@GUSW’s Personal Sites

menebar SENYUM merajut UKHUWAH

Archive for the ‘Cerita Islam’ Category

Rembulan di Mata Ibu

Kupandangi telegram yang barusan kubaca,
Batinku galau.
Ibu sakit Diah, pulanglah!

Begitu satu-satunya kalimat yang tertera di sana. Mbak sri menyuruhku pulang? Tapi …. Benarkah Ibu sakit?
Bayangkan Ibu, dengan penampilannya yang tegar berkelebat. Rasanya baru kemarin aku masih melihatnya berjalan memberi makan ternak-ternak kami sendirian. Melalui padang rumput yang luas. Berputar-putar di sana berjam-jam. Mengawasi rumah kecil kami yang hanya berupa noktah dari balik bukit.

Tidak. Ibu bahkan tak pernah kelihatan lelah dimalam hari. Saat semua aktivitas seharian yang menguras kekuatan fisiknya berlalu. Ibu selalu kelihatan sangat kuat.
Tak hanya kuat, dari mulutnya pun masih kerap terdengar ungkapan-ungkapan pedas, khususnya yang ditujukan kepadaku.

“Jadi perempuan jangan terlalu sering melamun Diah! Bekerja, itu akan membuat tubuhmu kuat!”
komentarnya suatu hari padaku. Padahal, saat itu aku sama sekali tidak menganggur. Sebuah buku berada dipangkuanku. Tapi, Ibu tak pernah menghargai kesukaanku membaca. Di mata beliau, itu hanyalah kegiatan tak berguna yang tak menghasilkan.

Di waktu yang lain Ibu mengecam kebiasaanku rapat dengan para pemuda desa. Ibu sama sekali tak mau mengerti kalau rapat-rapat yang kulakukan bukan tanpa tujuan. Kalau kami, anak-anak muda yang berkumpul disana sedang mencoba menyumbangkan pemikiran bagi kemajuan desa. Bagi wanita sederhana itu, menghalau ternak lebih berguna daripada bicara panjang lebar, dan adu pendapat.

“kau pikir bicara bisa membuatmu mendapatkan uang?”
Ingin sekali saat itu aku mengangguk dan menantang matanya yang sinis. Tak tahukah Ibu, di kota sana, banyak sekali pekerjaan yang mementingkan kemampuan bicara. Seharusnya Ibu melihat kegiatan pemilihan lurah desa, dan tak hanya berkutat dengan ternak - ternaknya di padang rumput.

Pak Kades takkan terpilih kalau dia tak punya kemampuan meyakinkan dan menenangkan rakyatnya!
Akan tetapi, kalimat itu hanya ketelan dalam hati. Tak satu pun kumuntahkan di hadapannya.
Caraku berpakaian pun tak pernah benar dimatanya. Ada saja yang salah. Yang tak rapilah, kelihatan kelaki-lakianlah dan segalanya.

Sebetulnya aku heran, kenapa tiga mbakku yang semuanya perempuan itu bisa melalui hari dengan keterpasungan pemahaman Ibu. Mereka bisa sekolah, paling tidak sampai es em pe dan es em a tanpa banyak bertengkar dengan Ibu.
Lulus sekolah, menikah dan punya anak … dan sekali lagi, tanpa mengalami pertentangan dengan Ibu. Sedangkan aku?

Rasanya tak ada satu hal pun, yang pernah kulakukan, yang dianggapnya benar. Selalu saja ada yang kurang.
Dahulu sekali aku pernah mencoba menyenangkan hati wanita itu. Kucoba memasakkan sesuatu untuknya. Meski semua saudaraku tahu, aku benci kegiatan dapur itu. Hasilnya? Aku menyesal telah mencoba karena Ibu sama sekali tak menghargai usahaku.

“beginilah jadinya kalau anak perempuan Cuma bisa belajar. Tak tahu bagaimana memasak! Siapa yang mau menikahimu nanti kalau begini Diah?”
Dan saat itu aku makin tersungkur dalam ketidakberdayaanku menghadapi Ibu. Perlahan aku malah berhenti berusaha menenangkan hatinya.

Aku capek.
Maka saat ada kesempatan pergi meninggalkan rumah, dan meneruskan pendidikan ke bangku kuliah, dengan peluang bea siswa, kegempur habis kemampuanku, agar kesempatan itu tidak lepas dari tangan.

Aku harus pergi, menjauh dari Ibu, dari komentar - komentarnya yang menyakitkan.
Masih terngiang di telingaku suaranya yang bernada mengejek waktu melihat aku mempersiapkan diri menghadapi tes bea siswa itu.

“Kau tak kan berhasil Diah! Tak usah capek-capek! Wanita akan kembali ke dapur, apapun kedudukannya!”
Tak kuhiraukan kalimat Ibu. Seperti biasa aku selalu berusaha menahan diri. Setidaknya hingga saat itu. Kala pertahanan diriku roboh ke tanah. Dan untuk pertama kali aku berani menantang matanya yang selalu bersinar sinis, dan kurasakan tanpa kasih.

Saat itu aku merasa begitu yakin. Wanita tua yang kupanggil Ibu selama ini, tak pernah dan tak akan pernah mencintai diriku!

“Diah … kok melamun?”
Aku mengusap air mata yang menitik. Laila yang menangkap kesedihanku menatapku lekat. Ada nuansa khawatir pada nada suaranya kemudian.
“ada apa? Tulisanmu ada yang ditolak? Mana mungkin!” ujarnya mencoba melucu.

Aku tertawa pelan, mencoba mengurangi beban dihatiku, kubalas tatapan matanya. Wajah tulus sahabat baikku itu memancar di balik kerudung coklat yang dikenakannya.
Aku berdehem berat.“Li … percayakah kamu kalau aku bilang, ada Ibu yang tak pernah mencintai anaknya?”.

Laili menatapku bingung. Pertanyaan ini mungkin aneh di telinganya. Apa lagi aku tahu keluarganya adalah keluarga terhangat yang pernah kutemukan. Ibu Laili tak hanya bijaksana, tapi juga selalu melimpahinya dengan banyak kasih dan perhatian. Jauh sekali bila dibandingkan Ibu!

“Aku rasa, mencintai adalah naluri yang muncul otomatis saat seseorang menjadi Ibu, Diah! Itu karunia Allah yang diberikan pada setiap Ibu. Rasa kasih, mengayomi, dan melindungi!” jawab Laili hati-hati.

Aku mengalihkan pandangan dari matanya. Kami sudah tinggal satu kos selama hampir lima tahun. Kupercayakan seluruh kegembiraan dan saat-saat sulitku padanya. Tapi, tak pernah sekalipun aku bercerita tentang Ibu, dan ketidakadilan yang diberikan wanita itu padaku.

Sekali lagi airmataku menitik. Ingat, selama kurun lima tahun ini, aku tak pernah menjenguk Ibu. Ya, tidak sama sekali pun! Meski batinku terasa kering. Bagaimanapun sebagai anak, aku punya kasih yang ingin bisa kupersembahkan pada wanita yang melahirkanku.

Sayangnya, tak pernah ada kesempatan bagiku untuk mewujudkannya itu. Ibu tak pernah menangkap sinar kasih dimataku, apalagi membalasnya dengan pelukan hangat. Ibu tak pernah peduli!

Bagaimana aku tidak mulai membencinya secara perlahan? Mungkin tidak dalam artian kata benci sesungguhnya. Terus terang, aku mulai menghapus namanya dalam kehidupanku.
Dalam tahun-tahun yang telah kulalui aku hanya mengirim surat dan foto pada semua kakak dan keponakanku. Tak satu pun kualamatkan untuk Ibu. Kalaupun secara rutin kusisihkan uang honor menulisku untuk Ibu, itu pun tak pernah kukirimkan langsung. Selalu lewat salah satu kakakku. Paling sering lewat mbak Sri.

Aku belajar menyingkirkan kebutuhanku akan kasih sayang dan sikap keibuan darinya. Aku belajar … melupakan Ibu!
“Diah … kenapa kamu menanyakan itu?” suara Laili kembali terdengar. Batinku makin kisruh.
Apa pendapatnya kalau tahu, teman baiknya, selama ini telah melupakan Ibunya? Padahal dalam Islam tertera jelas keutamaan untuk berbakti dan menghormati Ibu. Selama ini aku selalu berdalih di hadapan-Nya dalam shalat - shalat yang kulalui.

Bukan aku tak mencintainya. Tapi … sepertinya itu kehendak Ibu sendiri untuk dilupakan!
“Ibuku sakit Li! Apa yang harus kulakukan?”
tanyaku akhirnya tanpa daya.
Laili tersenyum. Tangannya kembali menggenggam jemariku.
“Itu aja kok, bingung! Barangkali dia kangen padamu. Tengoklah Ibu, Di! Eh, kapan terakhir kali bertemu?”
Teman baikku itu seperti teringat saat-saat libur kuliah yang tak pernah kumanfaatkan untuk pulang kampung, sebaliknya malah berkunjung ke tempatnya atau menghabiskan waktu di kos, merentang hari.

“Aku tak pernah pulang, Laili. Sudah lima tahun!”
jawabanku membuat Laili tersedak. Pantas saja gadis itu kaget. Lima tahun bukan waktu yang singkat.
“Kamu harus pulang secepatnya, Di! Biar aku yang memesankan tiket kereta. Jangan lupa bawa oleh-oleh untuk Ibumu. Hm…apa ya, kesukaan beliau?”

Tiba-tiba Laili dilanda kesibukan dan kepanikan luar biasa. Seakan membayangkan mengunjungi ibunya sendiri, yang tak pernah ditemuinya selama lima tahun!

“Tak perlu repot-repot Laili! Biar kuurus sendiri!” tolakku halus, tetapi Laili tetap bersikeras.
“Hey … jangan begitu dong, Di!selama ini kamu selalu repot-repot saat mengunjungi kami. Jadi .. biarkan aku yang mengurus perjalananmu kali ini. Lagi pula, kamu masih harus mempersiapkan presentasi skripsimu, kan?”
Aku menyerah.

Sebelum Laili pergi, aku menatapnya sekali lagi,“Kamu yakin aku harus pulang, Li?”
Pertanyaanku hanya disambut senyum hangatnya.
“Tentu, pulanglah, Ibu pasti kangen kamu Diah!”
Ahh… andai Laili tahu, perempuan macam apa Ibuku itu! Beliau lebih keras dari karang Laili, karang masih bisa terkikis air laut, tetapi Ibuku?

Rumah mungil kami tak banyak berubah. Juga rumah petak-petak kecil disampingnya. Dimana ketiga mbakku dan keluarganya tinggal.

Saat aku masuk kedalam, kulihat ruangan tampak tidak serapi biasanya. Barangkali kehilangan sentuhan tangan Ibu. Mbak Sri bilang, setahun belakangan ini Ibu beberapa kali jatuh sakit. Akan tetapi, beliau tidak pernah mengijinkan mereka mengabarkan padaku.

Karena Ibu tak butuh kehadiranku, bisikku dalam hati.
Mbak Ningsih yang melihat kecanggunganku menjelaskan. Di pangkuannya duduk dua bocah cilik bergelayut manja.
“Ibu tak ingin aku mengganggu kuliahmu, Diah!”
Aku tersenyum sinis mendengar perkataan kakak tertuaku itu. Sejak kapan Ibu memikirkan kuliahku? Bukankah baginya anak perempuan Cuma akan ke dapur?

<<
Mbak Rahayu yang lebih banyak diam pun ikut menambahkan, “Ibu sering bertanya pada kami Diah, berkali-kali malah. Sudah tahun ke berapa kuliahmu? Berapa lama lagi selesai.”
“Sebetulnya Ibu sangat kangen kepadamu Diah, tapi Ibu lebih mementingkan kuliahmu.” Mbak Sri menambahkan di tengah aktivitas menyusui anaknya.

Tapi, aku tak merasa perlu diyakinkan. Aku kenal Ibu. Dan selama jadi anaknya, tak pernah Ibu bersikap kasih padaku. Tidak sekali pun, perkataan kakak-kakakku barusan semata-mata untuk menyenangkan hatiku. Agar aku tak merasa kejadian lima tahun yang lalu, pertengkaran hebatku dengan Ibu. Pertengkaran yang makin memantapkan hatiku untuk pergi.

Malam itu Ibu berkali-kali menumpahkan kalimat-kalimat pedas padaku. Tujuannya satu, agar aku tak pergi.
Bagiku, sikap Ibu saat itu sangat egois dan kekanak-kanakan. Sementara orang lain akan menyambut gembira keberhasilan anak-anaknya meraih bea siswa macam ini, beliau sebaliknya. Tak tahukah Ibu, kalau aku harus menyingkirkan ribuan orang untuk meraih prestasi ini?
Kucoba menuliskan telinga, tetapi kalimat-kalimat pedasnya tak berangsur surut. Malah bertambah keras.

“Pergi ke kota bagi perempuan macam kau Diah, hanya akan menjadi santapan laki-laki! Tak ada tempat aman kecuali di kampung sendiri. Ibu tak ingin kau membuat malu keluarga. Pulang dengan membawa aib!”

Astagfirullah … Ibu kira perempuan macam apa aku? Mulutku sudah setengah terbuka siap membantahnya, tetapi ketiga saudaraku mencegahku. Melihat sikapku yang menantang, kemarahan Ibu makin tak terbendung.

“Jangan coba membantah! Kurang baik dan terpelajar apa si Retno? Lalu Sumirah? Bahkan anak pak Haji Tarjo? Pulang-pulang malah jadi perempuan jalang! Aku tak ingin punya anak jalang!”

cukup! Aku tak bisa menahan kesabaranku lebih lama. Darahku seperti mendidih mendengar kalimat-kalimat Ibu. Kalau saja Ibu cukup mengenalku, kalau saja Ibu punya sedikit kepercayaan pada anaknya sendiri!?? Ibu Cuma percaya pada dirinya sendiri. Seakan semua orang akan mengalami nasib buruk.

Saat ditinggal Bapak! Ya, Bapak memang meninggalkan kami. Janjinya, bahwa, lelaki itu akan kembali dari kota dengan membawa perubahan pada nasib kami, cuma omong kosong. Di sana Bapak justru menikah lagi. Dan Ibu yang menganggap dirinya sempurna sebagai wanita, merasa sakit hati. Setelah itu semua yang berbau pembaruan dan kemajuan dimusuhinya habis-habisan. Termasuk niatku ke kota untuk mencari ilmu.

Kutatap mata Ibu dengan sikap menantang. Suaraku bergetar saat berkata-kata padanya.
“Seharusnya Ibu bangga padaku! Seharusnya Ibu menyemangati, bukan malah terus-terusan mengejekku, Bu! Sekarang Diah tahu kenapa Bapak meninggalkan Ibu!” kataku berani.

Di depanku, Ibu menatap mataku tajam. Matanya diliputi kemarahan atas kelancanganku.
“Kenapa Bapak meninggalkan Ibumu? Ayo jawab, kenapa?!!!
Sia-sia usaha mbak-mbakku yang lain untuk mengerem mulutku. Dalam kemarahan, kulontarkan luka yang mungkin akan melekat selamanya di hati Ibu.

“Karena Ibu picik! Itu sebabnya!”
Kubanting pintu kamarku dan mengurung diri semalaman. Menangis. Batinku puas, telah kukatakan apa yang menurutku harus didengar Ibu.

Besoknya, pagi-pagi sekali, hanya berpamitan pada mbak-mbakku, aku pergi, dengan bongkahan luka di hatiku. Barangkali juga di hati Ibu. Tapi, aku tak peduli.
Saat aku mengenal Laili dan teman-teman Muslimah lain. Baru kusesali sikapku. Seharusnya aku tak bersikap sekasar itu pada Ibu. Tak membalas kekasarannya dengan tindakan serupa.

Meski begitu, penyesalanku tak bisa mengubah perasaan yang kadung hampa terhadap Ibu. Aku masih tak menyukai wanita yang melahirkanku itu. Seperti juga beliau tak menyukaiku.

“Diah … Ibu sudah bangun.”
Mbak Sri menyentuh tanganku. Mengembalikanku dari kenangan masa lalu.

Kubuka pintu kamar Ibu. Suara derit engsel yang berkarat terdengar. Kulihat Ibu terbaring lemah di dipan. Keperkasaannya selama ini, kulihat nyaris tak tersisa. Tangan kurusnya mengajakku mendekat.

Di bawah cahaya lampu teplok, kurayapi wajahnya yang penuh guratan-guratan usia. Ibu tampak begitu tua.
“Apa kabarmu Diah?” suaranya nyaris berupa bisikan.
“Baik, Bu.” Kusadari suaraku terdengar begitu datar. Barangkali mewakili kehampaan perasaanku.

Ibu tak memandang kaget penampilanku, yang pasti merupakan pemandangan baru baginya. Atau Ibu terlalu sakit untuk mencela busana muslimah yang kukenakan? Sekali lagi hatiku berkomentar sinis, tanpa bisa dicegah.
“Kamu kelihatan kurusan Nduk!” ujar Ibu setelah beberapa saat kami terdiam.

Aku tak menanggapi. Sebaliknya, mataku mengitari ruangan kecil itu. Semuanya hampir tak berubah. Kenapa Ibu bertahan dalam kesederhanaan ini? Bukankah seharusnya dengan ternak - ternak itu Ibu mampu hidup lebih layak? Belum lagi ketiga mbakku, mustahil mereka tidak memberikan tambahan masukan, biarpun sedikit, untuk Ibu.

Aku memperhatikan ranjang Ibu. Kasur tipis diatas dipan yang pasti tak nyaman untuknya. Cahaya penerangan pun tidak memadai. Padahal, di rumah ketiga saudara perempuanku sudah diterangi cahaya listrik. Lalu … uang kirimanku yang rutin meski tak seberapa mestinya cukup meringankan Ibu. Tapi kenapa?

Kulihat meja jati tua disamping Ibu. Ada beberapa botol obat di sana. Kertas-kertas dan beberapa foto yang dibingkai. Kudekatkan tubuhku untuk melihat jelas. Mendadak mataku nanar … masya allah! Aku tak sanggup berkata-kata. Segera kutahan diriku sebisanya untuk tak menangis.

Ibu yang menyadari arah pandanganku menjelaskan, “Jangan salahkan mbakmu Diah. Foto-foto itu Ibu yang maksa minta. Kadang Ibu pandangi, jika Ibu kangen kamu. Lihat, itu pasti waktu kamu masih tingkat satu, ya? Belum pakai jilbab! Yang lainnya sudah rapih berjilbab.”

Kulihat ibu tersenyum. Dimatanya ada kerinduan yang mendalam. Batinku kembali terguncang. Ibu kangen padaku? Betulkah? Apa yang membuat Ibu begitu berubah? Usia tuanyakah? Waktu lima tahunkah? Hatiku terus bertanya-tanya. Kemana larinya sikap keras dan ketus Ibu?
“Tolong Ibu, Nduk, Ibu ingin duduk di beranda,” pintanya sekonyong-konyong.

Kupapah tubuh ringkihnya keluar. Diatas sana langit mulai gelap. Beberapa bintang meramaikan rembulan yang mulai muncul. Langit jingga tampak terbias indah menyambut malam.

Bersisian kami duduk di beranda. Beberapa waktu berlalu dalam keheningan. Tanpa kata-kata, tetapi bisa kulihat wajah Ibu tampak cerah menatap langit yang dihias purnama. Lalu …
“Ning … Ningsih….” Tergopoh-gopoh mbakku muncul mendengar panggilan dari Ibu.
“Dalem Bu…”
“Tolong ambilkan kotak kayu Ibu di bawah tempat tidur, ya…”
Tak lama Mbak Ning sudah muncul lagi. Sebuah kotak kayu yang terlihat amat tua diserahkannya kepada Ibu.
“Bukalah Diah, itu untukmu. Ibu selalu takut tak sempat memberikannya kepadamu. Ibu sudah tua Diah,” suara Ibu. Matanya masih menatap langit.

Meski tak mengerti, kuturuti permintaan orang tua itu. Dan tanpa bisa kucegah, kedua belah mataku terbelalak melihat isinya. Uang! Dimana-mana uang! Begitu banyak, darimana Ibu mendapatkannya?

Ibu terkekeh sendiri melihat keterkejutanku.
Beberapa giginya yang sudah ompong terlihat.
“Itu untukmu Diah..”
aku menutup kembali kotak kayu itu, kuserahkan kepada Ibu.
“Diah ndak butuh uang Ibu. Beberapa tahun ini sudah ada kerja sambilan. Jaga toko sambil nulis-nulis,” ujarku berusaha menolak.

“Ibu tahu .. Ibu baca surat yang kirimkan kepada mbak-mbakmu .. tapi itu uangmu. Kau membutuhkannnya. Mungkin tak lama lagi.” Suara Ibu memaksa.
Ahh..wisudaku…itukah yang Ibu pikirkan?
“Wisuda tak perlu biaya sebanyak ini, Bu ….” Tolakku lagi.
“Tapi kau harus menerimanya Diah, itu uangmu. Uang yang kirimkan selama ini untuk Ibu lewat mbakmu. Sebagian ada juga hakmu dari penjualan ternak,” jelas wanita itu lagi.

Aku melongo. Teringat dipan tua yang kasurnya tipis, lampu templok, kursi diruang tamu yang sudah jelek dan bufet yang kusam. Bukankah dengan uang itu Ibu bisa hidup lebih layak?
‘Kenapa tak Ibu pakai untuk keperluan Ibu?” tanyaku heran.
Ibu hanya tersenyum. Matanya mencari-cari rembulan yang setengah tertutup awan.

“Ibu tak butuh uang sebanyak itu, Diah! Lagi pula .. Ibu khawatir tak bisa lagi memberimu uang.”
“Diah kan sudah jelaskan ke Ibu, Diah sudah bisa cari uang sendiri meski sedikit-sedikit. Ibu tak perlu repot memikirkan aku,” ujarku keras kepala.

Tapi, lagi-lagi Ibu memaksaku.
““Kau akan membutuhkannya Diah, untuk pernikahanmu nanti. Semua mbakmu hidup sederhana. Anak mereka banyak, mungkin tak kan banyak bisa membantumu jika hari itu tiba!”
Deg! Hatiku berdetak. Untuk pernikahanku? Sejauh itukah Ibu memikirkanku?
Kata-kata Ibu berikutnya bagai telaga sejuk mengaliri relung - relung hatiku.

“Maafkan Ibu jika selama ini keras padamu Diah! Kau benar … ibu memang picik! Itu karena Ibu tak ingin kau terluka. Ibu tak ingin kau kecewa. Itu sebabnya Ibu tak pernah memujimu. Kau harus punya hati sekeras baja untuk menapaki hidup. Ibu ingin anak bungsu Ibu menjadi sosok yang berbeda. Seperti rembulan merah jambu, bukan kuning keemasan seperti yang biasa kita lihat.”
Ibu menunjuk purnama yang benderang. Aku mengikuti telunjuknya. Batinku terasa lebih segar.

Rembulan merah jambu … itukah yang di inginkan Ibu, menjadi seseorang. Menjadi orang dalam arti sebenarnya. Punya karakter dan prinsip yang berbeda. Siap mengarungi kerasnya selama ini?

Hatiku berbunga-bunga. Semua kehampaan, kebencian, dan kekesalanku pada wanita tua itu tiba-tiba terbang ke awan. Aku tak lagi membencinya! Ternyata aku cukup punya arti dimata Ibu. Aku rembulan di hatinya! Tanpa ragu, kepeluk Ibu erat.

Bersama-sama, kami menghabiskan waktu yang tak terlupakan di beranda memandangi langit, dan … rembulan yang kini merah jambu dalam pandanganku!…

sumber : moslemworld.co.id

  • 3 Comments
  • Filed under: Cerita Islam
  • Pada Sebuah Karnaval

    Beberapa waktu yang lalu kami menghadiri karnaval, Eid karnaval tepatnya,yang diselenggarakan oleh salah satu masjid di South-bay sini.

    Lazimnya sebuah karnaval, tentunya meriah dengan macam-macam fun-ride untuk anak-anak, cotton-candy,ada juga stand-stand, dan tentu saja…mmm,makanan. Menu yang disajikan kali ini kebanyakan ala pakistan dan afganistan. Jadilah saya nyicip briyani dan barbeque pakistani-nya.

    Eh kok jadi cerita soal makanan. Membaca resep bakso-nya uni Lila danserba-serbi indomie-nya ummu Itqon jadi laper deh. Dingin-dingin begini asik kali ya makan bakso pedes. Wah, maaf nih keterusan. Soal makanan tadi, ini memang ada hubungannya dengan cerita yang ingin saya tuliskan.

    Tengah asik menyuapi si kecil sambil mengawasi kakak-kakaknya naik merry-go-arround [waktu saya bocah dulu, di kampung saya namanya korselatawa komedi putar], tiba-tiba seorang sister melintas tergesa di hadapan saya. Tadinya sih mau lewat begitu saja, tapi ketika melihat wajah saya, dia lantas berbalik mendekat dan duduk tepat di sebelah.

    “Ah sukurlah bukan orang Arab.” ujarnya sambil menghela nafas seraya menarik sedikit kerudung di kepalanya yang mencong-mencong.

    “Assalamu’alaikum, sister. Apa kabar ?” tanya saya mencoba menyapa denganramah.

    “Alaikum salam. yah baik-baik saja. Anda berasal dari mana sister ?”

    “ Indonesia,” jawab saya.

    “ Di mana itu ya?” tanyanya,”sebelah mananya negara arab?”Ah tipikal. Hampir semua orang di lingkungan muslim pun tidak tahu di mana itu Indonesia, atau barangkali tidak tahu apakah itu nama negara atauhkah jenis makanan. Saya jelaskan sedikit sekalian ngasih tahu kalau Indonesiaitu negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Dia cuma bengong seperti tak percaya.

    “Kok tidak pernah kedengaran ya.” komentarnya. Nah kalau sudah begini, selain mangkel, sedih juga rasanya. Kita, muslimin Indonesia yang ratusanjuta jumlahnya seperti tak pernah kedengaran perannya sebagai kaum penebarrahmat. Bukan sekali dua kalau bertemu sisters mancanegara di sini, mereka tidak tahu Indonesia apalagi perannya sebagai pembela ummat Islam.

    Bagaimana tidak mengherankan, kalau di negeri sendiri saja ummat Islam sudah dipecundangi dengan sangat memalukan.

    “Mungkin anda saja yang lupa pelajaran geografi.” kata saya sembarime mandang wajah arab yang cantik ini, putih kemerahan warna kulitnya.Sayang, ada gelisah di matanya.

    “Anda sendiri dari mana ?” tanya saya. Dia sebutkan negara asalnya.

    “Anda tahu di mana itu ?” tanya sister itu.

    “Oh tentu saja. Salah satu negara Arab dan…” saya sebutkan beberapanegara lain yang berbatasan dengan negerinya itu serta produk terkenal yangdihasilkan negaranya.

    “Anda tahu semua itu ?” tanyanya heran. Saya tersenyum.

    “Maaf,no offense, anda kan bukan orang arab, kenapa anda pakai hijab ?”tanya nya tiba-tiba. Belum sempat saya jawab, sister ini buru-burumelanjutkan.

    “Actually…, hijab ini bagi saya adalah beban. Itu sebabnya saya tidak maukembali ke negara asal saya, tidak bebas, di sini saya bebas. ..”

    “Mengapa anda berpikir begitu ?” tanya saya.

    “Yah anda tahu kan, kami di negara arab diwajibkan pakai hijab oleh negara.Tidak ada kebebasan bagi wanita…tapi di sini saya bisa berbuat apa saja.Oh ya saya pakai hijab begini sewaktu-waktu saja, kalau ada acarakhusus…sebenarnya saya juga tidak suka bertemu orang arab, mengingatkansaya pada kebodohan dan kekasaran saja…”

    “Lalu bagaimana anda bisa sampai ke US ?” tanya saya.

    “Waktu itu ada program pertukaran pelajar keperawatan dan saya termasuk yang dikirim kesini. Setelah program selesai, saya bertekad untuk tidak kembali. Saya sudah bulat hidup mati di sini. Tapi saya butuh pegangan supaya bisa tinggal di sini kan ? Karena itulah lantas saya kawin dengan orang Bule. Status saya berubah. Saya sudah citizen di sini sekarang…”ujarnya dengan nada bangga.” Saya tidak harus pakai hijab. Saya bisa punyapekerjaan yang baik. Masa depan saya terjamin.” lanjutnya.

    “Jadi anda bahagia sekarang ini ya ?” tanya saya, penasaran mengamati matalentiknya yang resah.

    “Ah jangan begitulah…” ujarnya seraya membuang pandangan jauh kedepan.Dihelanya nafas panjang.

    “Anda tanya soal perkawinan saya kan ? Anda tahu sendiri, orang di sini pagi kawin, sore bisa cerai lagi. Atau kalaupun kawin tidak ada jaminan bakalan setia, maksudku…yah sewaktu-waktu ganti pasangan…atau punya kencan lain…atau tak perlu kawinlah…bikin bengkak beban tax saja…ya memang kadang saya masih ketemu dia…”

    “ Bukan soal itu,” kali ini saya yang memotong.

    “Maksud saya anda sudah peroleh kebebasan yang anda inginkan … apakah anda masih akan terus menghindar dari bangsa anda ?”

    “Memang begitu. Kadang saya ingin datang juga ke perayaan muslim macam Ied ini, sekadar datanglah, makan-minum, ketemu menu yang cocok di lidah. Tapi saya memang nggak nyaman deket-deket orang arab. Nanti dikatakan orang sini teroris lagi ….saya malu kalau orang-orang tahu saya ini muslim.”jelasnya.

    Saya jadi teringat cerita seorang teman dari Mesir sewaktu baru pindah rumah. Tiba-tiba saja tetangganya datang memohon, “Please, jangan ledakkan rumah saya.” Astagfirullah. begitu buruknya gambaran tentang orang Arab atau orang Islam di negeri ini.

    “Eh anda belum jawab pertanyaan saya tadi soal hijab.” sister itumengingatkan.

    “Negara kami tidak pernah mewajibkan hijab. Kami berhijab karena kesadaran.Pada mulanya ini pilihan yang sangat sulit. Sebagian dari kami telah kehilangan pekerjaan bahkan kesempatan untuk sekolah karena berhijab.Sebagian lagi mengalami cacat seumur hidup akibat penyiksaan karena memakai hijab. Belum lagi hinaan dan cemoohan. Tapi muslimah di sana tegar dengan pilihannya. Semakin ditekan, kesadaran berislam semakin tumbuh subur. Jadisangat ironi dengan apa yang terjadi pada diri anda…”

    “ Hey, bukankah negara anda muslim terbesar…?”

    “Memang benar. Sebagian dari kami percaya bahwa pemerintah sangat toleran dengan kaum non muslim. Demi toleransi ini, kalau perlu mayoritas mengalah…begitulah kira-kira, selain banyak lagi masalah lain yang rumit yang tidak bisa anda bayangkan.” Entah mengapa masih saja ada pembelaan dalam jawaban saya. Seburuk-buruknya negeri kita, rasanya masih saja tak rela untuk menyebutnya di depan bangsa lain.

    “Jadi kalau negaramu tidak mengharuskan, kenapa kamu mau pakai hijab ? bodoh sekali bukan ?” tanyanya lagi.

    “Seperti saya katakan tadi, kami melakukannya karena kesadaran sebagai muslimah,” jawab saya.

    “Apa maksudmu ? saya juga muslimah.” sanggahnya.

    “Tahukah anda bahwa tanpa diwajibkan oleh negara anda sekalipun, kewajiban berhijab itu tetap ada ? “ saya balik bertanya.

    “Anda membingungkan.” jawabnya.

    “Lihatlah ini.” jawab saya sembaring menyodorkan Qur’an saku padanya. Saya bukakan ayat tentang hijab di surat al Ahzab.

    “Maksudmu kewajiban itu adalah perintah Tuhan ..?” tanyanya.

    “Tidakkah anda tahu ? atau pernah membacanya ?”

    “Mmm, no.” jawabnya ragu. Saya jadi berpikir jangan-jangan sister ini bahkan tidak punya qur’an di rumahnya.

    “Anda boleh menyimpannya.” lanjut saya. Ia nampak ragu. “Maaf Qur’an ini memang sudah lusuh. Maklumlah saya memilikinya sejak lebih dari 13 tahun lalu waktu masuk universitas. Setidaknya simpanlah, sampai anda punya yang baru…” saya berusaha meyakinkannya.

    “Astaga..selama itu anda menyimpannya ?” tukasnya. Saya tersenyum.

    Yah dia teman saya saat sendirian. Hanya saja saya agak kesulitan menghafalnya, mungkin karena tidak mengerti bahasanya. Karenanya saya selalu membawanya untuk membaca dan mengingat perintah Tuhan.

    Anda beruntung lahir di negara yang berbahasa al Qur’an.” ujar saya. “ Anda tahu, Kebebasan bagi saya adalah terbebasnya dari segala bentuk penghambaan kecuali kepada Allah. Itu sebabnya bagi saya berhijab adalah salah satu bentuk kebebasan, bukannya beban seperti yang anda rasakan.”

    Dia diam saja. Saat itu hujan mulai turun rintik-rintik. Si sulung dan sinomor dua datang sambil berlari-lari kecil.

    “ Is it ashr time ?” tanya si sulung. Saya jawab insya Allah sebentar lagi.

    “Ok,” jawab si sulung. “ Let’s wudu” ajaknya kepada adiknya. Saya ikuti mereka dengan pandangan sayang. Walau kadang bandel, syukurlah kalau soalshalat mereka sangat cinta.

    “Mereka anakmu juga?” tanya sister itu lagi.

    “Ya” jawabku.

    “Berapa umurnya ?”

    “Yang besar hampir 6 tahun, adiknya 4, dan si kecil ini dua bulan lagi tepat 2 tahun.” jawab saya.

    Sister itu terdiam.

    “Kalau kamu jadi saya, apakah kamu akan stay di negara arab ?” tanyanya tiba-tiba.

    “Di manapun kita harus berjuang untuk kebebasan yang sesungguhnya. Berjuanguntuk menegakkan nilai-nilai Tuhan. Meski itu di negara Arab. Bila itu yang anda perjuangkan, dimana pun insya Allah saya mendukung anda” jawab saya.

    “Kalaupun tinggal disini, bila hanya jadi budak nafsu,tidak akan memberi kebahagiaan. Anda harus berjuang untuk kebebasan yang sebenarnya…”

    Sore makin terasa dingin. Waktu saya ajak ke dalam masjid untuk shalat ashar, dia menggeleng.

    “Saya harus pulang.” tuturnya. Dia melangkah perlahan, kali ini tidaktergesa seperti tadi. Saya berdoa mudah-mudahan saja ia masih ingat cara shalat. Di dalam masjid saya berjumpa sister Khadijah dari Palestina. Entah mengapa tiba-tiba ia berkata,

    “Sesungguhnya tugas terberat kami adalah ….mengislamkan orang-orang Arab sendiri.”

    Berceritalah ia tentang sebagian bangsanya yang malu mengaku dirinya muslim. Apa saja dilakukan asal bisa terbebas dari atribut keislaman yang identik dengan terorisme, keterbelakangan dan belenggu kebebasan.

    Teringat saya dengan kondisi di negara kita yang sebenarnya tidak jauhberbeda. Jalan ini masih amat panjang terbentang, mendaki lagi sukar. Kian lama kian terasa seakan menggenggam bara. Saya dan anak-anak pulang ketika gerimis makin membasah. Dua jagoan kami berceloteh tentang karnaval, sementara pikiran saya masih di pertemuan tadi.

    Wa Islama….wa islama…, wahai Islam…wahai Islam, begitulah bisikan syair yang terngiang di telinga saya. Bagaimana kita bisa tegak penuh hargadiri jika umat Islam sendiri malu dengan agamanya ?

    Bagaimana kita dapat menjadi penebar rahmat kalau kita sendiri jauh dari firman sang Pemberi Rahmat?

    Ah..saya jadi ingin merajut malam ini. Tidak, bukan merajut rumah laba-laba yang rapuh tapi merajut permadani yang kuat yang bakalan menerbangkan anakcucu kami ke alam kebebasan,….bebas mencintai tuhannya.

    Wassalam, Ema
    www.imsa.nu
    “Penulis adalah seorang akhwat di Amerika”

  • 0 Comments
  • Filed under: Cerita Islam
  • Jendela Rumah Sakit

    Dua orang pria, keduanya menderita sakit keras, sedang dirawat di sebuah kamar rumah sakit. Seorang di antaranya menderita suatu penyakit yang mengharuskannya duduk di tempat tidur selama satu jam di setiap sore untuk mengosongkan cairan dari paru-parunya. Kebetulan, tempat tidurnya berada tepat di sisi jendela satu-satunya yang ada di kamar itu.

    Sedangkan pria yang lain harus berbaring lurus di atas punggungnya.

    Setiap hari mereka saling bercakap-cakap selama berjam-jam. Mereka membicarakan istri dan keluarga, rumah, pekerjaan, keterlibatan mereka di ketentaraan, dan tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi selama liburan.

    Setiap sore, ketika pria yang tempat tidurnya berada dekat jendela di perbolehkan untuk duduk, ia menceritakan tentang apa yang terlihat di luar jendela kepada rekan sekamarnya. Selama satu jam itulah, pria ke dua merasa begitu senang dan bergairah membayangkan betapa luas dan indahnya semua kegiatan dan warna-warna indah yang ada di luar sana.

    ’Di luar jendela, tampak sebuah taman dengan kolam yang indah. Itik dan angsa berenang-renang cantik, sedangkan anak-anak bermain dengan perahu-perahu mainan. Beberapa pasangan berjalan bergandengan di tengah taman yang dipenuhi dengan berbagai macam bunga berwarnakan pelangi. Sebuah pohon tua besar menghiasi taman itu. Jauh di atas sana terlihat kaki langit kota yang mempesona. Suatu senja yang indah.’

    Pria pertama itu menceritakan keadaan di luar jendela dengan detil, sedangkan pria yang lain berbaring memejamkan mata membayangkan semua keindahan pemandangan itu. Perasaannya menjadi lebih tenang, dalam menjalani kesehariannya di rumah sakit itu. Semangat hidupnya menjadi lebih kuat, percaya dirinya bertambah.

    Pada suatu sore yang lain, pria yang duduk di dekat jendela menceritakan tentang parade karnaval yang sedang melintas. Meski pria yang ke dua tidak dapat mendengar suara parade itu, namun ia dapat melihatnya melalui pandangan mata pria yang pertama yang menggambarkan semua itu dengan kata-kata yang indah.

    Begitulah seterusnya, dari hari ke hari. Dan, satu minggu pun berlalu.

    Suatu pagi, perawat datang membawa sebaskom air hangat untuk mandi. Ia mendapati ternyata pria yang berbaring di dekat jendela itu telah meninggal dunia dengan tenang dalam tidurnya. Perawat itu menjadi sedih lalu memanggil perawat lain untuk memindahkannya ke ruang jenazah. Kemudian pria yang kedua ini meminta pada perawat agar ia bisa dipindahkan ke tempat tidur di dekat jendela itu. Perawat itu menuruti kemauannya dengan senang hati dan mempersiapkan segala sesuatu ya. Ketika semuanya selesai, ia meninggalkan pria tadi seorang diri dalam kamar.

    Dengan perlahan dan kesakitan, pria ini memaksakan dirinya untuk bangun. Ia ingin sekali melihat keindahan dunia luar melalui jendela itu. Betapa senangnya, akhirnya ia bisa melihat sendiri dan menikmati semua keindahan itu. Hatinya tegang, perlahan ia menjengukkan kepalanya ke jendela di samping tempat tidurnya. Apa yang dilihatnya? Ternyata, jendela itu menghadap ke sebuah TEMBOK KOSONG!!!

    Ia berseru memanggil perawat dan menanyakan apa yang membuat teman pria yang sudah wafat tadi bercerita seolah-olah melihat semua pemandangan yang luar biasa indah di balik jendela itu. Perawat itu menjawab bahwa sesungguhnya pria tadi adalah seorang yang buta bahkan tidak bisa melihat tembok sekalipun.

    ’Barangkali ia ingin memberimu semangat hidup,’ kata perawat itu.

    [Source Unknown]
    Taken from Forum_LingkarPena@yahoogroups.com

  • 0 Comments
  • Filed under: Cerita Islam
  • Abul

    Oleh : NR. Ina Huda

    Tiba-tiba berita kematian Abul menggegerkan seisi kampung. Bahkan membuatku jadi terguncang. Abul adalah tokoh yang paling populer di kampung kami. Bukan, bukan karena dia orang penting, tokoh masyarakat ataupun selebritis. Tetapi sosoknya dikenal dan disukai hampir seisi kampung justru karena cerita-cerita yang mengalir dari mulutnya.
    Dia bukanlah orang yang menarik dari segi penampilan. Tubuhnya kurus kecil, rambutnya merah kering dan mukanya tirus agak kepucat-pucatan. Tetapi tingkahnya selalu membuat orang senang. Dia suka sekali berkeliling kampung dan berhenti bila ada sekelompok orang, lalu dia akan bercerita dengan semangat tentang segala hal. Lebih sering yang menyangkut agama. Bukan berdakwah, tapi bahkan sering kali agak melecehkan sikap orang-orang yang sok agamis. Dia tidur di musala karena tak seorang pun tahu di mana sebenarnya rumahnya. Dia rajin membersihkan musala bahkan seringkali menjadi muazin bila waktu menunaikan salat tiba.
    Aku ingat Abul pernah bercerita padaku tentang Badrun, tokoh yang entah datang dari mana.
    “Badrun ini jagonya judi,” begitu dia membuka cerita. “Tak pernah sehari pun dia lewatkan tanpa berjudi. Judi apa saja. Dari menyabung ayam, klitikan pakai dadu, sampai keplek. Dan selalu, tentu saja seperti juga orang lain yang senang berjudi, dia tak pernah menang.”
    “Dia punya kerjaan nggak?” tanyaku.
    “Kerjanya ya judi itu,” sahut Abul.
    “Lantas, dari mana dia dapat uang?”
    “Dari meminta istrinya yang guru SD, atau orang tuanya, atau sekedar memalak teman-temannya.”
    Kami yang mendengarkan jadi mencibir.
    “Suatu kali, dia menipu istrinya. Sepeda yang biasa dipakai istrinya berangkat kerja, dipinjamnya. Katanya dia hendak mencari kerja ke pabrik. Tentu saja si istri tak keberatan. Dia berpikir, mungkin bila Badrun benar-benar mendapatkan pekerjaan, dia akan punya kesibukan dan berhenti berjudi. Karena itu, dia rela meminjamkan sepedanya dan berangkat naik angkutan umum. Tetapi ternyata seharian Badrun tak pulang. Istrinya mulai cemas. Lalu ketika malam harinya dia pulang, si istri menyambutnya dengan perasaan was-was. Dia melihat muka Badrun lecek, pakaiannya kotor bahkan sobek di sana-sini. Si istri berkata, ‘Ada apa denganmu?’ dan Badrun menunduk dengan muka sedih. ‘Sudah kamu dapatkan pekerjaan?’ Badrun menggeleng. ‘Lalu kenapa pakaianmu amburadul begitu?’ Badrun menatap istrinya dengan prihatin, lalu katanya, ‘Aku berkelahi dengan maling.’ Si istri tentu saja terkejut. Dan Badrun pun bercerita. Dia baru saja keluar dari pabrik tekstil setelah menemui bagian personalia untuk melamar menjadi buruh. Tiba-tiba dia melihat seorang maling sedang berusaha mencuri sepedanya di tempat parkir yang kebetulan agak sepi dan tak dijaga oleh Satpam. Tentu saja Badrun bereaksi. Ia mendekati maling itu, tetapi sang maling tiba-tiba memukulnya, Badrun membalas dan jadilah mereka berkelahi. Celakanya Badrun kalah, dan sang maling berhasil membawa kabur sepedanya.”
    “Si istri memandang beberapa saat. Sorot matanya tidak menunjukkan bahwa dia percaya, namun juga tak menunjukkan dia curiga. Badrun menggenggam tangannya dan meminta maaf karena telah membuat istrinya kehilangan benda yang sesungguhnya sangat dibutuhkan. Tetapi karena si istri itu orang yang baik, dia segera memaafkan suaminya dan berkata lain kali dia harus lebih hati-hati.”
    “Dan sepedanya benar-benar hilang?” tanyaku penasaran.
    Abul tersenyum. “Tentu saja tidak. Badrun itu pembohong besar. Yang pasti sepeda itu telah dijualnya dan uangnya habis di meja judi.”
    “Ooo.”
    “Suatu kali istri Badrun merasa putus asa menghadapi tingkah suaminya. Dia pergi ke rumah seorang kiai dan mencurahkan keluh kesahnya di sana. Sang kiai menasihati, ‘Suruhlah Badrun mengenal Al-Quran supaya dia tahu hidup seperti apa yang seharusnya dijalani.’ Si istri menyampaikan hal itu pada Badrun. Badrun termangu-mangu, lalu berkata; ‘Aku, aku pun sebenarnya ingin bertobat. Barangkali benar ucapan Pak Kiai itu. Berilah aku uang, aku akan membeli Al-Quran, membacanya, memahami maknanya dan mudah-mudahan Tuhan memberikan jalan kebaikan buatku.’
    “Karena Badrun mengatakan itu dengan serius dan khusyuk, si istri memberinya uang. Maka berangkatlah Badrun membeli Al- Quran. Tetapi di tengah jalan, tiba-tiba uang itu terjatuh dari saku celananya yang bolong. Badrun kebingungan. Dia kembali dan berkata pada istrinya, ‘Barangkali Tuhan belum mengizinkan aku bertobat. Uang itu hilang.’ Setelah itu Badrun kembali ke kebiasaannya, berjudi.”
    Kami yang mendengarkan semua terdiam. Tetapi Abul tak berkata-kata lagi. Dia ngeloyor begitu saja meninggalkan kami.
    Malamnya, aku mencoba merenungkan cerita Abul. Dan akhirnya sampai pada kesimpulan, bahwa taubat itu datangnya dari nurani yang bersangkutan, bukan dipaksakan. Bila orang telah menemukan jalan taubatnya, apa pun akan dilakukan dan Tuhan akan memberinya petunjuk. Bukan taubat yang disuruh-suruh dan akhirnya mencari berbagai alasan untuk membenarkan diri sendiri.
    Suatu ketika Abul juga membuat orang-orang kampung tercenung. Saat suasana sedang ramai-ramainya karena warga kampung tengah memperingati maulid Nabi Muhammad saw. Ketika sedang istirahat setelah mendengarkan uraian Pak Kiai tentang makna peringatan itu, tiba-tiba seekor anjing besar lewat, dan berhenti di dekat orang-orang yang duduk di emperen musala. Mula-mula mereka tak menggubris. Tetapi ketika anjing itu menyalak dan menjulurkan lidahnya, beberapa wanita mulai ketakutan. Bukan apa-apa, anjing itu anjing liar dan dikuatirkan membawa rabies. Karena itu para wanita segera membaca ayat yang bunyinya; Summum bukmun ‘umyun fahum laa yarji’uun…. Tetapi anjing itu tetap saja menggonggong. Tiba-tiba Abul muncul. Dia mengucapkan ayat di atas keras-keras sambil tangannya meraih batu dan melemparkannya ke arah si anjing. Karuan saja anjing itu lari lintang-pukang. Dengan santainya Abul berkata, “Adakalanya doa saja tidak manjur. Seringkali doa harus dibarengi dengan usaha.”
    Begitu sederhana kalimat itu, tetapi membuat kami semua tercenung. Dan kemudian semua menyetujui ucapan Abul.
    Abul adalah lelaki sederhana, yang setiap hari berkeliling dari satu kampung ke kampung lainnya mengobral cerita. Tetapi selalu saja orang-orang menyukainya karena cerita-ceritanya senantiasa mengandung makna yang dalam.
    “Kenapa kamu tak bekerja saja?” tanyaku suatu hari.
    “Jangan dikira saya tidak bekerja, Mas,” sahutnya. “Saya masih sehat, dan kuat. Saya sering ngetem di pasar dan membantu ibu-ibu dengan membawakan belanjaan mereka, dan untuk itu saya mendapat upah. Yah, jadi kuli bongkok. Kalau pun saya senang berkeliling untuk bercerita, itu hanyalah salah satu cara saya mengisi waktu. Saya kan orang bodoh, sekolah pun cuma tamat SD, jadi hanya pekerjaan kasarlah yang bisa saya lakukan.”
    Aku tersenyum sambil menatapnya.
    “Ada sebuah cerita. Mas mau mendengarkan?”
    Aku cepat-cepat mengangguk.
    “Suatu ketika ada seorang yang cacat kakinya karena suatu kecelakaan dan tak bisa lagi bekerja. Seorang sahabatnya lewat dan menegurnya, ‘Mengapa kamu tidak bekerja? Bagaimana kamu bisa makan bila kamu tak bekerja?’ Orang itu menjawab, ‘Allah Maha Pemurah. Aku tak pernah takut tidak mendapat rezeki-Nya.’ Saat itu melintas di atas mereka seekor burung yang terbang dengan membawa makanan. Kedua orang itu memandanginya hingga di suatu tempat tiba-tiba burung itu menjatuhkan makanannya ke bawah. ketika mereka menengok ke arah bawah, mereka melihat seekor burung lain yang patah sayapnya dan tak bisa terbang. Rupayanya burung yang di atas itu mencarikan makanan buat temannya yang cedera. ‘Lihatlah,’ kata orang itu, ‘bahkan burung kecil yang tak bisa terbang pun tetap bisa makan.’ Si sahabat berkata’ memang benar, burung itu tetap bisa makan meski tak bisa terbang mencari sendiri makanan. Akan tetapi burung yang di atas pasti lebih mulia karena bisa terbang dan mencarikan makanan untuk temannya.”
    Aku kagum pada cerita Abu. Tetapi Abul sendiri bersikap santai.
    “Karena itu, aku harus tetap bekerja untuk mencari rezeki Allah. Aku tidak mau menjadi burung yang hanya bisa menggelepar menanti ada yang membari makanan.”
    Beberapa hari belakangan ini Abul tidak muncul. Orang-orang di kampung menduga-duga apa yang telah terjadi padanya. Pak Sanu, Ketua RT kami menduga mungkin Abul sedang pulang ke desa asalnya entah di mana itu. Yang lain berpikir Abul sedang berkeliling di kampung lain yang letaknya cukup jauh. Tetapi di atas semua itu, sesungguhnya kami merasa cemas. Entah mengapa Abul telah menjadi bagian dari kami. Abul seperti sesuatu yang telah menyatu dengan jiwa kami sehingga terasa ada yang kurang bila ia tiba-tiba tak muncul.
    Aku sendiri mencoba mencarinya di pasar, di tempat dia biasa ngetem. Tetapi ibu-ibu yang selama ini menerima jasanya pun pada kehilangan.
    “Abul itu orangnya baik. Diberi berapa pun tak pernah mengeluh,” kata salah seorang ibu.
    “Betul. Bahkan saya pernah memberinya cuma tiga ratus perak karena cuma segitu uang sisa belanja saya. Padahal belanjaan saya segunung. Dan dia mengeluarkan banyak keringat untuk membawakannya. Tetapi dia tersenyum dan mengucapkan terima kasih,” timpal ibu yang lain.
    Aku semakin merasa kehilangan. Sosok Abul yang kurus kering dengan rambut merah dan muka pucatnya semakin nyata mengganggu perasaan kehilanganku. Abul memang bukan siapa-siapa. Dia bukan pejabat, tokoh masyarakat atau selebritis. Tetapi kehadirannya melebihi mereka di dalam satu sudut hatiku. Karena lewat Abul aku telah memperolah banyak pelajaran. Abul, di manakah kamu?
    Genap satu minggu sejak ketidakmunculannya, ketika tiba-tiba kudengar berita yang mengejutkan. Abul meninggal dunia!
    Berita itu sontak menggegerkan kampung kami. Semua hampir tidak mempercayainya, tetapi Somad, salah seorang tetangga kami yang membawa berita itu, mencoba meyakinkan.
    “Benar, aku yakin orang itu Abul. Aku mengenalnya dengan baik.”
    “Bagaimana dia meninggal?” tanyaku penasaran.
    “Kebetulan tadi aku sedang beristirahat di mushola kampung Jetayu. Hari-hari belakangan ini Abul memang berada di kampung itu. Aku baru pulang dari rumah Agus sehabis menjual ayam. Di musholla itu kulihat orang-orang tiba-tiba berkerumun di sumur. Karena penasaran aku ikut melihat. Apa yang terjadi?” Somad memandang kami satu persatu. Kami semua menggeleng dengan penuh rasa cemas.
    “Abul sudah tergeletak di sana. Kepalanya berdarah.”
    “Bagaimana itu bisa terjadi?” tanya Pak RT dengan terkejut.
    “Kata orang-orang di sana, dia terpeleset ketika sedang menimba. Abul menimba air untuk mengisi bak di kamar mandi musholla itu.”
    Abul meninggal karena terpeleset di sumur ketika sedang menimba air? Betapa sederhananya kematiannya.
    “Mungkin geger otak,” kata Somad lagi.
    “Apakah tidak ada yang mencoba menolongnya?” tanya Umar.
    “Orang-orang membawanya ke Puskesmas terdekat, tetapi nyawanya tidak tertolong. Kepalanya memar dan dia banyak mengeluarkan darah.”
    Orang-orang tertunduk. Aku sendiri tak menyadari airmataku tiba-tiba menetes. Tetapi aku tak ingin menghapusnya. Tak perlu malu. Abul adalah bagian dari kehidupan kami. Abul adalah sosok yang tanpa disadarinya telah banyak membawa kesadaran di hati kami. Kesadaran akan hidup dan makna kehidupan. Abul begitu berharga bagi kami. Tetapi Allah telah memangilnya, dengan cara yang begitu sederhana. Sesederhana pikiran-pikiran Abul, cerita-cerita Abul, namun senantiasa mengandung makna yang dalam.
    Atas kesepakatan bersama, jenazah Abul dikuburkan di kampung kami, dan kami semua mendoakan kepergiannya dengan tulus.
    Ketika meninggalkan makam Abul, aku ingat kata-katanya tentang kematian, “Seperti pintu yang terbuka setiap waktu, dan semua orang harus melewatinya. Tetapi hanya orang-orang yang dicintai Allah yang merasakan kematian sebagai perjalanan yang indah menuju keabadian.”

    sumber : Annida

  • 0 Comments
  • Filed under: Cerita Islam
  • Ketika Rijal Harus Memilih

    Mentari pagi menemani perjalanan Rijal ke sekolahnya. Ada sekitar 300 meteran dari jalan raya menuju sekolah Rijal. Perjalanan itu ia lalui dengan kecepatan sedang, karena waktu baru menunjukkan pukul 06.45 WIB. Sedangkan ia baru masuk pada pukul 07.15 WIB.

    Sinar mentari tidak-lah terlalu garang. Justru bersahabat karena sinar mudanya menyehatkan tubuh. Namun Rijal sama sekali tidak tertarik untuk menikmati sinarnya. Karena ia sedang gamang, hatinya pada kegundahan yang bergelora.

    “Lihat Juli, kakakmu, Rijal! Dia aktif. Ketua OSIS di sekolah-nya waktu dia masih SMU. Bahkan kesibukannya jadi ketua OSIS, tidak menghalangi dia untuk tetap jadi juara kelas.” Tukas Papa Rijal suatu ketika, sorenya saat hari itu dia dinyatakan diterima di salah satu SMU di Bandar Lampung. Memang bukan sekolah unggulan pertama, tapi SMU yang akan dia masuki itu berada di jajaran SMU favorite di kotanya.

    “Tapi Pa, kan Rijal sibuk di Grup Band Rijal. Rijal nggak bisa ikut kegiatan gituan. Nggak ada waktu.”

    “Kamu ini. Apa sih yang didapat dari main band? Cuma sekedar hura-hura. Nggak ada manfaatnya itu.”

    “Ah Papa. Musik kan juga bisa ngasilin uang.”

    “Memang, Tapi Papa nggak mau kalau kamu besar nanti jadi pemusik. Nggak kepingin tah kamu jadi Om Heru? Sekarang jadi menejer di perusahan besar. Masa depannya lebih terjamin. Kalau kamu cuma jadi pemusik, kamu cuma bisa dapat uang banyak waktu kamu terkenal saja. Saat kamu tidak lagi terkenal, otomatis karirmu terhenti.”

    “Papa selalu deh ngebandingin Rijal dengan orang laen. Rijal pengen jadi diri Rijal sendiri.”

    “Rijal, sampai kapan kamu selalu membantah omongan orang tua?”

    “Sudah-sudah. Jangan bertengkar terus. Nggak Papa, nggak anak, selalu ribut, selalu beda pendapat. Coba sekali-kali akur gitu.” Mama Rijal menengahi keributan itu. “Rijal, katanya kamu ada latihan jam lima. Ini sudah jam empat lho. Mandi lagi sana.” Lanjut Mam Rijal.

    “Ih, ibu ini. Malah memberi kesempatan Rijal hura-hura dengan teman-temannya.”

    “Nggak papa tho Pa, dia kan masih muda. Perlu kesenangan juga. Kita kan dulu pernah muda juga.” Bela Mama Rijal.

    “Ah, nggak Mamanya, nggak anaknya, semua pada suka membantah.” Papa Rijal kesal. Dan kemudian meneruskan bacaan korannya.

    Dialog itu membayang di benak Rijal. Mengantarnya ke kelas yang baru seminggu ia tempati.

    Begitulah, Rijal dituntut oleh kedua orangtuanya untuk mengikuti jejak kakaknya. Aktif di organisasi dan berprestasi besar. Dia sendiri ogah untuk mengikuti organisasi di sekolah barunya. Dia lebih cenderung untuk menyibukkan diri dengan teman-temannya di grup bandnya. Itulah yang menyebabkannya bimbang kini.

    *****

    “Rendi, lu ikut yang mana kira-kira. Paskibra, PMR, Pramuka, KIR, Pecinta Alam, Olahraga? Atau lu mau ikut Ro… apaan tuh yang ada islam-islamnya?” Tanya Rijal kepada Rendi, temannya yang baru seminggu ia kenal semenjak Masa Orientasi Siswa.

    Ini hari terakhir Masa Orientasi Siswa, atau yang disingkat dengan MOS. Ada pertunjukkan dari semua organisasi ekstrakurikuler di lapangan. Semua siswa kelas satu berada di pinggir lapangan menyaksikan pertunjukan yang akan dibawakan oleh kakak kelasnya, yang merupakan utusan dari ekskulnya masing-masing.

    “Rohis maksud lu?” Tanya Rendi balik.

    “Yo’e. Lu tertarik? Biar jadi alim kan. Ciee.”

    “Nggak tau tuh. Males kayaknya ikut ekskul. Mendingan gua maen play station di rumah. Nggak diwajibin kan ikut ekskul?”

    “Nggak kok. Kalau sama sekolah nggak diwajibin. Tapi kalo sama ortu gua diwajibin. Gua harus ikut biar kayak kakak gua yang dulu ketua OSIS. Pusing juga gua jadinya.”

    “Kaciaan.”

    “Lu jadi penasehat gua ya, Ren. Tunjukin yang mana kira-kira ekskul yang cocok untuk orang cute kayak gua ini.”

    “Ok deeh.”

    Sebuah organisasi mendapat giliran mengadakan pertunjukkan di tengah lapangan. Mereka membawa dua bejana kecil, berisi zat kimia. Kemudian mencampurnya di atas meja yang telah di persiapkan. Asap warna warni tak lama mengepul dari bejana yang telah dicampur dua zat berlainan itu. Penonton bertepuk tangan.

    “Itu aja Jal. Nambah pengetahuan lu kan.” Nasehat Rendi.

    “Ih, gua ogah sama yang begituan. Nanti botak lagi kepala gua.”

    “Dasar lu, ngomong aja kalo lu bego.”

    Tak lama, gantian sebuah organisasi mengadakan pertunjukan baris berbaris di depan.

    “Nah, itu aja. Bisa nambah disiplin.” Nasehat Rendi lagi.

    “Ah males. Gua mau yang bebas. Nggak mau yang diatur-atur.”

    “Dasar lu, ngomong aja kalo lu pemales.”

    Kemudian sebuah organisasi mengadakan pertunjukkan. Tujuh orang maju ke depan. Mereka menyanyikan lagu keislaman. Suaranya cukup harmonis. Lirik lagunya pun menyentuh.

    “Nah, itu aja. Biar lu jadi anak yang soleh.”

    “Ah males. Ngaji gua belum lancar. Lagian tuh grup musik kok aneh? Nggak make alat musik.”

    “Oh, itu namanya nasyid. Memang nggak make musik. Tapi make suara mulut kayak acapella.”

    “Ih, kuno amat ya? Enakan dengerin Padi, musiknya ok punya. Nggak mau lah gua ikut begituan.”

    “Dasar lu, ngomong aja kalo lu bejat.”

    “Lu komentar m’lulu dari tadi.” Rijal sebal.

    Akhirnya sampai selesai acara, tidak ada satu organisasi pun yang tertarik di hati Rijal. Ia lebih menggandrungi dunia musik. Dari pada ikut organisasi ekstra kurikuler.

    *****

    Sholat jum’at sudah selesai dilaksanakan di masjid sekolah Rijal. Murid dan guru sudah banyak yang meninggalkan masjid. Rijal masih terpaku di tempat duduknya. Terngiang kembali perdebatan alot antara dia dan orangtuanya.

    “Nggak ada yang menarik Paa. Ngeliat pertamanya aja udah bosen. Papa ini gimana sih. Orang nggak mau juga, pake dipaksain segala.” Suara Rijal meninggi setelah dia didesak oleh Papanya untuk mengikuti salah satu organisasi ekstrakurikuler di sekolahnya.

    “Ini kan juga untuk kepentingan kamu.”

    “Kepentingan sih kepentingan. Tapi liat selera orang dong. Masak yang nggak selera di paksain. Nanti muntah jadinya.”

    “Pokoknya Papa nggak mengizinkan kamu ikut band lagi. Papa nggak akan membelikan kamu gitar listrik. Dan uang jajan kamu juga akan dikurangi kalau tidak mau ikut organisasi di sekolah. Titik.” Papa Rijal mengeras. Kemudian berlalu memasuki kamarnya.

    Tinggal Rijal terpekur ditemani ibunya.

    “Ikut saja lah kata Papamu itu. Toh, Papa itu sayang kamu. Ingin melihat kamu jadi orang besar nantinya.” Suara Mama Rijal lembut.

    “Ma… Mama masih bisa ngertiin Rijal kan?”

    “Ia sayang.”

    “Rijal pengen jadi apa yang Rijal mauin. Rijal nggak suka dipaksa-paksa.”

    “Ok, Rijal sekarang pengen jadi pemusik. Tapi ingat, Rijal masih muda. Keingingannya sering berubah-ubah. Dulu Rijal ingin jadi pilot, eh nggak lama berrubah ingin jadi astronot. Seperti Tasya saja. Lalu Rijal lihat orang pembawa bendera, Rijal ingin menjadi paskibraka. Tak lama Rijal melihat paskibraka itu menyerahkan bendera kepada pesiden, eh Rijal malah ingin jadi presiden.”

    Rijal tersenyum lucu. “Iya ya Ma. Terus, gimana dong Rijal. Rijal sekarang pengen bener jadi pemusik.”

    “Udah, gini aja. Rijal ikut aja dulu organisasi, lalu kalau Rijal tidak betah, Rijal boleh keluar. Terus Rijal lanjutin maen musiknya. Insya Allah Mama nanti yang bilangin ke Papa.”

    Rijal tersenyum girang. Mamanya selalu menjadi penyejuk duka. “Makasih ya, Ma.”

    Rijal menemukan jalan keluarnya. Dan kini dia berupaya membetahkan diri untuk mengikuti organisasi. Namun organisasi yang mana yang ia ikuti?

    “Assalamualaikum..” Sebuah sapaan membuyarkan lamunan Rijal yang sedari tadi terpekur di masjid sekolahnya.

    “Wa..waalaikum salam.” Rijal terkejut.

    “Ayo Dik, kumpul.” Seorang kakak mengajaknya bergabung ke salah satu lingkaran di sudut masjid. “Yang lain sudah duluan.

    Rijal tak mengerti. Tapi diikutinya juga perintah kakak kelas itu.

    Rijal baru tahu. Ini seperti sebuah acara pengajian. Ada membaca Al-Qur’an bergiliran. Dan ada ceramah seperti yang diikutinya saat ini.

    “Islam itu agama yang indah dan sempurna. Karena dikonsep oleh Dzat Yang Maha Indah dan Maha Sempurna. Ajaran Islam mencakup dari persoalan ibadah, kedisiplinan, keilmuan, sampai kesenian.”

    Rijal mengerti. Ini acara Rohis. Rohani Islam.

    “Islam mengajarkan disiplin. Contohnya adalah sholat lima waktu. Islam mewajibkan kita menuntut ilmu. Sehingga lahirlah sosok Ibnu Sina. Islam menyuruh kita berolahraga, seperti memanah, berkuda, beladiri, dan sebagainya. Islam juga memiliki kesenian. Contohnya yang sudah dibawakan oleh kakak-kakak kita saat pertunjukkan kemarin. Sudah lihat kan?”

    “Sudah.” Jawab anak yang lain.

    “Kemarin itu namanya nasyid. Seni Islam sebagai alternatif dari seni yang ada. Yang cenderung mempengaruhi pemuda Islam untuk terkapar di lumpur yang bernama dunia. Dan melupakan akhirat.

    Seni Islam lahir untuk menyaingi itu semua. Syairnya mengajarkan cinta kasih Islam. Dan nggak kalah bagus kan?”

    Rijal membenarkan di hatinya. Memang bagus. Dan liriknya juga indah.

    Hidayah Allah mulai menyentuh hati Rijal.

    Dan acara itu berakhir. Rijal terkesan dengan penggambaran Islam oleh Kak Syaiful tadi. Selama ini, ia hanya terkukung dengan pemahaman Islam yang terbatas. Kak Syaiful telah membuka jendela hatinya, melihat bahwa Islam begitu luas dan lapang. Tidak seperti yang selama ini ia pikirkan.

    Ia mengakui kalau dirinya selama ini malas menerapkan Islam dan malu apabila terlihat beratribut Islam. Seharusnya dia bangga.

    Rijal mengerti kini. Ia telah mendapatkan jawabannya.

    *****

    “Ma, Rijal udah nemuin ekskul yang oke punya.” Ungkap Rijal pada Mamanya di malam harinya.

    Mamanya sedang membaca majalah di ruang tengah.

    “Oya?”

    “Iya. Organisasi itu bener-bener hebat. Bisa ngebahagiain Rijal dunia maupun akhirat.”

    “Dunia akhirat?” Tanya Mamanya menyelidik.

    “Iya. Rohani Islam namanya. Mama setuju kan?”

    Mata Mama Rijal berbinar. Selama ini Rijal sulit apabila disuruh belajar mengaji. Walau sudah didatangkan ustadz. Apalagi untuk belajar ilmu keislaman.

    Padahal Mama Rijal terlanjur membayangkan ada anaknya yang mengajarinya ilmu keislaman kelak. Yang mengingatinya untuk sholat apabila ia sudah pikun nanti. Dan bayangan itu hampir hilang, karena tidak ada satu pun anaknya yang mau belajar Islam. Juli, kakak Rijal, lebih kepada belajar dan berorganisasi saja. Dan organisasi yang diikutinya tidak ada yang berbau keislaman. Juli sudah dibujuk oleh Mamanya untuk ikut acara Remaja Islam Masjid di Masjid dekat rumah. Namun ia tidak mau.

    Rijal lain lagi, ia sibuk dengan musiknya.

    Dan kini, Rijal-lah harapan itu.

    “Rijal mau aktif di sana, Insya Allah.”

    “Alhamdulillah. Mama senang mendengarnya.”

    Air mata Mama Rijal meleleh. Di dekapnya kepala anaknya

    sumber : muslimmuda.com

  • 0 Comments
  • Filed under: Cerita Islam
  • Kalung Mutiara Anisa

    Ini cerita tentang Anisa, seorang gadis kecil yang ceria berusia lima tahun. Pada suatu sore, Anisa menemani Ibunya berbelanja di suatu supermarket.

    Ketika sedang menunggu giliran membayar, Anisa melihat sebentuk kalung mutiara mungil berwarna putih berkilauan, tergantung dalam sebuah kotak berwarna pink yang sangat cantik. Kalung itu nampak begitu indah, sehingga Anisa sangat ingin memilikinya.

    Tapi… Dia tahu, pasti Ibunya akan berkeberatan. Seperti biasanya, sebelum berangkat ke supermarket dia sudah berjanji : Tidak akan meminta apapun selain yang sudah disetujui untuk dibeli. Dan tadi Ibunya sudah menyetujui untuk membelikannya kaos kaki ber-renda yang cantik.

    Namun karena kalung itu sangat indah, diberanikannya bertanya “Ibu,bolehkah Anisa memiliki kalung ini ? Ibu boleh kembalikan kaos kaki yang tadi… “ Sang Bunda segera mengambil kotak kalung dari tangan Anisa.Dibaliknya tertera harga Rp 15,000. Dilihatnya mata Anisa yang memandangnya dengan penuh harap dan cemas.

    Sebenarnya dia bisa saja langsung membelikan kalung itu, namun ia tak mau bersikap tidak konsisten…

    “Oke … Anisa, kamu boleh memiliki kalung ini. Tapi kembalikan kaos kaki yang kau pilih tadi. Dan karena harga kalung ini lebih mahal dari kaos kaki itu, Ibu akan potong uang tabunganmu untuk minggu depan. Setuju ?”

    Anisa mengangguk lega, dan segera berlari riang mengembalikan kaos kaki ke raknya.“Terimakasih…, Ibu”

    Anisa sangat menyukai dan menyayangi kalung mutiaranya. Menurutnya, kalungitu membuatnya nampak cantik dan dewasa. Dia merasa secantik Ibunya.Kalung itu tak pernah lepas dari lehernya, bahkan ketika tidur.Kalung itu hanya dilepasnya jika dia mandi atau berenang. Sebab, kata ibunya, jika basah, kalung itu akan rusak, dan membuat lehernya menjadi hijau…

    Setiap malam sebelum tidur, Ayah Anisa akan membacakan cerita pengantar tidur. Pada suatu malam, ketika selesai membacakan sebuah cerita, Ayah bertanya “Anisa…, Anisa sayang ngga sama Ayah ?” “Tentu dong… Ayah pasti tahu kalau Anisa sayang Ayah !” “Kalau begitu, berikan kepada Ayah kalung mutiaramu…” “Yah…, jangan dong Ayah ! Ayah boleh ambil “si Ratu” boneka kuda dari nenek… ! Itu kesayanganku juga““Ya sudahlah sayang,… ngga apa-apa !”. Ayah mencium pipi Anisa sebelum keluar dari kamar Anisa.

    Kira-kira seminggu berikutnya, setelah selesai membacakan cerita, Ayah bertanya lagi, “Anisa…, Anisa sayang nggak sih, sama Ayah ?” “Ayah, Ayah tahu bukan kalau Anisa sayang sekali pada Ayah ?“.”Kalau begitu, berikan pada Ayah kalung mutiaramu.““Jangan Ayah… Tapi kalau Ayah mau, Ayah boleh ambil boneka Barbie ini. “ Kata Anisa seraya menyerahkan boneka Barbie yang selalu menemaninya bermain.

    Beberapa malam kemudian, ketika Ayah masuk kekamarnya, Anisa sedang duduk di atas tempat tidurnya. Ketika didekati, Anisa rupanya sedang menangis diam-diam. Kedua tangannya tergenggam di atas pangkuan. Dari matanya,mengalir bulir-bulir air mata membasahi pipinya…“Ada apa Anisa, kenapa Anisa ?”

    Tanpa berucap sepatah pun, Anisa membuka tangannya. Di dalamnya melingkar cantik kalung mutiara kesayangannya “ Kalau Ayah mau… ambillah kalung Anisa”

    Ayah tersenyum mengerti, diambilnya kalung itu dari tangan mungil Anisa.Kalung itu dimasukkan ke dalam kantong celana. Dan dari kantong yang satunya, dikeluarkan sebentuk kalung mutiara putih… sama cantiknya dengan kalung yang sangat disayangi Anisa…“Anisa… ini untuk Anisa. Sama bukan ?

    Memang begitu nampaknya, tapi kalung ini tidak akan membuat lehermu menjadi hijau”

    Ya…, ternyata Ayah memberikan kalung mutiara asli untuk menggantikan kalung mutiara imitasi Anisa. Demikian pula halnya dengan Allah s.w.t..Terkadang Dia meminta sesuatu dari kita, karena Dia berkenan untuk menggantikannya dengan yang lebih baik. Namun, kadang-kadang kita seperti atau bahkan lebih naif dari Anisa : Menggenggam erat sesuatu yang kita anggap amat berharga, dan oleh karenanya tidak ikhlas bila harus kehilanga

    sumber : milist

  • 0 Comments
  • Filed under: Cerita Islam
  • Karena Iman

    Pada zaman dahulu ada seorang raja yang mempunyai tukang sihir. Ketika tukang sihir itu telah menjadi tua, ia berkata kepada raja : “Wahai raja , saya telah tua, untuk itu kirimkanlah kepada saya seorang anak untuk mempelajari ilmu sihir agar nanti bisa menjadi pengganti saya bila saya meninggal.” Lalu raja memilih anak (Ghulam) untuk mempelajari ilmu sihir, dan adalah jalan yang dilalui oleh Ghulam ke rumah tukang sihir terdapat Rahib (pendeta). Ghulam tertarik dengan Rahib itu, hingga ia duduk untuk mendengarkan ajaran-ajarannya dan ia merasa puas. Maka ia selalu terlambat untuk belajar pada tukang sihir, lalu ia dipukulinya. Kemudian ia mengadu kepada Rahib, lalu Rahib berkata: “Kalau kamu dipukul tukang sihir, katakan kepadanya bahwa kamu masih disuruh ibumu, dan kalau kamu dimarahi oleh ibumu katakan kepadanya bahwa kamu ditahan oleh tukang sihir, maka hal itu berjalan dengan baik.”

    Pada suatu hari di jalan raya terdapat ular yang sangat besar, hingga jalan menjadi macet dan orang-orang sama ketakutan, lalu Ghulam maju sambil berkata : “Hari ini saya akan mengetahui, tukang sihirkah yang lebih besar ajarannya ataukah sang Rahib, lalu ia mengambil batu dan melemparkan ular itu seraya berkata : “Ya Allah, jika ajaran Rahib yang benar daripada ajaran tukang sihir, maka matikanlah ular ini supaya orang-orang bisa berjalan dengan aman.” Maka ular itupun mati dan orang-orang bisa meneruskan perjalanannya. Hal itu ia ceritakan kepada Rahib, lalu Rahib berkata : “Wahai anakku, kini kamu lebih hebat daripadaku, dan kamu akan mendapat ujian yang sangat berat, maka jika hal itu telah datang, kamu jangan sekali-kali menyebut nama saya.”

    Ghulam mendapat karunia dari Allah hingga ia dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit seperti buta, belang dan lain-lainnya. Salah seorang kawan raja ada yang buta dan ia telah berobat ke mana saja tetap belum juga sembuh, lalu dia datang kepada Ghulam dengan membawa hadiah-hadiah yang banyak, ia berkata : “Jika kamu dapat menyembuhkan, maka seluruh permintaanmu akan kami penuhi.” Ghulam menjawab : “Saya tidak dapat menyembuhkan, yang bisa menyembuhkan hanyalah Allah, kalau tuan mau beriman kepada Allah, maka saya akan berdo’a untuk kesembuhan tuan.” Lalu ia beriman kepada Allah, setelah Ghulam berdo’a kepada Allah, seketika itu juga mata orang itu menjadi sembuh. 

    Kemudian orang itu mendatangi raja, lalu kagum kepadanya seraya bertanya : “Siapakah yang telah menyembuhkan matamu?” Ia menjawab : “Tuhanku.” Raja bertanya : “Adakah Tuhan selain aku ?” Ia menjawab : “Tuhanku dan tuhan raja adalah Allah.” Lalu raja memaksa ia meninggalkan kepercayaannya kepada Allah. Tetapi ia menolak. Maka raja menyiksanya dan terus menyiksanya hingga ia menunjukan bahwa yang telah menyembuhkan matanya adalah Ghulam. Kemudian raja memanggil Ghulam, lalu berkata kepadanya : “Wahai anakku, sihirmu telah melampaui batas hingga dapat menyembuhkan penyakit buta dan belang.” Ia menjawab : “Saya tidak dapat menyembuhkan apa-apa, sesungguhnya yang dapat menyembuhkan hanyalah Allah.” Maka raja menyiksa dan terus menyiksa hingga ia terpaksa menunjukkan sang Rahib, lalu raja memanggil Rahib dan memerintahkan kepadanya agar meninggalkan agamanya, tetapi ia menolak. Dan akhirnya Rahib digergaji hingga badannya belah menjadi dua. 

    Lalu raja memerintahkan kepada orang yang telah sembuh dari butannya agar meninggalkan agamanya, tetapi ia menolak, maka iapun akhirnya digergaji seperti sang Rahib, kemudian giliran Ghulam diperintahkan untuk meninggalkan agamanya, tetapi iapun menolak, lalu raja memerintah tentara-tentaranya untuk membawa Ghulam keatas bukit dan kalau tetap menolak supaya dilemparkan. Lalu mereka berangkat dan ketika sampai di atas bukit Ghulam berdo’a : “Ya Allah, peliharalah saya dari kejahatan orang-orang ini.” Tiba-tiba bukit ini bergoncang dan tentara-tentara itu jatuh dari atas bukit, mereka mati. Maka Ghulam berangkat menghadap raja, lalu ia ditanya oleh raja : “Kemana tentara-tentara yang tadi bersamamu ?” Ia menjawab : “Allah telah menyelamatkan saya dari kejahatan mereka.” Lalu raja memerintahkan beberapa tentara lainnya untuk membawa Ghulam ke tengah laut dan bila masih tetap menolak untuk dilemparkan ketengah laut. Lalu mereka berangkat dan setelah mereka sampai di tengah laut, Ghulam berdo’a : “Ya Allah, peliharalah saya dari kejahatan orang-orang ini.”

    Tiba-tiba datanglah ombak besar hingga perahu terbalik dan mereka tenggelam semuanya, lalu Ghulam kembali menghadap raja, dan ia ditanya : “Kemana tentara-tentara yang membawamu tadi ?” Ia menjawab : “Allah telah melindungi kami dari kejahatan mereka, wahai raja engkau tidak akan bisa membunuh saya melainkan bila raja mau menuruti perintah saya.” Lalu raja bertanya : “Apa perintahmu itu ? Ia menjawab : “Kumpulkan semua rakyat di alun-alun lalu salib saya pada sebuah tiang dan ambilah panahku. Kemudian panahlah aku sambil mengucapkan : Bismillahir Rabbil Ghulam (dengan nama Allah Tuhannya Ghulam), bila itu engkau lakukan maka engkau dapat membunuhku.”

    Maka segeralah raja mengumpulkan semua rakyatnya di alun-alan, lalu ia menyalib Ghulam pada sebuah tiang. Kemudian ia memanahnya dengan panah Ghulam sambil membaca : Bismillahir Rabbil Ghulam, maka panah itu mengenai pelipis Ghulam dan mengucurkan darah segar dari pelipisnya. Lalu ia meletakkan tangannya di atas luka-lukanya, hingga ia mati. Tiba-tiba rakyat yang menyaksikan kejadian itu serentak mengucapkan : Amanna bi Rabbil Ghulam (kami beriman kepada Tuhannya Ghulam), sehingga kepercayaan kepada Allah merata kepada semua lapisan rakyat. Maka seorang pembantu raja berkata kepada raja : “Sesuatu yang tuan takuti kini benar-benar telah menjadi kenyataan, semua rakyat tuan telah beriman kepada Tuhannya Ghulam.” Maka segeralah raja memerintahkan untuk membuat parit besar pada setiap persimpangan jalan, lalu dinyalakan api di dalamnya. Kemudian raja memerintahkan kepada pembantu-pembantunya untuk melemparkan ke dalam api tersebut siapa saja yang telah beriman kepada Tuhannya Ghulam. Maka diantara orang yang telah beriman yang dibakar itu terdapat seorang ibu yang menggendong bayi, ketika ia mau masuk ke dalam api itu ia menjadi maju mundur karena tak tega anaknya ikut terbakar, dalam keadaan itu tiba-tiba bayi itu dapat berbicara (menasehati ibunya) : “Wahai ibu, bersabarlah engkau karena engkau berada di pihak yang benar.”

    Sumber :1001 KISAH NYATA, Achmad Sunarto

  • 0 Comments
  • Filed under: Cerita Islam
  • Lagu Kekalahan

    Oleh : Ragdi F. Daye

    Tergesa kucomot minyak rambut dari kemasan, meratakannya di telapak tangan, kemudian mengacak-acak rambut sampai terminyaki rata. Kuraih sisir berdiri di depan cermin. Menyisir cepat-cepat.

    Kuperhatikan rautku di cermin yang sedikit terkotori debu yang datang dari jendela kamar yang tiap pagi kubuka. Rambutku hitam. Sebenarnya tanpa disisir aku malah kelihatan ganteng seperti Ricky Martin. Ganteng? hehehe… masa iya sih? Tapi memang, alisku hitam lebar. Hidungku mancung dan ada patahan di antara mata. Bibirku me…, ech… “alhamduliLlahi Allahumma kamaa hasanta kholqi fa hasin khuluqi.” Lirih, ingat juga ku berdoa. Mensyukuri wajahku yang tidak jelek.

    Aku tersenyum. Senyumku kata teman-teman seperti senyum Panji Manusia Milenium. Senyum Bang Panji yang sedang sakit gigi kali. Ah kalau sudah melihat wajahku di cermin, bisa-bisa sampai sore aku tak kan beranjak dari kaca. Aku dengan seenaknya akan merasa wajahku mirip si Anu, mataku seperti mata artis itu, telingaku seperti telinga tokoh itu, gigiku bagai anu, daguku mirip dagu aktor itu, rahangku…

    Ku pasang kacu pramuka merah putih yang tadi telah menyita banyak waktuku untuk mencatinya. Hampir seperempat jam aku mengaduk-aduk isi kamar ternyata segitiga penuh makna itu terserak di bawah lemari. Entah bagaimana bisa sampai ke sana.

    Kulirik jam belajar hadiah ulang tahun dari seseorang pada masa laluku dulu di atas meja. Oalah Rabbi… sudah pukul tujuh lewat lima! Busyeet. Terlambat sudah.

    Tergesa kupasang kaus kaki hitam. Menyorong kaki ke sepatu. Membuhul tali, menyambar tas kampus abu-abuku, berlari ke pintu.

    Ciiiittt…!! Aku mengerem lariku.

    Oh Tuhan! Hari apa sekarang? Sabtu? Sabtu apa Jum’at? Sabtu! Pelajaran apa sekarang? Hadap kiri, grak! Fisika tiga jam, agama dua jam, bahasa Indonesia dua jam. Oh My God! Bukankah hari ini ujian Fisika?

    Aku menggaruk-garuk hidungku yang tak gatal dengan putus asa. Ah masa bodoh. Toh IQ-ku nggak jongkok-jongkok amat. Peduli amat belum belajar. Selama ini khan aku sering latihan soal. Pasti nanti aku bisa menjawab soal ulangan. Tapi, ulangan bab lalu aku Cuma dapat enam, padahal sudah belajar semalam suntuk. Lalui sekarang? Apa aku bisa mendapat nilai di atas enam dengan keadaan mendadak begini? Riskan sekali.

    Alaah, cuek aja! Kali aja nanti aku kejatuhan mukjizat dari loteng. Bnisa sukses ulangan meski belum belajar barang sepokok bahasan pun. Bukan mustahil khan sodara-sodara?

    Setelah men-swzzzzsh-swzzzsh-kan axe ke bagian-bagian sensitif air di tubuhku, kubuka pintu dengan bergegas.

    Dugh…!!!

    “Masya Allah si Tempe, nyeruduk-nyeruduk kayak buldoser. Mo jadi tukang gusur?” Tanya seseorang yang tertumbuk olehku di depan pintu kamar.

    Ah dasar Nyap-Nyap. Paling senang lihat orang sengsara. Tak kupedulikan si Bawel Nining yang – maaf – adalah kakakku yang tanpa acara serah terima enak saja selalu memanggilku dengan si Tempe. Kutemui Amak (ibu) yang sibuk membuat telur dadar mata jengkol (istilahku karena masakan itu spesial untuk bokap tercinta yang punya mata sekembaran pimpong) di dapur.

    “Maa, mau pergi nih.”

    “Ya. Hati-hati di jalan ya!”

    “Maa, pergi Ma.”
    ”Iya!” Amak masih asyik dengan penggorengannya. Tewas aku! Sudah dua belas menit melangkah dari pukul tujuh.

    Aje gilleee…! Jatah belom cair juga.

    “Iya-iya, tapi ongkosnya mana? Ih, Amak ini.”

    “Lho, yang kemarin?” Amak menoleh ke arahku. “Khan untuk beli obat tadi malam Amak kasih uang lima ribu. Sisanya belum kamu kembalikan khan? Amak rasa itu malah sama dengan jajanmu untuk setengah dua hari. Ada empat ribuan khan?”

    Ah Amak ini. Mukaku mulai berpijar seperti senter kehabisan baterai. Merah nyaris padam. “Itu kemarin Mak. Yang lalu biarlah berlalu. Kan itu kata Amak selalu. Sekarang jatah harian Mak, nanti kan malming, malam minggu.”

    Dengan sedikit bersungut-sungut Amak menyerahkan tiga lembar uang ribuan padaku. “Sono pergi, ntar terlambat kamu!”

    “Siap Ma. Salam lekum.”
    ”Hush! Baca salam kok kayak gitu. Uah mau jadi anak sekolahan sarjana-an masih…”

    “Sudah! Sudah! Sudah! Udah telat niiiiiiiiih…”

    Aku kabur lewat pintu depan.

    *****

    Astaghfirullah! Buah seri di atas tungku. Mati aku.

    Kupreteli lembar soal di depan hidungku. Waktu tinggal lima belas menit lagi, tapi soalnya baru sembilan yang terjawab. Berarti tinggal enam belas lagi. duh Raja Langit dan Bumi…

    Reaktansi induktif rumusnya umega kali el. Umega sama dengan satu per dua phi ef. Eh, Benar nih? Bodo’ ah! Kucoret-coret kertas buram sehingga semakin buram dan curam. Curam apa suram apa guram? Pussiiiiiing! Orang lagi bingung malah ditanya yang enggak-enggak.

    Wah busyet, kiamat nih. Sudah pukul delapan lima puluh dua menit. Sudah tidak mungkin lagi nih nyari-nyari. Nggak bakalan finish. Bisa-bisa aku malah kebobolan. Terus gimana dong dengan belasan soal yang belum terjawab ini.

    Mikir-mikir amat, tengok aja kiri kanan, minta bala bantuan. Kalau kita sedang dilanda kesulitan nggak dosa kok untuk minta tolong.

    Jadi, jadi berarti aku harus nyontek?

    Nyontek?

    Hiiii. Apa iya aku harus nyontek?

    Apak, Amak, Enek, Akek, si Bawel, Paman Bibi, guru-guru SD, guru-guru SMP, guru-guru SMU, kepala sekolah, tetangga, kenalan, sobat-sobit…. semuanya selalu mewanti-wantiku bahwa : NYONTEK ITU TIDAK BAIK. Tujuan kita ulangan kan untuk menguji kemampuan, bukan mencari nilai.

    Tapi, tapi nggak lucu bila nanti nilaiku seperti baru dilanda gunung meletus. Morat-marit. Bisa-bisa aku masuk DOT, Daftar Orang Tergoblok di kelas. Wih enggak lagi.

    AstaghfiruLlah! Oh Tuhan. B-bismillah, ampuni hamba…

    Kulongokkan kepala ke arah Junaidi yang sudah berngaso ria. Ia sudah selesai rupanya.

    “Jun, Junaid. Junaid!”

    Anak itu budek juga. Kali aja nanti bila nerima beasiswa ia perlu membeli alat pembantu pendengar.

    “Apa?”

    Harap-harap cemas aku melirik Pak Perof di depan yang sedang konsen menebar lirikan-lirikan matunya. Aku mah baru perdana kayak gini. Jadi grogi asli. “Hem, no-nomor tujuh belas, de-dlapan belas, mbilan be-belas.”

    Junaidi seperti terheran. Peduli tape uli sama anak itu. Ia memantau Pak Perof sebentar. Kemudian…

    “E, E, C!”

    Cepat-cepat kuisi kertas jawabanku. Setelah itu aku mengarahkan kepala ke kiri, kearah Junaidi lagi. Tanganku sudah basah berpeluh. “Naid, nomor du…”

    “Zainaaal!!”

    Huwaaaa. Aku terlonjak saking kagetnya. Pak Perof memandangku dnegan mata elang laparnya. “Nyontek?”

    Aku bersusah payah menyelaraskan pernafasanku. Ba-bapak ini, ti-tidak tt tahu, aku kan ke-ke-keturunan penya-nyakit j-jantung. Paling ng-nggak boleh dii-kejuttin. untung saja, t-tadi aku ti-tidak wafat sssess-seketika.

    Aku melirik Junaidi yang menyurukkan pandangannya. Inikah mukjizat dari loteng itu?

    *****

    Pada pergantian jam pelajaran agama dengan pelajaran Bahasa Indonesia, sang cheerman (ketua kelas), si Bliru datang dengan membawa kertas ulangan Fisika pagi tadi. Isi kelas langsung mengadakan acara screaming dadakan.

    “Karena kalian semua sepertinya tidak bisa mengendalikan diri masing-masing, maka silakan mengambil sendiri kertas ulangannya!” Bliru mengultimatum sambil meletakkan kertas-kertas ulangan itu di meja bagian depan. Tentunya setelah terlebih dahulu mengantongi kertas ulangannya.

    Dari segenap penjuru lokal, dari sayap kiri, sayap kanan, poros muka, poros belakang, corner dekat jendela Utara dan Selatan. Pokoknya semuanya pada semangat reformasi ‘98 menyalurkan aspirasinya dengan menyerbu kertas ulangan.

    Setelah menempuh perjuangan berat dengan mengorbankan sepatuku yang baru kemarin disemir super kilap diinjak-injak oleh oknum yang tidak beranggung jawab, akhirnya kertas ulangan itu kudapatkan juga dalam kondisi yang sangat kritis.

    Aku bersicepat duduk ke bangkuku ingin segera tahu bagaimana nilaiku.

    B L A A A A A R R ! !

    Aku merasa jangtungku seperti akan berhenti berdetak. sebuah angka dua yang begitu angkuh dengan sangat PD nya mejeng besar-besaran di kanan atas kertas ulanganku. Dan di bagian bawah, dengan terlalu manisnya, tergores sedikit kata mutiara dari Pak Perof. “Mencontek itu bukanlah suatu perbuatan yang baik. Hanya belajar rajin sebagai penangkalnya.”

    Busyet!!

    “Dapet berapa Nal?”

    “Pasti tinggi. Kan tadi kerjasama dengan sang the best Junaidi. berapa? Sembilan atau sepuluh?”

    Aku merasa kejatuhan duren belasan ton. Bonyok luar dalam. Baru sekali ini nyontek sudah dikira jago nyontek. Disindir-sindir pula lagi layaknya seorang pejabat ikut nebeng dalam skandal korupsi.

    Bah, frustasi aku!

    Aku melirik Junaidi yang dirubungi teman-teman karena keberhasilannya. Ough! Tobat dah. Kapok! Besok nggak mau sok ber-IQ setinggi nyiur melambai lagi. Insyaf. suer dah aku insyaf!! N G G A K L A G I I I . . . . ! !

    Penulis adalah Anggota Forum Lingkar Pena Sumatera Barat
    radefi@yahoo.com

    ==============================================
    Dapatkan cerita - cerita islam menarik di http:// agusw.cjb.net
    menebar SENYUM merajut UKHUWAH
    –————————————————————————————-

  • 0 Comments
  • Filed under: Cerita Islam
  • Pesan


    dues
    ass kang.... blognya bagus kaleee.... saya kagum...

    rezha
    Halooo pak... niki kulo rezha, murid smp muhamm...

    zha
    numpank lwt...ga sngaja nemu web in,eh isix bgs bg...

    yugo
    menebar senyum merajut ukhuwah diganti poo dengan ...

    firdaus
    thanks TANGGAPAN: sama-sama...

    Kalender

    Nopember 2008
    S S R K J S M
    « Okt    
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930