@GUSW’s Personal Sites

menebar SENYUM merajut UKHUWAH

Archive for the ‘Doa & Hadits’ Category

Ayat – ayat Qur’ani, hadits – hadits Nabi dan doa – doa ringkas berikut ini dapat dibaca untuk menolak bala yang terjadi dan mengobati berbagai macam penyakit yang timbul dengan izin Allah Ta’ala. Disamping itu, kita perlu membiasakan diri melakukan amalan – amalan dan membaca dzikir – dzikir Ruqyah sebelum bala tersebut terjadi. Dan sebagai tambahan dalam pengobatan suatu penyakit tertentu, hendaknya seorang pengobat merujuk kembali kepada buku – buku atau referensi – referensi yang valid yang membahas hal tersebut.

A. Ayat – ayat Qur’ani (terdiri dari 64 ayat):

(1)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ • اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ • اَلرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ • مٰلِكِ يَوْمِ الدِّينِ • إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ • اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ • صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّاۤ لِّيْنَ • الفاتحة:١-٧

(1)Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (2) Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, (3) Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, (4) Yang menguasai hari pembalasan. (5) Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan (6) Tunjukilah kami jalan yang lurus, (7) (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (Al-Fatihah:1-7)

(2)

الۤـمّۤ • ذٰلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ • الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ • وَالَّذِينَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَآ أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَآ أُنْزِلَ مِن قَبْلِكَ وَبِا ْلآخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَ • أُوْ لٰئِكَ عَلٰى هُدًى مِّنْ رَّبِّهِمْ وَأُولٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ • البقرة :١-٥

(1)Alif Laam Miim.(2) Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,(3) (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka,(4) dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.(5) Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung. (Al-Baqarah: 1-5)

(3)

اللّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاء وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ وَلاَ يَؤُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ• البقرة : ٢٥٥

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (Al-Baqarah: 255)

(4)

لِلَّهِ ما فِي السَّمَاواتِ وَمَا فِي الأَرْضِ وَإِن تُبْدُواْ مَا فِي أَنفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُم بِهِ اللّهُ فَيَغْفِرُ لِمَن يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَن يَشَاءُ وَاللّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ • آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللّهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ وَقَالُواْ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ • لاَ يُكَلِّفُ اللّهُ نَفْساً إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْراً كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ • البقرة : ٢٨٤-٢٨٦

(284)Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.(285) Rasul telah beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat”. (Mereka berdoa):“Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali”.(286) Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo`a): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”. (Al-Baqarah: 284-286)

(5)

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ • اۤل عمران : ٨٥

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidak-lah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (Ali Imran : 85)

(6)

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُواْ لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَاناً وَقَالُواْ حَسْبُنَا اللّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ • فَانقَلَبُواْ بِنِعْمَةٍ مِّنَ اللّهِ وَفَضْلٍ لَّمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ وَاتَّبَعُواْ رِضْوَانَ اللّهِ وَاللّهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ • اۤل عمران : ١٧٣ – ١٧٤

(173) (Yaitu) orang-orang (yang menta’ati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”. (174) Maka mereka kembali dengan ni’mat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Ali Imran : 173-174)

(7)

وَإِن يَمْسَسْكَ اللّهُ بِضُرٍّ فَلاَ كَاشِفَ لَهُ إِلاَّ هُوَ وَإِن يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ • الأنعام : ١٧

Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu. (Al-An’am : 17)

(8)

إِنَّ رَبَّكُمُ اللّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثاً وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلاَ لَهُ الْخَلْقُ وَالأَمْرُ تَبَارَكَ اللّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ • الأعراف : ٥٤

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam. (Al-A’raf : 54)

(9)

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاء وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ وَلاَ يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إَلاَّ خَسَاراً • الإسراء : ٨٢

Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. (Al-Israa’ : 82)

(10)

قُلِ ادْعُواْ اللّهَ أَوِ ادْعُواْ الرَّحْمَنَ أَيّاً مَّا تَدْعُواْ فَلَهُ الأَسْمَاءُ الْحُسْنَى وَلاَ تَجْهَرْ بِصَلاَتِكَ وَلاَ تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلاً • وَقُلِ الْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَداً وَلَم يَكُن لَّهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُن لَّهُ وَلِيٌّ مِّنَ الذُّلِّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيراً • الإسراء : ١١٠-١١١

(110) Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu”. (111) Dan katakanlah: “Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya. (Al-Israa’ : 110-111)

76-89

  • 0 Comments
  • Filed under: Doa & Hadits
  • Pada dasarnya Ruqyah itu bertujuan untuk menolak bala sebelum terjadi. Untuk itu diperlukan adanya beberapa bentuk dzikir, doa dan amal – amal shaleh, yang apabila diamalkan oleh seorang muslim akan menjadi sebuah benteng yang dapat melindungi dirinya dari bahaya sihir, penyakit ‘ain, penyakit jiwa dan penyakit – penyakit hati yang lain dengan izin Allah SWT, diantaranya;

    1. Menunaikan seluruh kewajiban yang dibebankan khususnya shalat berjamaah di masjid.
    2. Menjauhkan diri dari segala bentuk perbuatan haram, kemaksiatan dan bertobat.
    3. Memperbanyak bacaan Al-Qur’an.

    32

    4. Membaca dzikir pada pagi hari dan sore hari.

    33

    5. Membaca kalimat Laa Ilaaha Illa Allahu Wahdahu Laa Syariika Lahu, Lahu Al-Mulku Wa Lahu Al-Hamdu Wa Hua ‘Alaa Kulli Syaiin Qadiir (sebanyak seratus kali).

    34

    6. Senantiasa membaca dzikir – dzikir berdasarkan waktu dan keadaan tertentu.
    7. Hendaklah setiap muslim selalu mengucapkan Bismillah setiap kali ia ingin melalukan pekerjaan apa saja, agar dengan itu ia mengusir syetan dan melindungi dirinya dari gangguannya. Sebab berapa banyak manusia yang sering terganggu syetan karena ia lupa mengucapkan kalimat itu !
    8. Membentengi diri dengan membaca doa – doa yang berasal dari Nabi, diantaranya;

    a. Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW jika hendak tidur di malam hari, beliau senantiasa menadahkan kedua telapak tanggannya lalu membaca Surat Al-Ikhals, Al-Falaq dan An-Naas. Kemudian beliau mengusapkan kedua telapak tangannya ke bagian tubuh yang dapat terjangkau, dimulai dari atas kepala kemudian ke wajah dan ke seluruh bagian depan badannya. Hal itu beliau lakukan sebanyak 3 kali.

    35

    b. Sabda Rasulullah SAW :

    مَنْ قَالَ فِي أَوَّلِ يَوْمِهِ أَوْفِي أَوَّلِ لَيْلَتِهِ : بِسْمِ اللهِ الَّذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْئٌ فِي الأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

    Barangsiapa yang membaca: “Dengan nama Allah, maka segala sesuatu yang berada di bumi dan di langit tidak mampu mendatangkan mudharat, dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” di awal malam dan di awal pagi sebanyak tiga kali, maka ia akan terhindar dari segala bahaya pada pagi dan malam itu.

    36

    c. Sabda Rasulullah SAW :

    إِذَا نَزَلَ أَحَدُ كُمْ مَنْزِلاً فَلْيَقُلْ أَعُوْذُبِكَلِمَاتِ اللهِ التَّا مَّةِ مِنْ شَرِّ مَاخَلَقَ، فَإِنَّهُ لاَ يَضُرُّهُ شَيْئٌ حَتَّى يَرْ تَحِلَ مِنْهُ

    ”Jika salah seorang diantara kalian mampir di sebuah rumah, hendaklah ia mengucapkan; Aku berlindung dengan nama Allah yang sempurna dari segala bentuk kejahatan makhluk-Nya, maka ia tidak akan terkena bahaya apapun juga sampai ia meninggalkan rumah tersebut.”

    37

    d. Hendaklah anak – anak dilindungi (secara khusus), seperti ketika Rasulullah SAW memohon perlindungan untuk Hasan dan Husein dengan membaca :

    أُعِيْذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّا مَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَ هَا مَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ

    “Dengan menyebut kalimat Allah yang sempurna, aku memohon perlindungan untuk kalian berdua dari godaan syaitan dan dari tatapan mata yang memancarkan sihir.”

    38

    Saudaraku sesama muslim dan muslimah !
    Hendaklah kiranya kita senantiasa mengamalkan dzikir – dzikir dan amalan – amalan tersebut diatas, agar kita dapat terhindar dari berbagai penyakit jiwa dan raga, tentunya dengan izin Allah Ta’ala.

    ––—––—––—-–

    32

    Sebaiknya setiap muslim membaca seperempat juz setiap hari. Jumlah itu kemudian ia tambah setiap bulannya lembar demi lembar sampai mencapai target satu juz per hari.

    33

    Andaikan setiap muslim mengetahui pahala besar yang ada di balik dzikir pagi dan petang, serta pengaruhnya yang besar dalam melindungi diri dari kejahatan syetan, berbagai peristiwa buruk serta musibah – musibah keduniaan, tentulah ia tidak akan meninggalkannya walau hanya sehari.

    34

    Siapa yang mengucapkan seratus kali setiap hari sebagaimana tertera dalam hadits: “Maka itu sama dengan memerdekakan sepuluh budak, dan dicatat baginya seratus pahala serta dihapus darinya seratus dosa, dan itu akan menjadi benteng baginya dari gangguan syetan pada hari itu sampai petang hari dan tak seorangpun yang dapat melakukan kebaikan yang lebih baik dari itu kecuali seorang laki – laki yang mengucapkannya lebih banyak.” Muttafaq Alaih (disepakati Bukhari Muslim)

    35, 37

    HR. Muslim

    36

    HR. Ahmad, Shahih Ibnu Majah: 2/233

    38

    HR. Bukhari

    Bersambung..  (SJRCI-SB) XII. Ruqyah Untuk Menolak Bala Setelah Terjadi.

    64-75

  • 0 Comments
  • Filed under: Doa & Hadits
  • Saudara tercinta, jika Anda termasuk orang yang merasa puas dengan manfaat dan kepentingan Ruqyah dalam kehidupan Anda, maka dapat dengan demikian Anda tidak perlu mendatangi seseorang untuk meruqyah Anda. Karena Anda dapat meruqyah diri sendiri. Dan ternyata ini lebih baik ditinjau dari beberapa aspek:

    Pertama, diantara ciri – ciri kesempurnaan tawakkal kepada Allah SWT adalah Anda tidak meminta kesembuhan dan kesehatan kecuali dari Allah SWT; karena hal ini merupakan salah satu bentuk doa.

    Kedua, bahwa Ruqyah yang dilakukan oleh seseorang terhadap diri sendiri, mengandung nilai keikhlasan dan keyakinan yang lebih baik, dalam menyandarkan harapan kepada Allah serta tunduk kepada-Nya. Disamping manfaatnya lebih besar, kesembuhan juga akan datang lebih cepat dengan izin Allah.

    Ketiga, keberadaan diri dokter Anda tidak terbatas, ia akan hadir kapan saja Anda butuhkan, siang ataupun malam. Sementara itu, keberadaan para ahli Ruqyah justru sangat terbatas dimana mereka hanya meluangkan waktu – waktu tertentu saja untuk meruqyah orang lain dan mereka tidak menginginkan peraturan ini dilanggar. Disamping itu, mendatangi para ahli Ruqyah dapat menimbulkan kesulitan terhadap diri sendiri, menambah kesibukan, membuang – buang waktu dan membutuhkan materi. Namun dalam kondisi tertentu yang mengharuskan kita untuk mendatangi mereka, hal itu tidak menjadi masalah.

    64-66

  • 0 Comments
  • Filed under: Doa & Hadits
  • (SJRCI-SB) XI. Inilah Gejala – Gejalanya

    Inilah beberapa gejala yang menandai bahwa seseorang membutuhkan Ruqyah Syariah. Mungkin hanya sebagiannya atau bahkan hanya satu, tapi terlihat jelas dalam keadaan terjaga atau tertidur, dengan cara yang tidak lazim. Misalnya terjadi berulang kali atau memiliki pengaruh yang kuat.

    Ada sebuah catatan penting yang perlu diingatkan disini. Bahwa penyebutan gejala – gejala ini tidaklah dimaksudkan untuk menyebarkan kecemasan ke dalam diri seseorang sebagaimana itu mungkin diduga oleh banyak orang. Gejala – gejala itu harus kami sebutkan setidaknya untuk dua tujuan;

    Pertama, agar manusia mensyukuri Tuhannya jika ternyata gejala – gejala itu tidak terdapat dalam dirinya. Karena selamat dari penyakit – penyakit ini adalah sebagian dari karunia Allah yang sangat banyak, yang harus disyukuri.

    Kedua, Jika ternyata sebagian dari gejala itu terdapat dalam diri seseorang, dan ia ingin mengobatinya atau mengobati orang lain, hendaklah ia melakukannya dengan Ruqyah Syariah. Ia tidak boleh menggunakan bantuan sihir, dukun, dan semacamnya yang bersifat syirik.

    Sekarang marilah kita melihat gejala – gejala yang menandai adanya penyakit rohani dalam diri seseorang;
    => Enggan melakukan dzikir dan ibadah.
    => Menderita sakit kepala secara kontinyu tanpa sebab yang jelas.
    => Marah secara berlebihan dan kehilangan kontrol diri baik dalam mengekspresikan perasaan maupun dalam bertutur kata.
    => Pikiran sering menerawang dan tidak mampu konsentrasi.
    => Menjadi pelupa dengan cara yang tidak lazim
    => Lesu di sekujur tubuh yang disertai rasa malas dan kelemahan fisik.
    => Susah tidur (insomnia) an tidak mudah pulas dan nyenyak dalam tidur.
    => Selalu merasa cemas dan sedih.
    => Sering mimpi buruk dan ketindihan.
    => Rasa malu dan minder yang berlebihan serta cenderung menyendiri.
    => Semua penyakit pada bagian tertentu dari tubuh yang sudah diobati dalam waktu lama, tapi tidak kunjung sembuh.

    31

    31

    “Dalil Al-Mu’alijiin bi Al-Qur’an Al-Kariim,” Riyadh Muhammad Samahah, hal: 14.

    59-63

  • 0 Comments
  • Filed under: Doa & Hadits
  • Pertanyaan ini penting untuk dijawab. Sebab mungkin ada diantara kita meruqyah (menjampi) dirinya atau orang lain, namun tidak menampakkan pengaruh yang nyata atau kesembuhan yang cepat. Maka pada saat itu terbersit keraguan dalam dirinya akan manfaat yang ditimbulkan oleh Ruqyah tersebut, kemudian ia jadi bertanya – tanya. Kenapa kata – kata orang yang meyakini manfaat Ruqyah ini tidak terbukti? Padahal aku telah meruqyah (menjampi) diriku? Namun belum terlihat tanda – tanda kesembuhan pada penyakitku dan kondisi tubuhku juga tidak mengalami kemajuan yang berarti?

    Menjawab keraguan – keraguan seperti ini, Ibnul Qayyim mengatakan :

    “Dalam problema ini yang perlu dicermati adalah, bahwa sesungguhnya ayat – ayat Qur’ani, dzikir – dzikir, doa – doa dan permohonan perlindungan yang digunakan untuk memohon kesembuhan dan Ruqyah dengan sendirinya mampu memberi manfaat serta kesembuhan. Namun ia memerlukan kepercayaan orang yang diruqyah (dijampi) dan kekuatan jiwa orang yang meruqyah serta pengaruh kepribadiannya. Maka apabila datangnya kesembuhan itu terlambat, penyebabnya adalah kelemahan pengaruh pribadi orang yang meruqyah, atau tidak adanya kepercayaan orang yang diruqyah atau kuatnya intensitas penghalang yang merintangi keberhasilan kerja obat. Sebab keberhasilan pengobatan dengan Ruqyah tergantung pada dua sisi: Sisi pribadi orang yang sakit dan sisi kepribadian orang yang mengobati. Adapun dari sisi pribadi orang yang sakit tergantung pada : kekuatan jiwanya serta kepasrahannya kepada Allah Ta’ala, keyakinannya bahwa Al-Qur’an adalah obat penyembuh serta rahmat bagi orang – orang mukmin, dan permohonannya benar serta meresap baik ke dalam lidah maupun hatinya. Dengan demikian proses kesembuhan dengan Ruqyah ini menyerupai sebuah perang yang tengah bergolak dimana orang – orang yang berperang tidak akan memperoleh kemenangan tanpa melalui proses tersebut dengan syarat; senjata yang digunakan berkualitas baik serta layak pakai dan pengguna senjata itu adalah orang kuat dan berani. Jika salah satu dari kedua syarat itu tidak ada, senjata sebaik apapun tidak akan berguna. Maka bagaimana pula jika kedua syarat itu tidak ada sama sekali? Yaitu keadaan dimana hatinya hampa dari tauhid, tawakkal, takwa dan ketundukan, selain bahwa ia tidak punya senjata. Adapun dari sisi pengobat yang menggunakan Qur’an dan Sunnah, maka kedua syarat itu juga berlaku baginya.”

    29

    Syarat – Syarat Ruqyah :
    1) Ruqyah itu haruslah dengan Kalam Allah, atau nama – nama dan sifat – sifat-Nya, atau dengan Sunnah Nabi SAW.

    2) Hendaknya diucapkan dalam bahasa Arab yang fasih atau dengan apa yang dapat diketahui artinya.

    3) Pelaku Ruqyah harus yakin bahwa Ruqyah itu tidak dengan sendirinya berpengaruh, tapi harus dengan izin dan takdir Allah SWT.

    4) Ruqyah tidak boleh dilakukan dalam suatu keadaan yang haram atau bid’ah. Misalnya melakukannya di kamar mandi, atau kuburan, atau mengkhususkan waktu tertentu untuk meruqyah, atau melakukannya saat memandang ke bintang – bintang, atau ketika peruqyah dalam keadaan junub, atau peruqyah mengharuskan orang yang diruqyah dalam keadaan junub.

    5) Ruqyah tidak boleh dilakukan oleh tukang sihir, dukun dan peramal.

    6) Ruqyah tidak boleh mengandung ungkapan – ungkapan atau simbol – simbol haram karena Allah tidak menyimpan obat dalam simbol yang haram.

    30

    (bersambung….. )
    » Judul selanjutnya Inilah Gejala – Gejalanya

  • 0 Comments
  • Filed under: Doa & Hadits
  • Boleh jadi ada yang bertanya : “Apakah Ruqyah tidak menafikan tawakkal dan keharusan bersabar menerima takdir Allah?”

    Pertanyaan itu secara ringkas dapat dijawab dengan mengatakan bahwa Ruqyah tidak menafikkan tawakkal kepada Allah SWT, sebagaimana itu dinyatakan oleh sekelompok ulama seperti Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim dan Sulaiman bin Muhammad bin Abdul Wahhab.

    25

    Ibnu Taimiyah misalnya mengatakan :
    “Apabila seseorang melakukan Ruqyah bagi dirinya atau orang lain, maka itu tidak menafikan tawakkal kepada Allah. Sebagaimana itu di tegaskan oleh Rasulullah SAW. Yang menafikan kesempurnaan tawakkal adalah jika dia meminta Ruqyah dari manusia, sebagaimana itu dijelaskan dalam hadits Rasulullah SAW tentang 70 ribu orang yang akan masuk surga tanpa hisab, yang diantara ciri – cirinya adalah : bahwa mereka tidak meminta Ruqyah; maksudnya tidak meminta Ruqyah dari manusia (yang tidak bersumber dari Qur’an dan Sunnah -pent)”

    26

    Sementara itu Syekh Sulaiman bin Abdullah Wahhab mengomentari hadits tersebut dengan mengatakan :
    “Ketahuilah bahwa hadits itu tidak berarti bahwa mereka tidak mengambil sebab – sebab kesembuhan yang sesungguhnya, sebagaimana ini mungkin diduga oleh orang – orang pandir. Karena mengambil sebab – sebab kesembuhan secara umum merupakan dorongan fitrah yang sudah lazim dan tidak mungkin ditinggalkan oleh seseorang. Bahkan oleh binatang ternak sekalipun. Dan bahwasanya tawakkal itu sendiri merupakan sebab kesembuhan yang paling besar, sebagaimana Allah menyatakan itu dalam firman-Nya :

    وَمَن يَتَوَ كَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

    “Barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, maka dia (Allah) adalah cukup baginya.”

    27

    Maksudnya Allahlah yang akan menyembuhkannya. Jadi yang dimaksud dari pernyataan bahwa mereka tidak meminta Ruqyah kepada manusia adalah bahwa mereka meninggalkan hal – hal yang dilarang agama, walaupun mereka membutuhkannya, semata – mata karena ingin bertawakkal kepada Allah. Seperti meminta Ruqyah kepada manusia (yang tidak bersumber dari Qur’an an Sunnah) dan iktiwa. Jadi kenyataan bahwa mereka meninggalkan itu bukanlah karena keduanya merupakan faktor kesembuhan, tetapi karena ia merupakan pengobatan yang dilarang. Apalagi bila orang yang sakit itu yang menyangka bahwa pengobatan ini yang akan menyembuhkannya, mulai menggunakan sarang laba – laba. Sedang melakukan berbagai bentuk pengobatan yang tidak dilarang agama (misalnya seseorang yang meruqyah dirinya dan tidak memintanya dari orang lain). Maka hal ini tidak bertentangan dengan tawakkal dan bahwa meninggalkannya bukanlah hal yang dianjurkan.”

    28

    (bersambung….. )
    » Judul Selanjutnya Kapan Saatnya Ruqyah Bermanfaat ?

    –-

    26

    Majmu Al-Fatawa, Ibnu Taimiyah, Jilid I hal : 328.

    27

    Q.S At Thalaq : 3

    28

    Tafsir Al Aziz Al Hamid, Sulaiman bin Abdul Wahb, hal 110.

    46-51

  • 0 Comments
  • Filed under: Doa & Hadits
  • Zaman ini, dengan segala problematika dan kompleksitasnya telah melahirkan berbagai macam penyakit jiwa. Seperti kecemasan, stress, depresi dan kegelisahan. Itu disebabkan karena peradaban modern hanya memberikan perhatian kepada dimensi materi manusia dan melupakan dimensi spiritual dan keimanannya. Itu semua melahirkan berbagai macam penyakit seperti tekanan darah tinggi, diabetes, infeksi lambung, gangguan pencernaan, gangguan syaraf dan lainnya.

    Untuk mengobati penyakit – penyakit tersebut kita menemukan adanya dua kelompok yang berbeda :

    Kelompok Pertama mengatakan kita menggunakan pendekatan psikiatri dari menggunakan obat – obat modern. Kelompok ini menolak pengobatan dengan Ruqyah Syariah dan tidak percaya pada efektifitasnya.

    Kelompok Kedua mengatakan justru pendekatan psikiatrilah yang tidak efektif. Dan bahwa hanya pengobatan dengan Ruqyah Syariahlah yang dapat menyembuhkan penyakit – penyakit tersebut.

    Tentu saja kedua kelompok itu sama – sama ekstrim dalam bersikap. Padahal sesungguhnya psikiatri modern dengan berbagai cabangnya dan pengobatan rohani atau spiritual merupakan saudara kembar yang tidak dapat dipisahkan. Doktor Abdullah Ash-Shubai’i, dosen dan psikiater mengatakan : “Penyakit ‘ain, sihir dan kesurupan jin merupakan faktor – faktor utama yang menyebabkan terjadinya gangguan jiwa dan fisik.”

    22

    Tapi kemungkinan muncul sebuah pertanyaan penting : manakah yang didahulukan dari kedua pola pengobatan itu?

    Jawabnya

    23

    adalah : pengobatan dengan Al-Qur’an lebih didahulukan atas psikiatri modern. Itu karena pengobatan rohani bersumber dari sikap mengesankan Allah sebagai Pencipta, membaca Al-Qur’an, mensucikan diri; semua itu akan memperkuat hubungan seorang hamba dengan Tuhannya. Pengobatan dengan Ruqyah dan bacaan Al-Quran akan memperkuat dimensi mentalitas seseorang. Dan dengan kekuatan mental itulah dia dapat menolak berbagai macam penyakit dari tubuhnya. Ibnul Qayyim menceritakan sebuah pengalaman dari gurunya, Ibnu Taimiyah – semoga Allah merahmati keduanya –, yang memperkuat asumsi ini.  Suatu saat Ibnu Taimiyah menderita penyakit tertentu. Lalu dokter berkata padanya : “Akan sangat berbahaya bagimu jika engkau terus melibatkan diri dalam pembahasan dan pemikiran tentang ilmu serta dzikir.” Maka Ibnu Taimiyahpun menjawab “Bukankah kalian yang justru mengatakan bahwa jika jiwa seseorang dalam keadaan kuat dan senantiasa gembira maka itu akan memberinya kekuatan yang membatu alam untuk menolak penyakit yang menimpa itu. Dan jika alam itu lebih kuat daripadanya maka penyakit itu akan mengalahkannya.” Dokter itupun menjawab : “Ya itu benar.” Lalu Ibnu Taimiyah mengatakan : “Jika jiwa saya sedang berkonsentrasi dalam berdzikir dan membahas masalah – masalah ilmu, lalu ia menemukan jawaban dari suatu masalah yang rumit, maka ia menjadi gembira dan menguat. Jadi itu akan menolak semua penyakit yang menimpa diriku.”

    24

    (bersambung….. )
    » Judul Selanjutnya Ruqyah Tidak Menafikan Tawakkal ?

    ————–

    22

    Majallah Ad-Da’wah, Nomor : 1479, tanggal 10/09/1415 H

    23

    Lihat: “Al-Ruqyatul Wa Al-Ruqaa”, Khalil bin Ibrahim Amin, hal: 94

    24

    Miftaah Daar Al-Saadah, Ibnul Qayyim, Jilid I-287

    39-45

  • 1 Comment
  • Filed under: Doa & Hadits
  • Sepintas lalu ada anggapan bahwa Ruqyah hanya dibutuhkan untuk mengobati penyakit ‘Ain, sihir dan kesurupan setan. Sedangkan untuk penyakit – penyakit lain yang bersifat fisik psikologis atau spiritual, Ruqyah sama sekali tidak bermanfaat.

    Ini anggapan yang salah dan merupakan suatu kekeliruan yang harus dibenarkan agar kita dapat mendapatkan manfaat dari Ruqyah dalam kehidupan kita. Adapun dalil – dalil yang menyatakan umumnya manfaat Ruqyah bagi seluruh jenis penyakit, dan bahwa ia tidak terbatas pada penyakit tertentu saja ternyata sangat banyak, antara lain :

    I. Dalil Al-Quran

    Dalam Quran ada banyak ayat yang menegaskan manfaat Ruqyah yang berlaku bagi semua penyakit. Misalnya :

    1. Firman Allah SWT : “Katakanlah (Hai Muhammad), bahwa ia (Al-Qur’an), bagi orang – orang beriman merupakan petunjuk dan kesembuhan.”

    10

    2. Firman Allah SWT: “Dan kami turunkan dari Al-Qur’an apa – apa yang dapat menjadi kesembuhan dan rahmat bagi orang – orang yang beriman.”

    11

    Kata (Min) dalam ayat tersebut merupakan penjelasan tentang jenis sehingga ia berarti bahwa Al-Qur’an itu seluruhnya merupakan obat penyembuh.

    3. Firman Allah SWT: “Wahai sekalian ummat manusia, sungguh telah datang kepadamu nasehat dari Tuhanmu dan obat penyembuh bagi semua penyakit yang ada dalam dadamu, serta petunjuk dan rahmat bagi orang – orang beriman.

    12

    Ibnul Qayyim -semoga Allah merahmatinya- mengatakan : “Al-Qur’an adalah obat penyembuh yang paling sempurna bagi semua penyakit jiwa dan raga, serta penyakit dunia dan akhirat. Tapi tidak setiap orang layak mendapatkan taufik dari Allah untuk melakukan pengobatan dengan Al-Qur’an! Namun jika orang yang sakit mengobati penyakitnya dengan Al-Qur’an dengan penuh keimanan dan kesungguhan hati, penyerahan total kepada Allah, keyakinan yang penuh seluruh, serta memenuhi semua persyaratan yang lainnya, niscaya tidak pernah ada penyakit yang mampu mengalahkannya. Bagaimanakah penyakit itu dapat mengalahkan kalam dari Tuhan langit dan bumi, yang jika ia diturunkan kepada gunung – gunung maka ia akan meledakkannya, atau jika diturunkan bumi maka ia akan mencincangnya! Maka tak satupun penyakit jiwa dan raga melainkan di dalam Al-Qur’an telah terdapat petunjuk untuk mengobatinya, penjelasan tentang sebab – sebabnya, serta cara melindungi diri dari padanya. Tapi tentulah itu hanya berlaku bagi orang yang diberi rezeki oleh Allah berupa pemahaman yang benar tentang kitab-Nya. Dan Allah sendiri telah menyebutkan di dalam Al-Qur’an berbagai penyakit jiwa dan raga serta pola – pola pengobatannya.”

    13

    II. Dalil Sunnah

    1. Ruqyah yang dilakukan Jibril kepada Rasulullah SAW ketika beliau datang kepadanya. Jibril berkata :

    يَا مُحَمَّدٌ اِشْتَكَيْتَ؟ فَقَالَ : نَعَمْ، قَالَ : بِسْمِ اللهِ أُرْقِيْكَ مِنْ كُلِّ شَيْئٍ يُؤْ ذِيْكَ، مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنٍ حَاسِدٍ، اللهُ يُشْفِيْكَ، بِسْمِ اللهِ أُرْقِيْكَ

    “Wahai Muhammad apakah engkau mengeluh dari suatu penyakit ?” Rasulullah menjawab: “Ya”, maka Jibrilpun berkata: “Dengan nama Allah aku meruqyahmu (menjampimu) dari segala sesuatu yang mengganggumu, dari kejahatan setiap jiwa atau mata yang dendam. Semoga Allah menyembuhkanmu. Dengan nama Allah aku meruqyahmu.”

    14

    Kalimat Jibril: “Dari segala sesuatu yang mengganggumu,” berarti bahwa Ruqyah berlaku bagi semua bentuk penyakit

    2. Riwayat Aisyah ra yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW selalu mengusap dengan tangan kanannya setiap orang diantara kami yang mengeluh dari suatu penyakit, lalu berkata :

    أَذْهِبِ الْبَأْسَ رَبَّ النَّاسِ، أَشْفِ أَنْتَ الشَّافِيْ، لاَشِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءً لاً يُغَادِرُ سَقَمًا

    “Wahai Tuhan Manusia, hilangkahlah penyakitnya, sembuhkanlah ia, karena hanya Engkaulah Yang Maha Penyembuh. Tiada kesembuhan kecuali hanya penyembuhan-Mu, dan penyembuhan-Mu takkan pernah menyisakan sedikitpun penyakit.”

    15

    Hadits ini mengisyaratkan bahwa Ruqyah berlaku bagi semua penyakit.

    3. Riwayat tentang Utsman bin Al-Ash Al-Tsaqafi ra yang datang mengadu kepada Rasulullah SAW tentang rasa sakit yang terasa dalam tubuhnya sejak ia masuk Islam. Maka kepadanya Rasulullah SAW bersabda :

    ضَعْ بَدَكَ عَلَى الَّذِيْ تَأَلَّمَ مِنْ جَسَدِكَ، وَقُلْ : بِسْمِ اللهِ ثَلاَثًا، وَقُلْ سَبْعَ مَرَّاتٍ : أَعُوْذُ بِا للهِ وَ قُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ

    “Letakkanlah tangamu kepada bagian tubuhmu yang kau rasakan sakit, lalu ucapkanlah “Bismillahi (dengan nama Allah) sebanyak tiga kali, lalu ucapkanlah sebanyak tujuh kali (doa ini): “Aku berlindung kepada Allah dan segenap kemahakuasaan-Nya dari kejahatan yang aku rasakan (menimpaku) dan dari semua yang aku waspadai.“

    16

    4. Riwayat Anas bin Malik ra bahwa beliau mengatakan :

    أَذِنَ الرَّ سُوْلُ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لأَهْلِ بَيْتٍ مِنَ الأَنْصَارِأَنْ يُرَ قُّوْامِنَ الْحُمِّ وَالأُذُنِ

    “Rasulullah SAW telah mengizinkan sebuah keluarga dari kaum Anshar untuk meruqyah (sebagi pengobatan dari) semua penyakit demam

    17

    dan telinga.”

    18

    Ibnu Hajar mengatakan :

    “Meruqyah telinga, menurut Ibnu Baththal, adalah menjampi penyakit yang ada dalam telinga. Maksudnya Rasulullah SAW membolehkan menjampi telinga jika ada penyakit yang menimpanya.”

    5. Kisah seorang laki – laki dari kaum Anshar yang pada sisi perutnya ada ulat yang keluar,

    19

    maka kepadanya diberitahukan bahwa Asy-Syifaa binti Abdullah dapat menyembuhkan penyakit itu dengan Ruqyah. Maka iapun mendatanginya dan memohon untuk meruqyahnya. Tetapi Asy-Asyifaa mengatakan: “Demi Allah aku tidak pernah lagi meruqyah sejak aku masuk Islam.” Maka lelaki Anshar itupun mendatangi Rasulullah SAW dan memberitahukannya tentang apa yang dikatakan oleh Asy-Syifaa. Maka Rasulullah memanggil Asy-Sifaa dan mengatakan :

    أَعْرِضْ عَلَيَّ، فَاَعْرَضَتْهَاعَلَيْهِ فَقَالَ : أَرْقِيْهِ وَعَلِّمِىْهَا حَفْصَةَ كَمَا عَلَّمْتِهَا الكِتَابَ

    “Perlihatkanlah padaku Ruqyahku itu.” Lalu Asy-Syifaapun memperlihakannya. Maka Rasulullah SAW mengatakan : “Ruqyahlah (jampilah lelaki Anshar itu), lalu ajarkanlah Ruqyah itu kepada Hafsah sebagaimana engkau telah mengajarkannya Al-Kitab (Al-Qur’an).”

    20

    Masih banyak hadits lain yang tidak dapat kami sebutkan dalam buku kecil ini. Yaitu pengobatan dengan Ruqyah untuk menyembuhkan berbagai penyakit fisik, yang boleh jadi membingungkan banyak orang di zaman ini. Lalu mereka bertanya bagaimana mungkin penyakit fisik itu dapat disembuhkan dengan Ruqyah.

    Tapi yang pasti riwayat tentang hal itu sangat banyak. Misalnya meruqyah penyakit demam, gigitan kalajengking, kencing batu, berbagai macam luka dan nanah, sakit kepala dan lain – lainnya. Itu semua menunjukkan betapa berkah Ruqyah itu berlaku umum bagi semua jenis penyakit asalkan dilakukan dengan syarat – syaratnya.

    III. Bukti Empiris

    Adapun bukti – bukti nyata yang menguatkan pengaruh Ruqyah dalam penyembuhan semua penyakit, dapat dicontohkan dengan apa yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim ketika berkata:

    “Saya telah melalui waktu yang cukup lama di Mekkah dimana saya menderita suatu penyakit. Saya tidak menemukan seorang dokterpun juga tidak menemukan obat apapun. Maka akupun mengobati diriku dengan surat Al-Fatihah dan aku menyaksikan pengaruhnya yang luar biasa. Aku mengambil air minum dari air zam – zam kemudian kubacakan Fatihah kepadanya berkali – kali lalu aku meminumnya. Maka akupun mendapatkan kesembuhan yang sempurna. Setelah itu aku terus berpedoman kepada pengalaman itu untuk mengobati berbagai macam penyakit yang aku derita. Dan aku benar – benar mendapatkan manfaat yang luar biasa. Aku juga menganjurkan setiap orang yang mengadu kepadaku tentang suatu penyakit untuk mengobatinya dengan surat Al-Fatihah. Dan ternyata sangat banyak diantara mereka yang memperoleh kesembuhan dalam waktu yang singkat.”

    21

    Di zaman ini juga terdapat banyak ahli Ruqyah (penjampi) shaleh yang dapat -menyembuhkan dengan izin Allah- berbagai macam penyakit jiwa, seperti keterbelahan pribadi (split of personlity) serta penyakit fisik atau yang kelihatannya murni fisik, seperti kelumpuhan dan kanker, serta berbagai macam penyakit lainnya yang sangat kompleks (semgoa Allah menjauhkan kita dari padanya).

    (bersambung….. )
    » Judul Selanjutnya Apakah Psikiatri Bertentangan Dengan Ruqyah Syariah ?

    —————

    10

    QS: Fushshilat : 44.

    11

    QS: Al-Isra’ : 82.

    12

    QS: Yunus:55.

    13

    Lihat Zaadul Ma’ad Jilid IV, hal: 6 dan 352.

    14, 15, 16

    HR. Muslim

    17

    Yaitu panas berlebihan yang disebabkan oleh gigitan binatang berbisa seperti ular dan kalajengking.

    18

    HR. Bukhari

    19

    Yaitu semacam luka – luka pada bagian perut yang biasanya bernanah dan mengeluarkan ulat.

    20

    Diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Mustadrak dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam silsilahnya (178)

    21

    Zaadul Ma’ad Jilid IV hal: 178

    20-38

  • 0 Comments
  • Filed under: Doa & Hadits
  • (SJRCI-SB) VI. Anjuran Melakukan Ruqyah.

    Rasul kita, Muhammad SAW, dengan tegas telah menganjurkan melakukan Ruqyah. ia bahkan telah melakukannya dan menyetujui sahabat – sahabat lain yang melakukannya. Ada sangat banyak dalil tentang itu, yang diantaranya :

    1. Riwayat Aisyah yang mengatakan :

    كَانَ النَّبِيُّ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اشْتَكَى يَقْرَأُ عَلَى نَفْسِهِ وَيَنْفُثُ، فَإِذَا اشْتَذَّ وَجْعُهُ كُنْتُ أَقْرَأُ عَلَيْه وَ أَمْسَحُ يَمِيْنَهُ رَجَاءَ بَرَكَتِهَا

    “Adalah Nabi SAW, jika mengeluh dari suatu penyakit, ia menjampi dirinya dan meniup (seluruh badannya), Jika rasa sakitnya bertambah keras, maka akulah yang menjampinya lalu mengusap (badannya) dengan tangan kanannya untuk mengaharapkan berkahnya”

    4

    2. Sabda Rasulullah SAW :

    لاَ بَأْسَ بِالرُّقَى مَالَمْ تَكُنْ شِرْكًا

    “Bolehlah berjampi (melakukan ruqyah) selama itu tidak syirik.”

    5

    3. Sabda Rasulullah :

    مَنِ اسْتَطَا عَ ِمنْكُمْ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَفْعَلْ

    “Siapa diantara kamu yang dapat memberikan manfaat kepada saudaranya, hendak dia melakukannya.”

    6

    4. Sabda Rasulullah SAW tentang budak wanita yang pada wajahnya ada warna hitam yang tidak lazim,

    اِسْتَرِ قُوْا لَهَا فَإِنَّ بِهَا النَّظَرُ

    “Lindungilah diri kalian dengan Ruqyah dari wanita itu karena pada matanya ada nazrah“

    7

    5. Riwayat Aisyah ra yang mengatakan :

    كَانَ النَّبِيُّ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْ مُرُ نِيْ أَنْ أَسْتَرْقِيَ مِنَ العَيْنِ

    “Rasulullah memerintahkan aku berlindung dari ‘Ain dengan Ruqyah.”

    8

    6. Riwayat tentang malaikat Jibril yang pernah menjampi Rasulullah SAW (yang akan dijelaskan kemudian)

    9

    ————–

    4, 5, 6, 8.

    HR. Muslim.

    7

    HR. Bukhari. Nazrah adalah ‘Ain, yaitu sorotan mata (manusia atau jin) yang memancarkan kekuatan sihir.

    9.

    Lihat halaman 25.

    16-19

  • 1 Comment
  • Filed under: Doa & Hadits
  • Ajakan untuk menggunakan Ruqyah Syariah sebagai salah satu bentuk pengobatan sebenarnya dilatarbelakangi oleh beberapa alasan berikut ini:

    1. Karena Ruqyah itu sunnah Nabi

    Sebab ini pada dasarnya dianjurkan untuk melakukan perlindungan dari berbagai macam penyakit rohani, mental dan jiwa, serta fisik sebelum ia terjadi dengan izin Allah dan untuk itu setiap muslim dianjurkan untuk melindungi dirinya dari penyakit – penyakit tersebut.

    2. Karena sekarang dendam sudah merajalela

    Sesuatu yang sangat menyedihkan bahwa dendam, dengki dan iri hati telah merasuki banyak orang, ketika mereka melihat orang lain mendapatkan karunia atau kenikmatan dari Allah baik kenikmatan spiritual berupa kesalehan dan kecerdasan, maupun kenikmatan materiil berupa kekayaan dan keturunan yang banyak. Itu disebabkan karena penyakit ‘ain (kekuatan sihir yang memancar dari sorot mata) yang pada dasarnya merupakan “sorot mata kesenangan yang bercampur dengan kedengkian atau kekaguman yang memancar bahaya kekuatan sihir dengan izin dan ketentuan Allah”.

    3. Karena seringnya kita lalai dari berdzikir dan berwirid.

    Orang – orang zaman ini, kecuali yang masih tetap dirahmati Allah, sudah sangat lalai mengingat Allah dan mengucapkan doa – doa dan wirid – wirid perlindungan. Misalnya dzikir – dzikir pagi dan petang, dzikir – dzikir yang berkaitan dengan situasi dan momentum tertentu, doa dan dzikir setelah shalat wajib, atau doa istighfar dan membaca Al-Qur’an. Kelalaian inilah yang membuat mereka saling menimpakan penyakit ‘ain tanpa mereka sengaja, walaupun mereka itu merupakan keluarga dan kerabat misalnya pancaran sorot mata kekaguman saat mereka menyaksikan sesuatu yang mereka kagumi. Apalagi jika mereka tidak mengucapkan Ma Syaallah Tabaaraka Wataala saat itu.

    4. Karena Ruqyah ini penting untuk mengobati orang – orang yang menderita berbagai macam penyakit.

    Karena boleh jadi ada seseorang atau salah seorang putera, atau kerabatnya menderita suatu penyakit rohani (yang akan kami sebutkan gejala – gejalanya kemudian)

    1

    yang tak lain ketakutan, khususnya penyakit ‘ain bahkan boleh jadi orang itu mengingkari adanya penyakit ini dan tidak mengakuinya apalagi membayangkan bahwa ia adalah salah seorang penderitanya. Tapi penolakan itu mungkin akan berkurang bahkan hilang sama sekali jika ia mengetahui bahwa sebagian besar umat ini meninggal karena penyakit ‘ain. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW :

    اَكْثَرُ مَنْ يَمُوْتُ مِنْ أُمَّتِيْ – بَعْدَ قَضَاءِ اللهِ وَقَدْرِهِ – بِالْعَيْنِ

    “Sebagian besar umatku mati karena – setelah qadha dan qadar Allah – penyakit ‘ain”

    2

    Ibnu Taimiyah juga mengatakan bahwa “Tak satupun jasad yang bebas dari dendam. Tapi orang tercela menampakkannya sedang orang terhormat menyembunyikannya”

    3

    5. Karena sekarang ada banyak peluang bagi jin untuk menguasai manusia.

    Sesuatu yang sangat menyedihkan bahwa di zaman ini kita telah memberikan peluang bagi jin untuk menguasai manusia. Misalnya kebiasaan hiperbola, mengekspresikan perasaan secara berlebihan seperti rasa takut yang sangat dan datang mendadak, kemarahan yang berlebihan pada setiap kesempatan atau kesedihan yang berlebihan, tenggelam dalam syahwat dan kemaksiatan, mengganggu jin di tempat – tempat tinggal mereka, kelalaian dari mengingat Allah SWT, tidak melindungi diri dari doa dan wirid – wirid Rasulullah SAW.

    6. Karena Ruqyah dan dzikir merupakan pengobatan terbaik bagi semua bentuk penyakit kejiwaan yang sekarang diderita oleh banyak orang. Seperti kecemasan, kegelisahan, kesedihan dan semacamnya. Selain itu ia juga merupakan faktor pendukung setelah Allah dapat membuat orang lebih kuat beramal saleh dan lebih mampu untuk tetap teguh dalam keimanan. Berapa banyak orang yang sekarang merasakan sulitnya ketaatan dan ibadah, misalnya melakukan shalat tepat waktu. Lalu berapa pula banyaknya orang yang menyimpang dari hidayah Allah, tenggelam dalam dosa dan kemaksiatan. Andaikan mereka itu diberi penjelasan yang baik tentang resep kenabian ini, tentulah dengan izin Allah semua bentuk penyakit kejiwaan mereka itu dapat disembuhkan. Selain bahwa ini akan membantu mereka menjadi lebih taat beribadah dan lebih kuat menghindari dosa – dosa.

    7. Karena hasil dari pengobatan ini lebih terjamin dengan izin Allah. kita telah membuang begitu banyak harta kita untuk menyembuhkan berbagai penyakit fisik dan jiwa kita di berbagai macam rumah sakit dan klinik, baik dalam negeri maupun di luar negeri. Bahkan boleh jadi ada diantara kita yang jika dikatakan kepadanya: “Anda hanya bisa sembuh jika Anda berobat di ujung dunia,” niscaya ia akan mengikuti anjuran itu! Atau jika dikatakan kepadanya :”Anda hanya bisa sembuh jika membayar seharga ini,” niscaya ia kana menebusnya.

    Tapi tak seorang pun diantara kita yang berfikir untuk melakukan usaha lain selain usaha medis itu yang boleh jadi justru merupakan sarana menyembuh yang paling hakiki. Yaitu melakukan Ruqyah Syariah yang hanya membutuhkan sedikit waktu dan tenaga.

    Bersambung …

    ————–

    1

    Lihat Halaman 58

    2

    Shahihul Jami’ 4022

    3

    Ibnu Taimiyah Al Fatawa (Kitab Assuluk, 10-1225)

    5-14

  • 11 Comments
  • Filed under: Doa & Hadits
  • Tentangku

    Agus Waluyo, online sejak 02/02/02, asli Durenan, Trenggalek, tetapi mulai awal tahun 2008 tinggal di Malang. Seorang guru honorer SMP yang suka iseng nulis. Selain situs ini juga admin Blog SMP, dan Lirik Nasyid. Dapat dihubungi melalui e-mail ataupun Ym di kank_agus(at)yahoo.com.