Sayapun yang nggak begitu memperhatikan sempat terkaget - kaget (=terkejut), menjawab salamnya dan bertanya balik, “Anti yang di SMU Durenan dulu ya?” Hmm akhwat tadi cuman tersenyum (nggak tau penuh makna apa tidak senyumnya :p ), dan balik kanan untuk selanjutnya turun dari kereta, sementara saya masih terbengong - bengong :o, dan mebuka secarik kertas yang tertulis diatas.

    Alkisah nich ya, dulu saya punya seorang teman yang lumayan baik, namun berlainan kelas.  Teman tersebut bukanlah teman ngaji tetapi hanya teman smu biasa. Nah teman saya itu ngefans banget sama seorang temen putri dikelasnya. Waktu itu temen putri itu belum berjilbab, tetapi anaknya (kelihatannya) sopan, ramah, baik hati, suka menolong, lumayan cakep dan gemar menabung lagi :D. Saya sendiri tidak seberapa ngeh (=paham) Saya tidak tau pasti apakah keduanya pada akhirnya “jadian” apa tidak. Tetapi isu - isu yang berkembang seperti itu. Nah kabar selanjutnya, waktu kelas tiga teman putri ini memanjangkan pakaiannya dan menyembunyikan rambutnya alias berjilbab. Beberapa bulan kemudian akhirnya kamipun lulus smu, dan pada melanjutkan study di surabaya, beda universitas dan sudah tidak tahu kabar satu sama lain.

    Tahun ke dua saya kuliah itulah baru ketemu dengan akhwat yang di sukai teman saya tadi, karena sesampai di Surabaya saya hubungi nomor telephone yang ditinggalkan tersebut dan ternyata benar akhwat tadi adalah akhwat yang disukai teman smuku dulu, dan sejak saat itu saya tidak pernah menghubungi lagi, hanya kemudian sekali bertemu saat kunjungan antar LDK, itupun dibalik hijab, dan tidak membicarakan yang aneh - aneh. Ya.. sekedar “say hallo” atau saling menyapa.

    Dari seorang kawan smu yang lain yang juga kuliah di Surabaya menceritakan kalau temen smu saya yang saya ceritakan diatas itu masih suka dengan temen akhwat itu dan sampai sekarang (saat itu) masih sangat mengharap - harapkan agar cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Namun nich namun, masih menurut cerita kawan kedua yang lain itu Si Akhwat meminta dengan sangat agar teman pertama saya itu ikut kajian di kampus atau liqo. Tapi saya tidak bertanya mendetail apakah kalau ikut kajian baru diterima apa tidak, atau si akhwat mengharap kalau teman saya itu ikut ngaji lantas biar mengerti kalau jalan mereka itu kurang benar saya tak tahu pasti karena hal itu bukanlah kepentingan saya … :D. Namun karena kawan saya itu “mokong” (=tak mau juga ikut kajian) cerita selanjutnya Si Akhwat ini cenderung menjauh, dan pada akhirnya sesuatu yang sangat tidak diharap - harapkan kawan saya itu terjadi juga. Kabar terakhir (dua tahun yang lalu) bahwa akhwat tersebut sudah di nikah seniornya. Kabar - kabarnya pilihan murobbi bro! :D

    Saya justru kasihan sama teman pertama saya, stress berat. Sampai - sampai kabar terakhir (setahun kemarin) teman saya ini jadi sering ke diskotik, dan narkoba adalah salah satu konsumsinya. Ya kalau kejadiannya begini hampir serperti di sinetron “Beginilah cinta, deritanya tiada akhir” :)), (tetapi saya nggak tahu pasti semoga saja berita salah yang saya dengar).

    Untuk itulah kalau kagum (=baca menyukai) terhadap lawan jenis ada baiknya menyukai biasa saja, karena belum tentu yang sangat kita harap - harapkan akan menjadi kenyataan. Jodoh, umur, rejeki adalah karunia Allah. Kita tidak tahu apa keinginan Allah, kita hanya bisa berusaha dan Allah pasti memberikan yang terbaik buat makhluk - makhluknya.

    “Gus, punya jemuran nggak !!!!! Mau hujan deras nich!!!” Teman kamar sebelah berteriak membuyarkan lamunanku, dengan cepat aku selipkan kertas kumal itu ke saku diary merah dan ku tutup untuk kemudian keluar kamar menyelematkan barang - barang yang harus diselamatkan.

  • 2 Comments
  • Filed under: Curhat
  • Pesan


    dues
    ass kang.... blognya bagus kaleee.... saya kagum...

    rezha
    Halooo pak... niki kulo rezha, murid smp muhamm...

    zha
    numpank lwt...ga sngaja nemu web in,eh isix bgs bg...

    yugo
    menebar senyum merajut ukhuwah diganti poo dengan ...

    firdaus
    thanks TANGGAPAN: sama-sama...

    Kalender

    Nopember 2008
    S S R K J S M
    « Okt    
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930