@GUSW’s Personal Sites

menebar SENYUM merajut UKHUWAH

Archive for the ‘Cerita Islam’ Category

Denting Kasih Senja Hari

Aku bosan.
Capek.
Lelah.
Ingin Muntah!

Dan segala rasa itu yang membuatku akhirnya kabur dari rumah. Cuma membawa jaket dan motorku.
Aku bahkan menepis tangan Mbok Yati, wanita separo baya yang telah mengabdikan dirinya kepada kami, orang serumah. Yang kasihnya lebih banyak kurasakan daripada belaian tangan mamaku sendiri. Atau tatapan hangat yang tak pernah dari mata lelaki yang kusebut Papa.

Bagiku … mereka berdua orang-orang yang tak punya hati. Atau mungkin punya, tetapi telah mati!? Dan omongan mereka? Kuanggap sebagai omongan orang mati yang tak punya nilai. Tak tahukah mereka orang mati itu tak bicara? Jadi…aku pergi, dengan mulut terkunci. Karena, kecuali Mbok Yati, tidak ada orang dirumah yang cukup pantas kupamiti.

Sepanjang jalan kularikan motor dengan kecepatan tinggi. Rambut bahuku berkibar ditiup angin. Aku terus memacu kendaraanku. Bagai tak punya titik henti. Membawa hatiku yang setengahnya telah ikut mati.

Lampu-lampu jalanan yang indah, angin malam yang bertiup, hawa dingin yang kurasakan, pemandangan Jakarta di waktu malam sama sekali tak mengusik nuansa keindahan di hatiku. Rasa marah yang sangat, membuatku menggila. Kularikan motor lebih kencang.

Dimataku terbayang pengkhianatan Mama dan perselingkuhan Papa! Betapa mereka telah kehilangan malu. Betapa keduanya telah membawa keluarga kami pada kehancuran!

Hatiku terasa kian panas. Motor terus kularikan kencang. Aku baru berhenti ketika selintas aku merasa telah menabrak sesuatu. Kuparkirkan motor kepinggir jalan.

Benar saja, sepuluh meter di belakangku, seorang bocah lelaki berusia sekitar delapan tahunan tampak tergeletak di jalan, penuh darah.
Tuhanku!?
Wajah anak itu pucat.

***
Lorong rumah sakit tampak lengang. Hanya satu dua perawat lalu-lalang. Dan di sekitarku tampak sepi.
Fuiiih! Aku menarik napas panjang. Mudah-mudahan anak itu tidak apa-apa.

Aku masih tidak mengerti, bagaimana anak kecil itu bisa menyeberang jalan tanpa terlihat olehku. Atau …. Saat itu aku terlalu sibuk dengan kebencian yang meluap-luap dan tak melihat jalan dengan jelas? Lagi pula, apa yang dilakukan anak sekecil itu di jalan malam-malam begini?
Jujur, tadinya aku akan melarikan diri pada saat itu juga, mumpung tidak ada orang. Papa dan Mama selama ini tak pernah mengajariku arti nurani, dan hal-hal yang berbau kemanusiaan. Namun, entahlah, saat melihat mata bening bocah lelaki yang menyiratkan kesakitan itu, ada sesuatu yang menyelusupi batinku. Gabungan antara rasa iba dan bersalah. Nuranikah itu? Aku tak tahu. Akan tetapi, bisa dipastikan, hal itulah yang membuatku membawanya ke rumah sakit terdekat.

Kulihat dokter yang memeriksa anak itu sudah keluar dari ruangan darurat.
“Bagaiman, Dok?”
“Anda siapa?”
Pertanyaan dokter itu membuatku terdiam. Dan rasa itu kembali mendorong-dorong batinku. Aku harus mengaku.
“Saya … saya yang menabraknya, Dok.”
Dokter itu mengangguk-angguk.
“Untunglah, Cuma luka luar. Kelihatannya tidak ada yang parah. Untuk memastikan, sebaiknya malam ini anak itu tetap di sini, untuk diobservasi, jadi bisa cepat diketahui jika ada pendarahan di otak atau gegar.”
“Baiklah.”

Dan malam itu aku menginap di rumah sakit. Menunggui anak, yang bahkan, tak ketahui namanya.
Asing. Mula-mula itulah yang kurasakan.
Tetapi, ketika kami saling berkenalan dan menyapa, perasaan itu berganti berkenalan dan menyapa, perasaan itu berganti keakraban. Di mataku, anak itu meninggalkan kesan yang mendalam. Terutama ucapan pertamanya yang tak akan pernah kulupa …
“Terima kasih ya, Kak!?”
Terima kasih? Bagaimana dia bisa berterima kasih kepada orang yang menabraknya?

Obrolan lain pun mengalir. Dengan bahasanya yang polos, tetapi sopan, ia bercerita tentang Ibu dan kedua adiknya yang masih kecil, juga hal-hal lain.

Dan waktu bergulir tak terasa, setiap aku bersamanya.
Pertemuan kami tak terhenti setelah malam itu. Aku yang dalam pelarian, menyempatkan diri untuk menemuinya setiap hari. Kadang
Di sekolahnya, kadang di stasiun tempat ia biasa menjual Koran. Didi nama anak itu. Simple dan mudah diingat.

Ada hal menarik yang selalu dan selalu Didi ceritakan. Tentang ibunya. Semula kukira ia berbohong, tetapi lama-kelamaan, kemudian hatiku berangsur mempercayaiku.
Seperti saat ini, aku menemaninya menjajakan Koran. Lalu tiba-tiba ia bertanya kepadaku.

“Kak Iwan suka burger?”
Aku tersenyum. Aneh mendengar pertanyanya, tetapi kuanggukkan juga kepalaku.
“Kalau begitu Kak Iwan harus ke rumah,” ujarnya dengan mata berbinar.
“Kenapa?”
“Karena …. Tak ada burger seenak burger buatan Ibu!”
Ahh… betulkah? Seperti apa ibunya Didi?

Beberapa hari yang lalu Didi bercerita padaku tentang pizza yang sesekali dibuat ibu untuknya dan kedua adiknya yang masih kecil. Dan sekarang burger?
Melihat mataku yang tak percaya, Didi menggangguk meyakinkan.

“Pokoknya kalau sudah coba burger ibu, kak Iwan pasti ketagihan. Dan nggak perlu beli burger lagi di tempat yang mahal.”
Ooh … mulutku membulat. Kelihatannya keluarga Didi sangat sederhana, bahkan cenderung miskin. Tanpa ayah pula. Karena, ayah Didi sudah meninggal saat ibunya bisa membuat makanan yang tak dapat digolongkan murah itu? Roti untuk burger dan pizza cukup mahal di supermarket. Belum lagi keju, daging isi, atau sosis yang ditabur di atas pizza. Rasa-rasanya mustahil!

Akan tetapi, cerita Didi yang terus menerus membuatku penasaran juga. Dan semakin ingin tahu lebih banyak tentang keluarga anak itu.
“Ibu kerja apa, Di?” tanyaku padanya suatu hari.
“Jualan kecil-kecilan, Kak. Pisang goring, tempe goring, tahu goring, dan bakwan. Biasanya dititipkan ke warungnya mpok Idah. Terus Ibu juga terima cuci setrika.”

Aku meneguk ludah. Pahitnya kehidupan yang dijalankan Didi tak pernah kurasakan. Papa dan Mama sangat menyervisku untuk urusan duit. Usia dua belas tahun saja aku sudah mengantongi kartu kredit, yang bebas kugunakan. Lalu handphone, satu set home theatre yang bertengger di kamarku, mobil, dan motor hardley. Tetapi, kenapa aku tak merasa lebih bahagia dari Didi? Padahal secara materi, aku tak pernah tahu apa itu arti kekurangan.

Barangkali benar, bahwa materi tak berarti segalanya! Sering malah, materi melahirkan anak-anak brengsek seperti aku!
Berbeda dengan Didi … Anak itu miskin. Sikap dan sopan santunnya luar biasa. Anak itu bahkan tak pernah mau menerima uangku secara cuma-cuma!
“Di … kapan-kapan ajak Kak Iwan ke rumah, ya? Boleh nggak?”
Didi tertawa lebar.
“Oke deh, Kak! Nanti, sebelumnya, Didi akan bilang ke Ibu, biar membuatkan burger atau pizza untuk kak Iwan. Eh, mana yang lebih kakak sukai?”

Aku kini yang tertawa. Makanan itu tak kan menarik minatku. Makanan itu sudah terlalu sering melewati tenggorakan ini. Untuk menyenangkan anak itu, kuanggukan kepala.
“Terserah yang mana saja. Tapi, jangan bilang-bilang Ibu kalau kak Iwan mau datang. Nanti merepotkan!”
Didi mengangguk. Kami pun berpisah.

Aku kembali pada hunianku, rumah kos yang baru-baru ini kusewa. Malam yang kuhabiskan dengan minuman keras hingga aku puas dan tertidur. Dalam mimpiku, aku melihat Didi menikmati burgernya. Lahap sekali!

Pada kenyataannya, kesempatan untuk berkunjung kerumah Didi tak segera muncul. Aku sendiri sibuk dengan hidupku. Hingga beberapa minggu kami tak bertemu.
“Kak Iwan!” suara khas Didi mampir ketelingaku saat itu aku berada di depan sebuah supermarket, akan membeli beberapa keperluan. Kulihat Didi melambaikan tangannya riang.
“Kok, lama nggak kelihatan,kak?”

Aku hanya memandangi mata beningnya. Tak sanggup untuk mengatakan hari-hariku sibuk dengan ketidaksadaran, pengaruh minuman keras dan ekstasi. Sebaliknya, aku cuma menjawab pendek.

“Kakak sibuk, Di! Kamu nggak sekolah?” aku mengalihkan percakapan, sambil mengamit tangannya menemaniku masuk kedalam supermarket.
“Lagi libur, kak.”
Dahiku berkerut. Libur? Rasanya belum lama musim liburan.
“Yang bener kamu?”
Didi tertawa,“Diliburkan sama pak Guru,” katanya.
“Kenapa?” tanyaku lagi,bloon.

Didi tak menatap mataku. Kedua matanya memandang takjub barang-barang yang tertata di sepanjang supermarket. Lalu menjawab sambil lalu,
“Biasa kak….soal SPP.”
“Berapa bulan, Di?” Tiba-tiba saja aku ingin tahu.
Didi menjawab setengah berbisik.
“Empat.” Lalu buru-buru disambungnya,
“Minggu depan mungkin Didi bisa masuk lagi, Kak. Sudah biasa begini. Uangnya, sebetulnya, sudah ada di tabungan Didi. Terus kepakai karena Ayu sakit.”
Ahh … begitu. Ayu adalah nama adik Didi yang berusia dua tahun. Mendadak aku merasa bertanggung jawab pada anak itu. Diam diam aku menyesali diri. Coba kalau aku nggak asyik mabuk dan teler. Mungkin Didi tak perlu diskors dari sekolah beberapa hari ini.

“kak Iwan lihat itu, nggak?” tunjuk Didi tiba-tiba.
Aku mengikuti telunjuknya. Mataku menangkap sebuah produk shampoo terkenal untuk anak-anak.
“He, eh…, kenapa?”
“Dua hari yang lalu, Dek Ika minta ke Ibu untuk dibelikan itu.” Didi menyebut nama adiknya satu lagi yang lebih besar.“Dan hari ini, Didi juga keramas pakai itu. Cium aja rambut Didi. Wangi, kan?”

Kulihat harga tertera di sana. Dalam kemasan botol kecil harganya mencapai empat belas ribu rupiah! Tiba-tiba aku merasa kalau Ibu Didi tidak bijak. Masa ia bisa membeli shampoo semahal itu, sementara menelantarkan bayaran sekolah Didi?

Akan tetapi, pikiranku berubah saat wajahku kudekatkan ke kepala Didi. Tak ada wangi shampoo mahal yang ditunjukkan Didi. Tidak juga wangi shampoo lain. Yang kucium cuma aroma sabun mandi biasa.

Mataku bertatapan dengan mata riangnya. Mengertilah aku, apa yang terjadi. Hatiku bergetar. Tanganku hampir saja meraih shampoo yang ditunjuk Didi dalam botol besar itu. Aku begitu ingin bisa menghadiahkan pada bocah lugu itu, dan adik-adiknya. Namun, pemikiran lain melintas.
Tindakanku bisa membuat Didi mengetahui apa yang telah dilakukan ibunya. Dan kuputuskan untuk tak membongkar kebohongan yang telah dilakukan wanita itu, memalsukan isi botol shampoo itu dengan air sabun! Ibu Didi pasti punya alasan sendiri!

Sebaliknya kuraih beberapa snack dan kaleng susu ke dalam kereta dorongku, tanpa bertanya padanya. Karena aku tahu, Didi akan menolak seperti biasanya. Kubayar belanjaanku di kasir. Didi melongo melihat jumlah yang harus kubayarkan. Bisa jadi ia tak percaya, aku yang terlihat kumal ini mampu membayar sejumlah itu.

Aku Cuma tersenyum. Kuraih bahunya pelan,
“Kuantar pulang ya, Di!”
Dan kami pun berboncengan, melintasi siang yang terasa terik. Melewati beberapa ruas jalan menuju rumah Didi. Dari kaca spion kulihat wajah Didi yang cerah. Senyum bangga terkembang di sana. Ia tampak senang sekali kubonceng. Lagi-lagi hatiku perih.

Setalah melewati jalan-jalan besar, motor kami mulai meliuk dari gang ke gang. Mataku merayapi rumah-rumah petak yang berdempetan rapat. Bocah-bocah kecil bertelanjang dada berlarian. Sebagian mengejar-ngejar layangan yang putus. Sebagian lagi mungkin bermain petak umpet atau permainan lain. Beberapa wajah kecil kulihat belepotan ingus dan debu.

Di sebuah rumah kecil yang terletak diujung, aku memarkirkan motor. Sekali lompat, Didi sudah turun dari motorku dan menghambur kedalam. Aku mematikan mesin. Memandang rumah kecil yang jauh dari layak untuk standar kesehatan.
Kesan itu bertambah kuat saat aku melangkah masuk ke dalam. Lantainya masih beralas tanah, sepertinya rumah ini hanya terdiri dari dua ruangan yang dipisahkan selembar gorden kumal. Tak ada jendela. Cuma ventilasi sempit yang memungkinkan pergantian udara seadanya.

Aku mengamati isi rumah yang bisa dihitung. Tiga buah kursi yang agak reyot diruang tamu. Lalu satu dua foto yang tergantung di dinding sebuah rak bambu tampak penuh dengan buku-buku pelajaran. Barangkali milik Didi. Di atas meja kayu dialasi taplak batik yang sudah lusuh, namun bersih. Sebuah vas bunga sederhana tampak begitu pucat menghias diatasnya. Tampak jelas, barang itu sudah bertahun-tahun menjadi bagian dari rumah ini.

“Ibu…ini Kak Iwan!”
Didi keluar bersama dengan seorang wanita yang kutaksir berusia empat puluh puluhan, atau mungkin kurang. Menilik usia Didi yang baru delapan tahun, seharusnya wanita itu berusia lebih muda. Tapi, entahlah…bisa jadi kemiskinan yang selalu akrab dengan keluarga ini, dan beban ekonomi yang harus ditanggung di pundak wanita itu, membuat penampilannya kelihatan jauh lebih tua.

Aku mencoba mengangguk sopan.
“Saya Iwan, Bu!”
Wanita itu tersenyum ramah meski kelihatan agak rikuh menerima kehadiranku.
Kuulurkan satu plastik oleh-oleh yang tadi kubeli untuk Didi dan adik-adiknya. Meski ragu, Ibu itu menerima juga bingkisan yang kubawa.

Suaranya terdengar agak bergetar.
“Makasih banyak… tapi seharusnya tidak usah repot-repot, mau minum apa?” ujarnya sambil beranjak ke belakang.
“Nggak usah repot - repot, Bu …”
Kulihat Didi mengejar Ibunya. Lalu suaranya setengah berbisik terdengar di telingaku.
“Kak Iwan pengen cobain burger buatan Ibu.”

Lalu sambil menatap kearahku, Didi menambahkan dengan senyum kocaknya,“Didi bilang burger Ibu paling enak. Jadi kalau Kak Iwan besok-besok kepengen burger, nggak usah ke restoran yang mahal-mahal. Iya kan, Bu?”
Aku menyambut senyum Didi. Sebaliknya, Ibu Didi malah tampak pucat. “Burger apa? Aduh … Didi bisa saja!” katanya.
“Tapi … Didi lihat masih ada di belakang, Bu! Tinggal dipanaskan. Masa Kak Iwan nggak boleh mencicipi burger kita?” Didi keras kepala.

Aku mencoba menetralisir keadaan, tetapi Didi keburu berlari ke belakang.“Biar Didi yang siapkan ya, Bu?” ujar bocah itu tanpa minta persetujuan. Kalimat Didi membuat Ibunya tergopoh-gopoh mengejar langkah anak sulungnya itu.
“Sebentar ya, Kak Iwan!” ujarnya dengan pandangan penuh permintaan maaf.

Aku mengangguk, menyilakannya. Untuk berapa lama, kesendirian kembali mengakrabiku. Kuamati lagi kesederhanaan tempat ini. Mataku mendadak berpapasan dengan dua wajah mungil mengintip dari balik gorden.
Aku mengembangkan senyum lebar, sambil berharap penampilanku yang gondrong dan rada acak-acakan ini tak membuat mereka berdua takut.

“Ika sama Ayu, ya?” sapaku ramah.
Kedua anak perempuan itu mengangguk tersipu. Mereka saling tukar senyum dan main dorong-dorongan. Mungkin ingin keluar, tetapi ragu.
“Sini” panggilku lagi

Langkah-langkah kecil itu kini kian mendekat. Sekarang aku bisa menatapi keduanya dengan lebih bebas. Wajah mereka bersih. Mungkin baru selesai mandi. Ada bekas sapuan bedak yang kurang rata disana.

Ayu dan Ika hanya mengenakan celana pendek dan kaos singlet yang sudah pudar warnanya. Kaki-kaki mereka yang telanjang tanpa alas kaki menapak dengan riang. Seperti tak ada keengganan bersentuhan langsung dengan lantai tanah yang kasar dan dingin.

“Nah, ini burger dan pizza buatan Ibu.”
Sekonyong-konyong suara Didi terdengar. Anak itu muncul dengan sebuah piring di tangannya. Ibu Didi yang terlihat salah tingkah menikutinya dari belakang.
Ayu dan Ika langsung menghambur riang mendekati isi di atasnya dengan mata berbinar.
Beberapa saat aku menatap isi piring di meja tamu dengan perasaan yang sulit kuutarakan.

Segala kemewahan di rumahku, kolam renang, berbagai perabotan luks dan makanan enak-enak yang biasa kusantap bagaikan paradoks dengan apa yang kusaksikan sekarang. Di atas meja tidak ada pizza yang biasa kumakan. Tidak juga burger ala restoran manapun yang sering kutemui.

Yang disebut pizza oleh Didi Cuma mie bercampur telur yang diaduk dan digoreng, lalu ditaburi irisan tomat dan bawang goreng di atasnya. Sementara burger yang selama ini dibanggakan Didi, terbuat dari roti bundar biasa berisi mocca murahan, yang isinya telah dikerat habis. Didalamnya diisi dengan sayuran—entah bayam atau kangkung—dan potongan tempe kecil-kecil yang digoreng agak hangus sehingga menyerupai daging burger. Di sebelah piring, tergeletak bungkusan kecil saus dan sambel sebagai pelengkap.

“Ayo dong, Kak Iwan, dicobain! Nanti keburu dihabisin sama Ika dan Ayu, lho!”
Suara Didi malah membuat mataku berkaca-kaca. Terutama saat berbenturan dengan mata beningnya yang penuh dengan kebanggaan atas jamuannya, juga reaksi Ayu dan Ika yang seperti tak sabar ingin menyerbu pizza dan burger ala Ibu mereka itu.

Pandanganku kemudian menangkap sosok Ibu Didi yang bersender lemas di pojok ruangan, dengan sudut-sudut mata tergenang air. Ada sesuatu di matanya. Entah penjelasan, entah kata maaf yang mungkin ingin disampaikannya kepadanya.

Aku diam, tak perlu ada kata-kata lagi untuk menjelaskan apa yang dilakukannya. Semuanya cukup jelas. Pizza, burger, lalu shampoo yang disebutkan Didi di Supermarket tadi, cukup membuatku mengerti perjuangan wanita itu, dan semua upayanya untuk membuat anak-anaknya bahagia. Membuat mereka merasa telah menikmati kemewahan dan barang-barang mestinya cuma bisa dinikmati teman-teman mereka yang lebih mapan.

Ya, wanita itu Cuma ingin membuat ketiga anaknya tidak merasa berbeda dengan yang lain. Hingga mereka tumbuh dengan kepercayaan diri yang sama. Tanpa merasa malu, atau bahkan sempat merasakan arti kepapaan itu sendiri.
Tiba-tiba aku merasa sangat hormat kepadanya. Perasaan yang selama ini tak pernah ada untuk mama ataupun Papa. Kedua orang tua yang membawaku ke dunia ini.

Tanpa ragu, kucomot sebuah “burger”, dan meraih saus serta sambal yang tersedia, lalu mulai menyantapnya dengan sepenuh perasaan.
“Ayo kita makan sama-sama, ya?”
Kusodorkan piring pada Didi dan kedua adiknya. Ketiga bocah itu langsung meraih pizza dan burger, tanpa perlu ditawari ulang. Dalam sekejap isi piring sudah hampir kosong. Kami bersama-sama melumatkan setiap burger dan pizza diatasnya.

Ibu Didi hanya memandangi kerakusan kami. Perlahan matanya yang berkaca mulai berpendar. Bahkan seulas senyum terkembang kembali.

Sambil menggigit burgerku, aku tetap memandangnya, juga ketiga permata kecil itu dengan tatapan penuh terima kasih.
Barangkali mereka tak akan pernah tahu.
Tetapi, lewat pizza dan burger mereka … lewat kesederhanaan dan ketulusan tanpa pamrih, aku seperti terlahirkan kembali. Dan membuatku lebih mengerti dan bertekad menghargai hidup yang Dia berikan. Bukan mencampakkannya, seperti yang selama ini telah kulakukan.

Pulang ke kos nanti, akan kubuang semua botol minuman keras dan ekstasi yang kumiliki. Janjinya dalam diam.
Piring sudah hampir kosong. Hanya sebuah pizza yang tersisa. Dengan bangga pula Didi menyilakanku untuk menikmatinya. Bahkan melarang kedua adiknya yang masih tampak lapar.

“Sssst! Yang ini untuk Kak Iwan! Untuk kitakan, bisa kapan saja.”
Kutatap mereka lekat. Sebuah ide pun melintas. “kita adu cepat aja yuk, gimana? Yang paling cepat dia yang dapat. Bagaimana?”
Ketiga anak itu menggangguk. Akupun mulai menghitung.
“Satu..dua..tiga, yak!!!

Tangan-tangan kami berebutan. Potongan pizza terakhir diperoleh Ayu. Anak perempuan berusia dua tahun itu bangga sekali telah memenangkan kompetisi perebutan pizza.
Wajahnya tampak cerah.

“Hole!!! Ayu menang!” teriaknya cadel.
Kami semua tertawa. Dan serempak memandangi wajah Ayu yang kini celemotan dengan mie pizza, dan serpihan tomat.
Hari mulai senja. Aku masih belum beranjak dari rumah Didi. Sibuk melayani cerita dan bermain tebak-tebakan dengan mereka bertiga. Kami larut dalam gelak dan tawa. Sementara Ibu Didi menyetrika di dalam.

Saat azan asar terdengar, dengan ringan Didi meraih tanganku, dan mengajakku ke sumur belakang, mengambil wudhu, lalu kami shalat berjamaah, hanya beralaskan tikar lusuh. Ketiga anak itu memintaku mengimami mereka.
Aku menikmati setiap detik yang berlalu dalam hidup baru. Lalu tiba-tiba saja, selesai shalat, entah dari mana kudengar denting kasih memenuhi rumah ini, juga hatiku. Suaranya merdu menentramkan. Membuat senja jadi lebih indah.

sumber : moslemworld.co.id

  • 0 Comments
  • Filed under: Cerita Islam
  • Senyum dari Kenya

    Hujan deras mengguyur Jakarta. Ikhwan yg. sedang dlm. ‘perjalanan bisnis’nya ikut terkena imbas dari hujan yang seolah tak ingin berhenti tersebut. Ia harus menepi dgn. motornya kecuali sanggup merelakan barang dagangannya rusak terkena hujan.

    Sebuah masjid megah di pinggir jln. menjadi tempat berteduh favorit masyarakat yang kehujanan. Sebuah tempat yg. selama ini cenderung mrk. lupakan, harus diakui merupakan tempat terbaik u/ bernaung dan meminta perlindungan. Ikhwan lalu menepikan motornya di pelataran masjid tersebut.

    Ikhwan kemudian duduk setelah menurunkan barang dagangannya dari atas motor. Sambil mengelap wajahnya yg. basah, diambilnya salah satu majalah-yang rencananya akan dia antarkan hari itu juga-dr. dalam kardus. Dipandangnya majalah Saksi itu sejenak, terpampang besar tema edisi “Menggenggam Gelora Harokah” di halaman cover. Hmm, tema yg. menarik, pikir Ikhwan. Tak lama dia sudah asyik dengan majalahnya.

    “English?” Sebuah suara bertanya membuat Ikhwan memalingkan wajahnya mencari arah suara.

    “English?” Ditatapnya seorang lelaki yang sedang berdiri di sampingnya tersebut. Tampak lelaki itu ingin berbicara padanya. Wajahnya tidak menunjukkan wajah Indonesia, lebih mirip orang Arab, hanya berkulit hitam. Dari baju gamis panjangnya Ikhwan sudah bisa menebak asal harokah lelaki tersebut.

    “English?” Sekali lagi lelaki itu bertanya, sambil menghampiri Ikhwan. Baru disadarinya bahwa dia ternyata tertarik dengan majalah yg. sedang Ikhwan baca dan bermaksud menanyakan apakah itu majalah berbahasa Inggris atau bukan.

    “No, it’s Indonesian,” jawab Ikhwan sekenanya.

    “Alhamdulillah, you can speak English?” tampaknya dia senang mendengar Ikhwan menjawab dlm. bahasa Inggris.

    “Mmm, yes. A little bit.” Maka jadilah percakapan singkat itu dilanjutkan dlm. bahasa Inggris.

    “Jadi majalah ini tidak dlm. bahasa Inggris?”

    “Ya, ini dlm. bahasa Indonesia.”

    “Sayang sekali. Tapi tak apa, perkenalkan, saya Hasballah,” katanya sambil menyodorkan tangan yang disambut jabatan erat dari Ikhwan.

    “Saya Ikhwan.”

    “Apa Anda org. Indonesia?”

    “Ya, dan Anda sendiri?”

    “Saya berasal dari Kenya.”

    “Wow, sebuah tempat yg. cukup jauh dari sini.”

    “Ya, tujuan saya ke sini krn. saya ingin mengunjungi saudara2 saya sesama muslim di Indonesia. Itu sunnah dari Rasulullah.”

    “Benar. Berapa lama rencana Anda u/ tinggal di sini? 3 hari, 40 hari?” tanya Ikhwan yg. memang cukup paham kebiasaan harokah mereka.

    “Mmm, I think for the rest of my life. Saya mencintai negeri ini, muslimnya banyak. Dan mrk. ramah2.”

    “Masya Allah, hebat. Berarti saudara kita akan bertambah satu lagi,” seru Ikhwan mendukung, walau hatinya pedih. Berarti sangat banyak sekali yg. Hasballah blm. tahu ttg. Indonesia. Ttg. mayoritas muslim negeri ini yg. jauh dr. agamanya, ttg. perpecahan parpol2 yg. mengaku berasas Islam disertai pengerahan massa gelorakan permusuhan, ttg. tingginya tingkat korupsi di negeri berpenduduk muslim terbesar ini yg. mengakibatkan kekacauan di hampir setiap sektor kehidupan, ttg. keadilan yg. sulit diperoleh sehingga masyarakat jadi brutal dan senang main bakar. Masih banyak yang Hasballah blm. tahu dan mungkin memang saat ini dia blm. perlu tahu.

    “Saudaraku, apakah Anda kuliah di universitas?”

    “Tdk. lagi. Kuliah saya sudah selesai.”

    “Jadi skrg. Anda bekerja?”

    “Yah, seperti itulah. Skrg. saya berdagang.”

    “Masya Allah. Itu sunnah Rasulullah. Apa yg. Anda jual?”

    “Majalah. Majalah Islam. Ini semua barang dagangan saya,” jawab Ikhwan sambil memperlihatkan isi kardusnya. “Kami di Indonesia punya banyak majalah Islam. Ada Sabili, Tarbawi, Ummi, Annida, Saksi, Al Izzah dan masih banyak lagi. Anda tahu, kami berdakwah lewat majalah.”

    “That’s great. Betapa hebat dakwah berkembang di negeri ini.”

    “Alhamdulillah. Anda sendiri, bagaimana kondisi kaum muslimin di Kenya?”

    “Yah, jumlah kami minoritas. Di Kenya kaum muslimin hanya 45%, kami dikuasai orang kafir. Pemerintah kami orang2 kafir. Tapi Alhamdulillah, banyak di antara kami yg. mau menjadikan Islam sbg. pedoman hidup. Masih banyak yg. mau menjalankan Islam.”

    Hujan masih rintik2. Udara dingin masih menerpa, tapi gelora semangat ukhuwah mulai menghangatkan keduanya. Hasballah lalu melanjutkan, “Apakah Anda belajar agama?”

    “Mmm…yap! Di ma’had,” sebentar Ikhwan berpikir. Dia sadar yg. dimaksud Hasballah bukanlah belajar agama seperti di sekolah formal.

    “Masya Allah. Ma’had Al Hikmah?” ternyata dia tahu Al Hikmah Bangka.

    “Ooo, bkn. Saya belajar di ma’had Al Ishlah. Di Tangerang.”

    “Jadi bkn. di Jakarta ya. Saya sendiri berniat masuk LIPIA. You know LIPIA?”

    “Masya Allah, saya tahu LIPIA. Tempat belajar yg. hebat. Anda sudah mendaftar?”

    “Blm. mrk. belum membuka pendaftaran. Tapi saya ingin sekali belajar di sana. Anda tahu, saya sblm.nya pernah kuliah di Pakistan.”

    “O ya? Bagaimana kabar kaum muslimin di sana, terutama saat AS mulai menyerang Afghanistan?”

    “Sebenarnya banyak sekali mahasiswa dari luar Pakistan yg. belajar di sana. Tapi setelah AS menyerang, banyak juga dari mrk. yg. kembali ke negaranya masing2. Ada juga lho, yg. dari Indonesia dan Malaysia.”

    “Berapa lama Anda kuliah di Pakistan?”

    “Dua tahun.”

    “Tadi Anda menyebut-nyebut Al Hikmah. Anda tahu ma’had Al Hikmah?”

    “Tentu. Banyak teman saya yg. belajar di sana. Di sana harokahnya banyak. Terutama Jama’ah Tabligh dan Ikhwanul Muslimin. Apa Anda juga ikut harokah?”

    “Emm, saya ikut tarbiyah.” “Ooo, jadi Ikhwanul Muslimin ya. Tapi tdk. apa2, selama kita semua mengusung dakwah ilallah, memasyarakatkan sunnah rasul, kita adalah satu kesatuan. Tidak ada yg. lebih mulia, jadi tdk. perlu paksa-memaksa, merasa harokahnya lebih baik,” Ikhwan hanya mengangguk simbol membenarkan.

    “Hasballah, berapa usia Anda?”

    “Menurut Anda?”

    “Hmm…sekitar 25.”

    “Ya, sekitar itulah usia saya.”

    “Berarti mudaan saya sedikit. Saya 23.”

    “Masya Allah. Alhamdulillah, ternyata masih banyak sekali dai2 muda yg. peduli dgn. kondisi kaum muslimin saat ini. Bersama kita insya Allah dakwah ini akan berhasil.”

    “Amin,” balas Ikhwan mengamini ucapan Hasballah.

    Hujan tampak sudah reda. Ikhwan harus segera berjalan lagi menyelesaikan urusannya. Segera ia pamit kepada Hasballah u/ melanjutkan perjalanan.

    “Hati2 di jln. saudaraku. Sekali-kali sempatkanlah u/ mengikuti pengajian kami!”

    “Insya Allah, salam u/ yg. lain ya. Assalamu’alaikum.”

    “Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh,” sebuah senyum melepas kepergian Ikhwan. Senyum dari Kenya.

    Lalu Ikhwan memacu motornya, membelah jalan nan basah. Menembus udara dingin yang masih menerpa. Namun di dadanya saat ini ada sesuatu yg. terbakar. Sebuah gelora. Gelora ukhuwah. Gelora harokah.

    Pagi hujan di hari Sabtu
    Jazakallah u/ akh Yassin atas keakraban singkatnya
    Hope we meet again

  • 0 Comments
  • Filed under: Cerita Islam
  • Anugerah terindah

    Oleh : Fitri

    Anak lelaki itu berumur lima atau enam tahun. Ia mengenakan kemeja putih dan pullover kotak-kotak hijau dengan logo taman kanak-kanak di dada kiri. Di bahunya tersandang tas punggung merah dan di dadanya tersilang tali botol minuman. Ia kelihatan lucu dan manis.

    Begitu naik ke dalam angkot, bocah itu menunjukkan hasil origaminya pada wanita yang mungkin ibunya. Seekor burung yang sedikit kusut dan penyok. Ia juga menyanyikan lagu baru yang diajari gurunya hari itu.

    Lihat ibu keretaku yang baru cukup besar untuk ayah dan ibu roda tiga buatanku sendiri dari kulit buah jeruk bali…’

    Aku tersenyum geli mendengar suaranya yang agak sumbang tapi penuh semangat. Bocah itu balas tersenyum padaku, kemudian kembali asyik memberondong ibunya dengan berbagai cerita. Mulutnya tak henti mengunyah donat yang barangkali dibelikan ibunya di depan sekolah. Ibunya menyahut sesekali dengan anggukan atau gumaman setengah tak peduli, sementara tangannya mengibaskan lukisan krayon anaknya untuk menghalau panas.

    Aku tidak menyalahkannya. Cuaca siang itu memang panas dan kemacetan jalan membuat udara pengap. Melihat bungkusan yang terserak di kakinya, aku yakin ia telah menghabiskan paginya untuk berbelanja kebutuhan dapur. Tak heran ia kelihatan sangat letih, mengantuk dan tak begitu bersemangat mendengar cerita anaknya di sekolah hari itu.

    Atmosfer yang menyengat tidak mengalihkan perhatianku dari anak itu. Kureguk tiap kata dan lagu yang dinyanyikannya seperti pengelana kehausan yang menemukan wadi di tengah gurun. Alangkah rindunya aku akan semua itu. Aku tak ingin membandingkan anakku dengan bocah lucu di angkot itu, tapi mau tak mau Khalid singgah ke dalam benakku dan merusak kenikmatanku.

    Setiap kali memeriksakan diri selama mengandung Khalid, bidan selalu mengatakan kehamilanku normal dan bayiku sehat. Karena itu aku dan suami sama sekali tak siap waktu dokter memberi tahu bahwa Khalid tidak normal. Ia lahir dengan Down syndrome.

    Menyakitkan. Masa depan anakku sudah ditentukan oleh dokter hanya beberapa menit setelah kelahirannya. Khalid tidak akan tumbuh seperti anak normal dan dia tidak akan bisa menjadi orang dewasa normal yang mampu mengurus dirinya sendiri.

    Selain itu dokter juga menemukan kelainan pada jantungnya yang harus diperbaiki dengan pembedahan. Ada juga gangguan mata dan tonsil. Hal yang menurut dokter biasa menimpa anak Down syndrome.

    Shock yang kualami setelah melahirkan Khalid cukup berat hingga aku harus dirawat agak lama di rumah sakit. Aku sangat tertekan hingga bahkan tak bisa menyusui Khalid. Dokter memperkenalkanku dengan wanita pakar penanganan anak Down syndrome. Wanita itu memberikan buku-buku dan brosur kepada kami.

    Tapi, semua yang kubaca malah semakin membuatku tertekan. Sejak dokter menyatakan bahwa aku positif mengandung, aku selalu berdoa dan bermimpi tentang seorang anak yang cerdas dan lincah. Anak yang akan kubimbing mengenal Allah dan Rasul-Nya. Yang akan kuajari mengaji dan shalat agar ia bisa mendoakan kedua orang tuanya. Ia akan kubawa tafakur alam ke tempat-tempat yang indah agar pandai bersyukur dan memiliki sifat tawadlu.

    Aku akan memperkenalkannya pada saudara-saudaranya yang yatim dan papa agar hatinya lembut dan peka. Yang akan mencintai buku-buku seperti aku dan ayahnya. Anak yang akan jadi seorang pejuang di jalan Allah, demi kebangkitan dan kejayaan Islam seperti panglima gagah itu, Khalid bin Walid.

    Kubayangkan jari mungil anakku menyusuri huruf-huruf dalam lembaran mushaf Al Qur-an. Jika lelaki, ia pasti lucu dalam baju koko dan peci mungilnya dan jika perempuan, ia pasti manis dalam jilbab kecilnya yang berbunga dan berenda

    Rasanya aku bahkan sudah bisa mendengar suaranya yang bening melantunkan ayat-ayat suci itu. Suara terindah yang pernah kudengar.

    Lalu ke mana bisa kukubur kecewaku saat mendapati Khalid tak mungkin mewujudkan semua impianku. Aku hanya bisa berdoa siang malam memohon kekuatan. Aku mengintrospeksi diri, mengingat kembali apa yang telah kulakukan hingga Allah menghukumku dengan memberikan Khalid.

    Hingga suatu hari kalimat itu menohokku. Anakku adalah amanat-Nya, bukan hukuman, bukan aib. Hanya titipan, bukan milikku. Apakah aku berhak menggugat jika titipan-Nya ternyata tidak seperti anak-anak lain? Aku hanya ditugaskan menjaga dan mengasuhnya dengan cinta, karena ia dititipkan Allah yang rahman dan rahim-Nya tak pernah surut dari sisiku. Bukan tugasku menilai apakah Khalid layak jadi anakku atau tidak. Setelah itu aku kembali menemukan ketenangan.

    Tapi tak urung kesedihan itu kerap. Sangat menyakitkan. Tiap kubawa Khalid ke dokter dan melihat ibu lain dengan bayi seumur Khalid, aku kembali terbenam dalam kepiluan. Entah untuk Khalid atau untuk diriku sendiri.

    Bulan demi bulan berlalu. Sementara bayi lain mulai tertawa dan mengeluarkan suara-suara lucu, Khalid hanya diam. Ia memandang kosong ke depan.

    Tiap hari suamiku dan aku harus bergantian merangsang otaknya dengan mainan warna-warna dan kerincingan yang ribut. Khalid baru menunjukkan reaksi saat usianya hampir delapan bulan.

    Khalid baru belajar berjalan di usia dua tahun. Bicaranya tak pernah selancar anak-anak lain dan kosa katanya sangat terbatas. Ia tak bisa mandi dan berpakaian sendiri hingga usianya hampir sembilan tahun. Ia harus disuapi tiap waktu makan sampai ia bisa makan sendiri beberapa bulan terakhir ini.

    Yang paling menjengkelkan, sulit sekali membiasakannya buang air di kamar mandi walaupun aku dan suamiku sudah mengajarinya selama delapan tahun dari sepuluh tahun usianya.

    Mengajari Khalid salat dan mengaji hampir tak mungkin. Khalid hanya bisa mengikuti gerakan-gerakan salat tanpa bisa menghafal bacaannya.

    Setelah beberapa lama, kami menyadari kesalahan kami dan mulai dari awal sekali. Mengakrabkan Khalid dengan Allah dan Islam. Sesuatu yang lebih mudah dilakukan dan dipahami Khalid.

    ’Di belakang rumah ada pohon jambuu…’ suara lantang bocah berseragam TK diangkot itu mengembalikan perhatianku pada polahnya yang kocak. Tapi kali itu aku tak bisa menikmatinya tanpa merasa iri. Iri pada ibu yang tak menyadari besarnya nikmat Allah yang dimilikinya. Ada kegeraman dan rasa kasihan pada diri sendiri yang tiba-tiba bergolak dan menenggelamkanku.

    Membuat dadaku sesak dan leherku tercekik. Aku tak tahu apakah harus menyesal atau gembira saat anak itu akhirnya turun dari angkot.

    Di bangku yang mereka tinggalkan kulihat burung-burungan kertas itu gepeng. Kupungut dan kuperbaiki. Tiba-tiba mataku kabur oleh air mata. Khalid tak bisa melukis dengan krayon atau membuat origami. Koordinasi tangannya lemah sekali.

    Dalam kepalanku yang gemetar, burung-burungan itu kuremas menjadi gumpalan kertas. Aku tak sanggup lagi menahan isak. Dengan suara tercekat kusuruh sopir berhenti. Kusodorkan ongkos dan turun, walaupun rumahku masih jauh.

    Aku duduk di halte yang sepi. Menarik nafas dalam-dalam dan mengeringkan air mata. Saat aku menengadah mataku tertambat pada papan putih di seberang jalan. Sebuah masjid. Ya Allah, inikah teguran-Mu.? Aku menyeberang. Segera kuambil wudhu dan salat dua rakaat. Air mataku menetes saat kubaca ayat kedua belas dari surat lukman… Anisykurlillahi….

    Usai mengucap salam aku tercenung. Kekalutan yang sempat menguasai sudah berhasil kukendalikan. Aku merasa kosong, tapi damai. Lalu satu- satu fragmen kehidupan Khalid mulai kembali ke dalam benakku. Bukan gambaran muram tentang kekurangannya, tapi keistimewaan-keistimewaan kecil yang mengimbangi dan melengkapi hidupnya.

    Khalid suka sekali musik. Ia sulit menangkap dan menghafal lirik, tapi kenikmatan yang terlukis di wajahnya saat mendengarkan musik adalah keindahan tersendiri. Ia juga tak pernah nakal dan usil, selalu ramah dan murah senyum. Ia tak pernah marah dan ngambek, dan jika dimarahi, cepat kembali ceria.

    Ia sangat mencintai adiknya Fatimah, yang lahir empat tahun lalu. Kami sempat khawatir Khalid akan cemburu dengan kehadiran adiknya. Tapi ia malah antusias membantuku mengurus Fatimah. Sering kudapati Khalid duduk menatap adiknya yang tertidur dengan ekspresi terpesona yang tak terlukiskan.

    Fatimah normal dan cerdas sekali tapi ia menerima abangnya tanpa syarat. Kemesraan di antara keduanya selalu menerbitkan syukur di hatiku dan ayah mereka. Mengurus Khalid memang menuntut kesabaran dan kegigihan ekstra dibandingkan mengasuh anak biasa. Tapi Khalid memang bukan anak biasa.

    Ia telah mengajarkan kepada kami makna mencintai tanpa pamrih yang hakiki. Di zaman saat orang memburu segala yang superlatif; tercantik, terpandai, tergesit, anakku tidak akan bisa bersaing. Ia tidak mungkin menjadi teknolog, ekonom atau da’i tersohor.

    Tapi apakah itu akan mengurangi cinta kami padanya? Mengurangi kegembiraan melihat prestasi-prestasi kecilnya yang dianggap remeh dan sepele orang lain seperti bisa berpakaian dan makan sendiri? Aku dan ayahnya tak akan memperoleh apa-apa darinya. Kemungkinan besar Khalid akan terus tergantung pada kami. Dan setelah kami tak sanggup lagi, mungkin pada Fatimah.

    Tapi kami memang tak lagi mengharapkan apapun darinya. Kami hanya mencintainya. Kudorong gerbang rumah dan kuserukan salam. Sahutan riang menyambutku. Pintu terkuak. Fatimah menghambur memelukku sementara abangnya tersenyum lebar sambil berjalan goyah di belakangnya.

    ’Ibu bawa apa, bawa apa?’ tanya Fatimah. Ia memekik ketika kukeluarkan sekantung mangga ranum dari keranjang belanjaku. Khalid tersenyum. Matanya yang semula kosong berbinar. Mangga adalah buah kesukaannya.

    Aku masuk ke kamar untuk berganti baju setelah berpesan pada pembantu untuk mencuci dan mengupaskan mangga buat anak-anak. Saat aku keluar, mereka tidak berada di meja makan.

    Kupanggil mereka dan kudengar sahutan dari halaman belakang. Di depan kandang burung parkit Fatimah melonjak-lonjak dan tertawa melihat abangnya dengan sabar menyodorkan potongan mangga lewat jeruji bambu. ‘Ayo kuning! Jangan diam saja! Tuh diambil si hijau deh!’ teriak Fatimah. Satu demi satu burung-burung parkit dalam kandang terbang menyambar potongan mangga dari tangan Khalid. Aku bertasbih. Mataku pedih. Sudah lama aku mengamati keistimewaan Khalid untuk mencintai dengan keikhlasan yang bersih dari egoisme anak seusianya. Cintanya sangat tulus pada burung-burung kesayangan suamiku, pada ikan hias dan ayam kate yang kami pelihara untuk mengajar anak-anak bertanggung jawab.

    Bahkan pada bunga-bungaku di kebun. Ia gembira mengurus semua itu, walaupun tak pernah mendapat imbalan apapun dari kami. Kelembutannya terulur bahkan pada kucing-kucing liar yang sering diberinya makan atau anak-anak tetangga yang kerap mendapat bagian dari jatah kue dan buahnya tanpa menuntut balasan apapun.

    Aku memang tak punya alasan untuk bersedih dan kecewa. Khalid mungkin tak bisa membaca dan mengaji. Tapi perasaannya halus dan penuh kasih sayang. Dan aku sangat bersyukur atas kelebihannya.

  • 0 Comments
  • Filed under: Cerita Islam
  • Lady Buterfly

    Oleh : Jarni

    Tak biasanya suasana begitu muram. Sinar mentari samar-samar membayang di langit mendung. Hujan turun membasahi bumi, seinci demi seinci sang surya bersusah payah menembus tirai hujan. Udara terasa dingin. Burung-burung yang ada di pepohonan depan markas FBI tak terlihat berkeliaran mencari makan. Berbeda dengan keadaan di dalam markas, tampak Letnan Yulie sibuk di meja kerjanya. Suasana suram tak mempengaruhi semangat kerjanya. Kelincahan bekerjanya sudah terlihat dari gaya pakaian dan gaya rambutnya yang modis dan dinamis. 

    Pagi ini ia mengenakan liontin kupu-kupu dari bahan berlian, yang tersembunyi rapi di balik baju seragamnya. Cincin mungil di jari manisnya juga bergambar kupu-kupu yang indah sekali. Cincin itu terbuat dari emas bertakhtakan berlian yang lembut. Di atas meja kerja perwira itu terdapat kumpulan kliping berbagai surat kabar yang tersimpan rapi dalam map. “Tiga bulan terakhir ini, lima wanita berpakaian ‘kupu-kupu’ telah raib dari penjara…” begitulah berita-berita yang tertulis dalam guntingan-guntingan surat kabar kota. Letnan Yulie mendesah, kemudian ia membaca surat tugas yang sudah tergeletak di atas meja kerjanya. Tatkala membaca surat tugas itu, Letnan Yulie tersenyum simpul. “Lima wanita kupu-kupu telah hilang secara misterius. Temukan kembali mereka.” Bunyi perintah sandi yang ditulis Kapten Hendric, komandannya. Sandi wanita kupu-kupu dalam FBI sudah diketahui Yulie. Pasti para wanita Islam itu! Kapten Hendric adalah komandan agen rahasia FBI. 

    Di usia yang keempat puluh tahunan, Hendric yang mirip aktor Sean Connery itu masih hidup membujang. Ia dikenal sebagai komandan yang berotak brilian dan ahli strategi yang sulit ditebak jalan pikirannya, sering tak terduga. Sedang Letnan Yulie, seorang perwira wanita yang sangat menonjol kariernya, ia berhasil membongkar berbagai kasus tindak kejahatan, baik kasus yang tergolong mudah maupun kasus yang tergolong sulit dan rumit penyelesaiannya. Boleh dikatakan tak ada yang tak mungkin kalau persoalan tidak dapat diselesaikannya. Semua pasti beres kalau ada di tangan Letnan Yulie. Ia jago berkelahi, karena ia memang instruktur salah satu cabang olahraga beladiri, jago menembak yang mahir meski dengan bertangan kidal! Yulie terkenal pula sebagai wanita pendiam dan tertutup. Suka menyendiri. Ia jauh dari gosip, wajahnya yang jelita dan sikapnya yang berwibawa membebaskannya dari gunjingan. Pilihan Kapten Hendric untuk menangani larinya lima tawanan wanita yang berpakaian ‘kupu-kupu’ memang tepat untuknya. Pasti! Dalam waktu singkat kelima wanita tawanan itu akan kembali ke tahanan. Marie, desainer terkemuka, merasa senang dengan pesanan gaun panjang dari seorang wanita yang bernama aneh, Lady Butterfly. 

    Walaupun belum pernah mendengar dan bertemu dengan wanita itu, Marie dapat menduga kalau nama itu hanyalah nama samaran saja. “Tolong buatkan gaun panjang dengan belahan tidak terlalu tinggi di bagian muka. Aku ingin baju itu selesai dalam satu minggu. Model dan ukuran yang saya inginkan ada dalam kertas yang saya sertakan.” Semula Marie mengira wanita ini hanya main-main. Tapi…., Marie menerima cek senilai ratusan dolar hanya untuk satu baju yang bentuknya sederhana itu. “Pasti wanita yang kaya!” gumam Marie. Pas satu minggu kemudian, gaun pesanan Lady Butterfly sudah jadi. Marie bingung, harus kemana baju ini diantarkan. Kalaupun menelepon, ke mana Marie harus menelepon. Tepat pada hari kedelapan, bagai disambar halilintar Marie tersentak! Gaun Lady Butterfly telah lenyap dari etalase butiknya! Tapi… beberapa jam kemudian telepon berdering. Terdengar suara lembut seorang wanita. “Terima kasih. Gaun ini pas sekali untuk badanku, Marie. Aku sangat puas, kapan-kapan aku akan pesan lagi padamu. Thank’s.” Marie yakin telepon itu dari Lady Butterfly. 

    Muhammed, pemilik toko buku yang terkenal juga terheran-heran. Baru kali ini ia menerima pesanan buku yang agak aneh. Lazimnya orang yang butuh buku, akan datang langsung ke pemiliknya atau ke tokonya. Tapi pembeli yang satu ini, tampaknya seorang wanita, tidak demikian. Melihat isi surat yang dikirimnya, Muhammed yakin kalau wanita yang bernama Lady Butterfly ini sudah pernah masuk ke tokonya dan sudah mengetahui kalau tokonya menjual buku-buku yang berbau ke-islaman secara gelap. Walaupun demikian, ia tidak mau langsung membeli buku yang diinginkannya. Sekarang ia meminta pemilik toko itu mengirimkan buku yang di butuhkannya ke sebuah flat apartemen. Buku The Women of Islam, setebal hampir 599 halaman berukuran kuarto itu memang jarang dijual di toko-toko buku. Buku itu diterbitkan dalam jumlah yang terbatas. Buku yang klasik dan unik. Membahas mengenai dunia Islam yang dianggapnya aneh. Wanita sangat dihormati dan dihargai dalam Islam. Begitu dihargainya wanita hingga seorang wanita Islam tidak boleh sembarangan mengumbar auratnya. Demikian salah satu bahasan buku The Women of Islam ini. “Tolong, kirimkan buku The Women of Islam ke alamat saya di bawah ini…” isi surat itu. “Apa-apaan ini!?” gumam Muhammed. Tapi tatkala melihat jumlah yang yang tertulis dalam cek yang disertakan sesuai dengan harga buku plus uang tambahan untuk mengantarkan buku itu, hilang kedongkolannya. Yang muncul malah sikap berbaik sangkanya. “Mungkin dia sedang sibuk.” Muhammed memenuhi permintaan dalam surat tersebut. Sepulang dari bank untuk menguangkan cek yang diterimanya, ia menuju ke alamat yang diberikan dalam surat yang diterimanya. Tok… tok… tok. Pintu terbuka sedikit. “Anda perlu dengan siapa?” seorang wanita berkerudung muncul di antara sela-sela pintu yang terkuak sedikit itu. “Lady Butterfly!” “Ia memesan sesuatu? Oh, buku ya?!” Muhammed hanya mengangukkan kepala. Ia masih bingung dengan keadaan di depannya. Dari kata-kata yang diucapkan wanita berkerudung itu, Muhammad yakin kalau wanita itu bukan Lady Butterfly. Tanpa sadar ia mengeluarkan buku yang dipesan Lady Butterfly. “Bisa bertemu langsung dengan Lady Butterfly?” tanya Muhammed. “Wah, sayang sekali, dia baru saja keluar, tapi…jangan khawatir ia sudah berpesan kalau nanti Anda mengirimkan buku yang dipesannya.” Setelah melihat ke kanan dan ke kiri, wanita itu segera menerima buku yang diulurkan Muhammed dan “Thank’s.” Lalu pintu tertutup rapat. Muhammed kaget. Kenapa ia begitu mudah menyerahkan buku itu tanpa memastikan apakah orang itu bisa dipercaya untuk menyampaikan buku pesanan Lady Butterfly kepada wanita itu…? Pertanyaan-pertanyaan kekhawatiran itu mengikuti setiap putaran roda taxi yang ditumpanginya. Siangnya. “Terima kasih, Anda telah mengantarkan buku pesanan saya ke apartemen kenalan saya.” Sepucuk surat dari Lady Butterfly kembali diterimanya. “Jadi benar dugaanku, kalau wanita yang menerima buku itu bukan Lady Butterfly,” gumam Muhammed. 

    Charles, pemilik toko kain menjawab pertanyaan dari seorang wanita. “Begini Bu…,” “Jangan panggil saya Bu. Nama saya Lady Butterfly.” Semula Charles ingin tertawa mendengar nama aneh itu. Namun sebagai penjual yang baik ia harus bersikap sopan kepada pembeli. Apalagi wanita dalam telepon yang bernama Lady Butterfly itu terdengar serius dan bersungguh-sungguh. Barangkali ia benar-benar memerlukan kain yang dipesannya itu. “Maaf… maaf… Lady,” ucap Charles kaku. “Kami mempunyai bermacam-macam jenis kain dan corak-coraknya. Kalau Anda memesan kain yang bergambar kupu-kupu dengan dasar kain warna coklat muda, rasa-rasanya tidak ada. Tapi… akan saya usahakan untuk mencarinya.” “Terima kasih banyak, aku akan mentransfer uangnya sesegara mungkin. Tolong kirimkan kain yang saya butuhkan itu pada alamat yang tertera dalam suratku nanti.” “Dengan senang hati kami menunggu surat Anda,” jawab Charles berbasa-basi. 

    Aisyah, gadis yatim piatu yang ada di bawah jembatan penyeberangan itu sangat bersyukur menerima kiriman uang dalam bentuk puluhan dolar di cek yang diterimanya dari seorang laki-laki yang mendatanginya kemarin malam. Dalam surat yang dikirim bersamaan dengan cek yang diterimanya tertulis, “Gunakan uang ini untuk biaya hidupmu. Dari pengagummu atas usahamu mempertahankan aqidah di antara kerasnya dunia, Lady Butterfly. “Dari seorang wanita yang bernama Lady Butterfly…, siapa dia ya….? Sepertinya aku tak pernah mengenalnya…” desis Aisyah. Aisyah, bukan dara yang jelita. Kesukaran hidup yang dilaluinya terlihat di bias-bias wajahnya. Tapi Aisyah yang yatim piatu itu mampu hidup di dunia orang-orang non-Muslim, di antara Nasrani dan Yahudi. Aisyah bertekad untuk memasyarakatkan Islam di lingkungan sekelilingnya meski seorang diri. Telepon di meja kerja Kapten Hendric berdering. Kapten itu tak berniat menerima telepon sepagi ini. “Siapapun peneleponnya, katakan aku belum tiba di kantor,” kata Kapten Hendric pada operator. Tak lama operator telepon menghubunginya lagi, operator itu mengatakan kalau yang meneleponnya seorang wanita dan mendesak dengan sopan agar bisa berhubungan dengan Kapten Hendric, sebab ada masalah yang sangat penting. 

    Begitu Kapten Hendric menerima telepon…, seketika itu juga wanita tersebut mendampratnya. “Apakah memang demikian sikap seorang perwira agen FBI bila menerima telepon?! Mengaku-ngaku belum tiba di kantor! Kau pikir aku tak tahu kalau mobilmu sudah terparkir di halaman kantor, ha…?” teriaknya. “Sorry, aku tak mau melayani pembicaraan dengan seseorang yang belum kukenal!” Kapten Hendric ganti menghardik. “Siapapun saudari, tolong jangan ganggu kerja saya pagi ini!” “O…o…o…, saya tak akan mengganggu Anda, Kapten! Justru saya akan memperkenalkan diri saya. Terus-terang, Kap, sayalah yang membantu kaburnya wanita-wanita Muslimah yang sedang Anda buru itu… Kapten, kenalkan nama saya Lady Butterfly. Anda mendengarnya, Kapten?!” kata seorang wanita dalam telepon itu. “Ya, saya telah mendengar penjelasan Anda dengan sangat jelas, lantas Anda ingin uang tebusan sebagai pengganti wanita-wanita buronan saya itu? Begitukah?” tanya Kapten Hendric menyelidiki. Wanita itu diam sesaat, terdengar desahan napas panjang tanda kekesalannya pada Kapten Hendric. “Kau sungguh tak sopan, Kapten. Seenaknya sendiri memotong pembicaraanku! Kau pikir aku butuh uangmu?!” jawabnya. “Lantas apa yang kau inginkan, jika kau benar-benar wanita yang membantu tawanan-tawanan wanita itu melarikan diri?” “Ha…ha….ha…! Rupanya Anda belum mengenal diri saya sedikit pun, Kapten, termasuk pembantumu, Letnan Yulie, yang kau tugaskan untuk mencari wanita-wanita tersebut. Dan perlu aku beritahukan, Letan Yulie-mu itu tak akan mampu menyelidiki kasus ini. Bagaimanapun cara yang digunakan.”

    “Kapten Hendric yang terhormat, sekali lagi saran saya, tutup saja kasus ini, karena jika kalian mulai melakukan penyelidikan kasus ini, kalian pasti terperangkap.” “O ya… sebentar!” Kapten Hendric mulai berpikir untuk mengenal lebih jauh tentang jati diri Lady Butterfly. “Nampaknya kau begitu mengenal jati diriku, Lady…,” kata Kapten Hendric asal-asalan saja. “Oo, tentu saja, ha…ha…ha…!” jawabnya. Kapten Hendric tertegun. Ia merasa suara itu sudah tidak asing lagi di telinganya. Ia sering mendengar ia berbicara. Tapi di mana? “Kapten Hendric perjaka tua, setiap Senin dan Kamis nongkrong di Night Club Casablanca, seminggu sekali belanja sendirian ke pasar swalayan. Sabtu pagi ke gereja acara kebaktian, lalu siangnya kau ke rumah yatim piatu di ujung gang rumahmu. Dan…jujur saja, Kapten, salah satu sebab kau menugaskan Letnan Yulie untuk menyelidiki kasusmu ini agar kau bisa selalu bersamanya. Kau mencintainya bukan…?” tanyanya perlahan. “Cukup!” sergah Kapten Hendric. Ia tak menduga kalau wanita yang tak dikenalnya ini begitu jauh mengenal dirinya. “Siapa dirimu sesungguhnya?” kata Kapten Hendric mengulangi pertanyaan yang telah ditanyakan di awal perbincangan. “Aku sudah menyebutnya dengan lengkap tadi, bukan?” jawabnya ketus. “Ma… maafkan saya, Lady Butterfly,” jawab Kapten Hendric tergagap. Pada saat itu ia memberi tanda-tanda sandi pada seorang stafnya untuk merekam pembicaraan mereka. “Apakah kita pernah bertemu muka, Lady Butterfly?” tanya Kapten Hendric lagi. Tapi ia rupanya terlambat bertanya, sebab telepon sudah tertutup. “Sialan!” gerutunya. 

    Di tempat lain dalam markas FBI. Letnan Yulie kembali mempelajari arsip kelima wanita-wanita Muslimah yang telah melarikan diri. Foto-foto mereka tertempel dalam berkas-berkas yang dipelajarinya. Letnan Yulie menarik kesimpulan, bahwa wanita-wanita itu aktivis Islam yang sangat berbahaya. Malam kian larut, sambil memandangi foto-foto itu, Letnan Yulie merasa sudah menghafal wajah-wajah mereka dengan baik. - Lisbet, mahasiswi. Pernah ditahan dua kali oleh kepolisisan daerah. - Caroline, pedagang kain dan baju-baju Muslimah. - Aminah, mahasiswi. - Anna, pegawai bank. - Maria, pegawai kedutaan besar Mesir. Siang itu Letan Yulie masih di kantornya, dan Kapten Hendric mengajaknya makan bersama. “Ayo, kita makan dulu di luar dan membicarakan tugas yang sudah di jalankan,” ajak Kapten Hendric. Yulie mengangguk sambil membereskan berkas-berkas yang ada di meja kerjanya. Kapten Hendric memperhatikan wajah Yulie yang cantik itu. Senyum tipis mengembang di bibirnya. Yulie tak memperhatikan apa yang dilakukan atasannya itu. Kapten Hendric terkesiap sesaat, ketika menyadari kalau Yulie memakai anting, kalung, dan syal kupu-kupu. 

    Sejenak ingatan Kapten Hendric melayang ke pembicaraannya dengan wanita yang bernama Lady Butterfly di telepon. Ada sedikit rasa curiga di hatinya, apalagi ketika mendengar suara Yulie berbicara, memang mirip dengan wanita yang misterius itu. “Tapi… apa mungkin? Lady Butterfly itu Letnan Yulie…?” Bukankah Lady Butterfly berhubungan dengan hal-hal yang berhubungan dengan kupu-kupu…. Kapten Hendric mulai menduga-menduga siapa sebenarnya Lady Butterfly. “Jadi kita makan, Kapten?” tanya Letnan Yulie. Kapten Hendric tergagap sesaat. “O…o…o…tentu saja. Ayo.” Tapi, belum jauh mereka meninggalkan meja kerja Letnan Yulie, telepon berdering. Letan Yulie kembali lagi ke meja kerjanya. “Untuk Anda, Kapten!” “Halo, apa kabar, Kapten?” suara seorang wanita yang sangat dikenalnya. Lady Butterfly. “Bagaimana hasil penyelidikan Anda, Kapten?” tanyanya lagi, ada nada mengejek dalam bicaranya. “Akan saya mulai, tunggu saja kabar dari saya,” jawab Kapten Hendric dengan ketus. Ia merasa di remehkan wanita itu. Klik. Telepon tertutup. Kapten Hendric mendesah. Sejenak ia menatap Letnan Yulie. “Dari siapa, Pak?” tanyanya. “Dari seorang wanita yang kurang kerjaan!” jawab Kapten Hendric. “Ayo, kita ke depan,” katanya lagi. Sambil berjalan, Kapten Hendric memikirkan Lady Butterfly. Dugaan bahwa Lady Butterfly adalah Letan Yulie ternyata salah. Siapakah dia? Kepalanya pusing memikirkan hal ini. Tak mungkin, Yulie yang seorang agen FBI yang jelas-jelas beragama Kristen ini seorang wanita yang bernama Lady Butterfly. Ketika wanita itu menelepon tadi, ia ada bersamaku… Kapten Hendric mendesah beberapa kali. Letnan Yulie menyadari kalau atasannya ini memikirkan wanita yang bernama Lady Butterfly itu. Sekembali dari kantornya, Letnan Yulie segera menelepon seseorang. Terlihat serius sekali. “Sekarang…? Ya…, ya… baik,” jawabnya. 

    Segera dilepasnya seragam yang menempel di tubuhnya. Dikenakannya gaun panjang berwarna coklat dan kerudung lebar yang dapat menutupi wajahnya. Dengan tergesa-gesa ia menelusuri jalan kecil di belakang rumahnya. Sampai akhirnya Letnan Yulie hilang di tikungan jalan kecil itu. Sementara itu, di depan rumah Letnan Yulie terpakir sedan merah metalic. Sesosok tubuh jangkung keluar dari mobil itu. Kapten Hendric…. Tok..tok…tok. Pintu tak terbuka juga. Kapten Hendric mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. Klik. Pintu apartemen Yulie terbuka. Dengan hati-hati Kapten Hendric meneliti dan mengawasi sekeliling ruangan. Setelah memastikan dengan pasti kalau wanita yang secara diam-diam dicintainya itu tidak ada di rumah, Kapten Hendric mulai memeriksa laci kerja Letnan Yulie. “Tidak ada yang mencurigakan di sini,” gumamnya. Kapten Hendric duduk di kursi setelah meneliti beberapa berkas yang ada di meja kerja wanita itu. Sambil duduk, kembali matanya mengawasi ruangan itu. Muncul kekaguman pada penataan rungan itu. “Ah, Yulie memang pandai di segala bidang…,” desisnya. Pandangannya berhenti di pojok ruangan. Satu set perlengkapan musik ada di situ. Kapten Hendric mendekat. Ia melihat-lihat koleksi kaset yang ada di rak. “Hm…, bagus-bagus lagunya.” Dia mengambil satu kaset dan berniat memasukkannya dalam tape recorder. Tapi di dalam tape itu masih terdepat kaset hitam tanpa judul dan identitas lainnya. Kapten Hendric penasaran. “Lagu apa ya?” Terdengar suara seorang wanita… “Hallo, apa kabar, Kapten? Bagaimana hasil penyelidikan Anda, Kapten?” Kapten Hendric terperangah. Ia tak percaya dengan pendengarannya. “Bukankah… bukankah itu suara Lady Butterfly yang menelponku tadi siang…?” desisnya. Ia masih tak percaya dan bingung dengan kejadian yang dialaminya. “Jadi? Benarkah Yulie itu Lady Butterfly…? Tetapi bukankah tadi siang ia bersamaku?” Kapten Hendric risau. 

    Ia segera ke kamar Letnan Yulie. Ia berharap tak menemukan sesuatu yang berhubungan dengan ciri-ciri wanita yang bernama Lady Butterfly itu. Kapten Hendric membuka lemari Yulie. Tampak beberapa gaun panjang bermotif kupu-kupu di dalamnya. Dibukanya laci lemari itu. Selembar kertas diambilnya. “Aku sangat bahagia dengan keadaanku sekarang. Dengan masuk Islam aku mendapatkan ketentraman hati. Yulie.” Benarkah… Kapten Hendric tetap tidak percaya. Dia segera keluar dengan membawa kaset dan surat itu. Letnan Yulie yang menyamar sudah sampai di sebuah rumah kecil di pinggiran kota. “Assalamualaikum,” Yulie memberi salam pada orang yang ada di rumah. Tok…tok…tok. “Waalaikumussalam,” terdengar suara wanita dari rumah kecil itu. “Siapa ya?” “Saya, Lady Butterfly,” Yulie menjawab. Pintu terbuka. “Subhanallah, saudaraku…! Ayo masuk!” Wanita itu mengeluarkan kepalanya ke pintu luar rumah. Setelah yakin tidak ada orang yang mengikuti Lady Butterfly yang ternyata Letnan Yulie, wanita itu segera menutup pintu. Sementara itu beberapa wanita tampak menemani Lady Butterfly di ruang tamu. Wajah mereka sudah dihafal di luar kepala oleh Letnan Yulie karena ia ditugaskan Kapten Hendric untuk menangkap mereka. Mereka berbincang-bincang dengan serius. Sesekali Yulie membuat peta di kertas yang ada di meja. Tiba-tiba telepon berdering. “Ya benar, waalaikumussalam,” jawab wanita yang ternyata bernama Maria. Yulie memandangnya sesaat, tampak ketegangan di wajahnya. “Ya… ya… baik, akan saya sampaikan, insya Allah. Thank’s,” telepon segera diletakkan di tempatnya. Wanita itu mendesah ia memandang Yulie. Kalut. “Ada apa?” tanya Yulie. Yang ditanya hanya diam saja. Lalu mengajak Yulie masuk ke ruangan sebentar. “Sabar ya, ukhti… ternyata Allah akan menguji kita lebih berat lagi. Walaupun ukhti baru beberapa hari masuk Islam dan menyamar sebagai Lady Butterfly untuk menolong dan membebaskan kawan-kawan Muslimah yang dipenjara, ternyata penyamaran ukhti sudah diketahui oleh atasan ukhti, Kapten Hendric.” Yulie kaget. Ia tak menduga kalau kapten itu begitu cepat mengetahui jati dirinya. “Ya…inilah perjuangan!” katanya lirih. 

    Beberapa minggu kemudian tampak asap tebal dari arah apartemen Yulie. Beberapa meter dari lokasi kebakaran itu, sebuah sedan merah metalic terparkir. Seorang pria duduk di dalamnya. Terlukis kesedihan di wajahnya yang ganteng itu. “Maafkan aku, Yulie, aku tak bermaksud membakar rumahmu. Tapi perintah dari pusat mengharuskan demikian. Maafkan aku, Sayang…,” desisnya. Dari sudut yang lain. Seorang wanita dengan gaun panjang bermotif kupu-kupu mengusap airmata yang mengalir di matanya. “Ya Allah, kuatkan hamba-Mu ini berjalan di jalan-Mu” Teriring salam untuk: bapak dan ibu di Prokimal, doakan anakmu mampu berjalan dengan ridho-Nya

    sumber : Annida

  • 0 Comments
  • Filed under: Cerita Islam
  • Elegi Sebuah Keputusan

    Di hadapanku kini sedang menangis seorang gadis bernama Dewi, pacarku yang hubunganku dengannya telah terjalin selama delapan bulan. Dalam isaknya yang menurutku begitu cengeng, ia memintaku untuk tidak mem-PHK-nya dari jabatan sebagai seorang pacarku.

    “Jangan putusin Dewi ya, Andri…” Ujarnya sambil terisak.

    Aku mengambil sebuah gelas yang terletak di atas meja yang memisahkan aku dan Dewi saat ini, kemudian meneguk airnya beberapa tegukan.

    “Hhh… Dewi…” Ujarku setelah selesai aku minum. “Kenapa sih cuma sama kegiatan-kegiatanku aja kamu sampe cemburu?” Lanjutku sembari menaruh gelas itu kembali ke samping sebuah piring yang berisi nasi goreng hidangan Cafe Yayang yang sebenarnya telah dihidangkan dua menit yang lalu kepada kami berdua. Namun selera kami belum bangkit untuk segera menikmatinya.

    “Kalau kegiatan-kegaitanmu selama ini bisa menjauhkan aku dengan kamu, jelas aku cemburu.” Jawabnya.

    Aku menunduk sambil menghisap nafas dalam-dalam, mencari jawaban yang tepat untuk kusampaikan pada Dewi, yang aku mengenalnya melalui sebuah perjumpaan yang sangat modern, melalui chating.

    Mulanya hanya main-main saja ketika aku men-double klik sebuah nama yang terpampang di channel #Padang, yang menurutku cukup unik, ce-elok. Maka obrolan melalui ruang maya yang menjadi awal perkenalanku padanya pun dimulai setelah aku menuliskan kalimat, “He jangan ngelamun, elok-elok kok ngelamun. Beko kok lah tasapo baru tau raso.”

    Percakapan mulai seru ketika setelah kami menyerahkan data asl (age, sex, location) kami masing-masing, kami menemukan kesamaan umur dan tempat. Hanya jenis kelamin saja yang berbeda. Selanjutnya humor-humor segar mengalir melalui komputer kami masing-masing Dan begitulah, terjadi jawab menjawab antara kami hingga ketika sudah saatnya bagiku untuk gtg (Get to go), aku meninggalkan emailku padanya yang ketika tiga hari kemudian aku kembali ke warnet untuk memeriksa emailku, rupanya telah ia kirim sebuah surat perkenalan.

    Email darinya kiranya terus datang setelah aku meladeni satu-persatu email-emailnya yang masuk padaku. Mulanya isi surat-surat elektronik kami hanyalah berupa perkenalan identitas diri saja seperti apa hobi, kegiatan, sampai binatang peliharaan kami. Namun yang terjadi selanjutnya rupanya tidak cukup sebatas perkenalan diri semata.

    Yang membuatku heboh – meski ini sudah ku duga sebelumnya – ia meminta fotoku. Maka dengan berbekal PeDe yang cukup tinggi, aku kirim sebuah fotoku yang paling gagah, foto ketika aku berhasil menaklukan puncak gunung Merapi (Gunung Merapi yang terletak di Sumatera Barat). Dan ia pun balas memberikan foto, sebuah foto yang menggambarkan seorang gadis cantik di sebuah taman bunga yang entah di mana, aku tak tahu. Aku tak mengira, ia begitu cantik. Sesuai dengan nicknya selama ini, ce-elok.

    Perkenalan kami rasanya tanggung sekali rasanya kalau tidak ada kopi darat. Maka kopi darat antara kami terjadi di sebuah kafe yang bernama Café Yayang yang tak jauh dari rumahnya di Lapai – daerah terkenal di Padang – pada sabtu sore di mana saat itu ia datang dengan mengenakan baju merah mawar yang makin mempercantik dirinya.

    Kopi darat hanyalah gerbang menuju perjumpaan rutin selanjutnya yang selalu sama, tempat dan saatnya. Kadang kami juga bertemu di warnet tertentu untuk bermain internet bersama-sama.

    Besarnya frekuensi pertemuan kami menyebabkan kami pun sepakat untuk menjalin hubungan yang lebih dekat: pacaran. Maka dua bulan sebelum Ebtanas, kami telah berjanji di Cafe Yayang pada suatu sore di hari sabtu untuk – yang kata remaja saat ini – ‘jadian’.

    Begitulah, hubungan pacaran kami lancar-lancar saja sampai ketika hasil UMPTN diumumkan dan hasilnya aku lulus di matematika Universitas Andalas, sedangkan ia lulus di Sastra Inggris Universitas Negeri Padang. Perbedaan kampus tak menghalangi pacaran kami karena toh selama ini kami juga beda sekolah.

    Waktu terus bergulir, perlahan aku mulai tertarik untuk aktif di organisasi di kampus ini. Semua kegiatan dari setiap organisasi di MIPA ini telah aku ikuti. Dan karena kawan-kawan di jurusanku banyak yang ikut Forum Studi Islam, maka berbekal ikut-ikutan, aku mulai rajin mengikuti kegiatan FSI itu.

    Kegiatan-kegiatan itu benar-benar menambah pengetahuan agamaku. Bahkan aku mulai mengerti aturan Islam mengenai pergaulan laki-laki dan wanita.

    Sebabnya kegiatan-kegiatan itu begitu menyita waktuku – hingga aku tak sempat lagi ke warnet dan menelepon Dewi, maka kegiatan-kegiatan itu diprotes oleh Dewi kini.

    “Andri… Andri janji ya sama Dewi, jangan cuekin Dewi lagi.” Kali ini suara Dewi memecah hening di antara kami.

    Isak Dewi masih persatu. Untung saja tak begitu banyak orang di Café ini, hanya lima meja termasuk meja kami yang tertempati oleh pengunjung yang semuanya aku perhatikan sedang… pacaran. Ups, aku mulai muak melihat kegiatan yang kusebut barusan belakangan ini.

    “Oke deh Dewi, aku nggak kan mutusin kamu. But, aku nggak suka aja kalau kamu sering cerita-cerita masalah kamu sama aku.”

    “Cerita-cerita masalah?”

    “Iya, emangnya aku psikolog kamu?”

    “Andri… kok sepertinya nggak ada hubungannya dengan pembicaraan kita selama ini? Aku tuh mempermasalahkan kegiatan kamu itu. Sampe-sampe kamu mau mutusin aku karena kamu sibuk. Nggak ada hubungannya dengan kebiasaan aku suka ngadu masalah-masalah aku ke kamu”

    “Yaa gitu. Kalo kamu nggak mau diputusin, kamu harus rubah kebiasaan kamu. Kamu nggak boleh lagi mengeluh di hadapan aku.”

    Tampak olehku dahi Dewi berkerut tanda kebingungan mendengar ucapan-ucapanku.

    “Cuma dengan tidak lagi mengeluh di hadapan kamu, kamu nggak akan mutusin aku?” Tanyanya.

    “Iya, emangnya kenapa?”

    “Lalu kegiatan-kegiatan kamu?”

    “Tetap jalan. Dan aku akan berusaha untuk tetap merhatiin kamu.”

    “Apa gara-gara aku sering ngeluh kamu jadi cuekin aku?”
    ”Nggak.”

    “Lho, jadi… Gimana sih maksud kamu.”

    “Aku ingin kamu ngaduin masalah-masalah kamu ke Uni Irna.”

    “Uni Irna kakak mu? Memangnya kenapa?”

    “Yah gitulah. Aku cuma pengen kamu dekat dengan kakakku. Mudahkan? Kamu kan satu kampus dengan Uni Irna. Tapi itu kalau kamu mau. Kalau nggak, ya mungkin aku harus konsentrasi ke kuliah dan organisasiku. Pacarannya nanti aja kalau aku sudah nikah nanti.”

    “Pacaran kalau sudah nikah? Ih, aneh deh kamu Andri. Ya sudah, kalau itu syarat dari kamu, aku akan berusaha untuk dekat dengan kakakmu.”

    Aku melempar senyum keluar, pada hujan yang sudah agak reda meski rintik-rintik tipis masih ingin bercanda pada kulit bumi.

    *****

    Langkah dipercepatku menjamahi trotoar di bahu jalan Sudirman – Jalan di mana warung internet langgananku berada – ketika matahari satu jam lagi tertelan langit barat. Berikutnya setelah aku sudah berada di depan warnet Idola, aku bergegas ke dalam mencari bilik yang kosong yang – AlhamduliLlah – langsung aku temukan. Segera pada komputer yang ada dibilik itu, aku double klik icon internet explorer dan kuketik www.muslimmuda.com – web site tempat aku mendaftarkan email – pada addres di layar explorer yang telah muncul.

    Langkah selanjutnya adalah aku mencari email balasan dari Dewi di kotak inbox. Dan email yang aku cari itu aku temukan.

    Email itu berisi tentang penerimaannya terhadap permintaan maafku yang kukirim melalui email tiga hari yang lalu. Janji kencan di Café Yayang pada sabtu sore kemarin terpaksa aku batalkan sepihak karena ada acara mabit (menginap) yang diadakan di Masjid Nurul ‘Ilmi dan waktunya pun dimulai pada Sabtu sore.

    Pemaklumannya itu membuatku terkejut. Biasanya ia akan marah padaku dan dengan manja memintaku untuk memperhatikannya sebagai layaknya orang pacaran. Bukan cuma itu saja yang membuatku terkejut. Ia juga bercerita kalau ia makin dekat saja dengan Uni Irna. Ia mulai merasakan kelembutan Uni Irna yang menyentuhnya pada setiap kali ia mengadu masalah-masalah yang ia hadapi kepada Uni Irna. Ia juga bercerita kalau sebentar lagi ia akan mengenakan jilbab, sebagai suatu realisasi nasihat-nasihat Uni Irna selama ini. Jelas sekali dari suratnya, Uni Irna memiliki pengaruh yang besar sekali pada diri Dewi.

    Dalam pada itu, riak-riak kekhawatiran menerpa dinding hatiku. Di satu sisi, siasatku untuk mendekatinya pada Uni Irna telah berhasil. Di sisi lain, mulai timbul ketakutan pada diriku ketika ia pada akhirnya memutuskan aku secara sepihak.

    Azzamku luruh oleh nafsu yang lupa aku belenggu ketika aku mulai mengetik sebuah surat yang berisi permohonan agar ia juga tidak lupa memperhatikan aku, dan tidak sampai memutuskan aku setelah ia dekat dengan Uni Irna.

    *****

    Jarum jam di dinding Café Yayang membentuk 120 derajat dengan Jarum pendek menunjuk ke angka delapan setelah bel jam itu berbunyi delapan kali. Aku duduk sendiri di meja dekat pintu masuk, ditemani tempias hujan yang memeluk aku yang menanti Dewi selama satu jam ini.

    Rasa bosan mendekapku erat bersama rasa kesal yang menggerogoti rasa kangen pada Dewi. Sementara nasi goreng yang sudah begitu lama terhidang baru aku makan setengahnya.

    Tanpa nada yang teratur, aku mengetukkan jari-jariku di atas meja. Dan setelah lima menit waktu beranjak dari delapan tepat, tanpa menghabiskan nasiku aku beranjak dari Café tersebut, kemudian menembus gerimis malam menuju sebuah warnet terdekat.

    Dengan niatan ingin memarahi Dewi melalui email – karena malam ini ia telah mengingkari janjinya dan belakangan ini ia tidak pernah lagi meneleponku, aku membuka emailku setelah sebuah komputer yang tadinya menganggur aku ambil alih. Aku tak salah untuk kesal padanya. “Bukankah dahulu ia yang mengemis-ngemis padaku agar aku tidak memutusinya?” Pikirku.

    Terlebih dahulu aku membuka kotak surat yang sudah seminggu ini tidak aku buka karena sibuk. Dan setelah inbox terbuka, sebuah surat bersubject “Maafkan Dewi” yang mengejutkan aku, langsung aku buka.

    Assalamualaikum wr. wb.

    Andri, maafkan Dewi kalau surat ini membuat Andri sedih, kesal, atau marah pada Dewi. Tapi Dewi rasa, Andri tidak akan sampai seperti itu. Karena bukankah Andri sendiri yang sengaja mendekatkan Dewi pada Uni Irna?

    Andri, setelah Dewi mengenal Uni Irna lebih dekat, Dewi mulai mengenal keindahan Islam. Uni Irna selalu menjawab dengan bijak kesedihan-kesedihan Dewi. Dewi diperkenalkan pada sebuah trouble solver yang bernama Islam. Dewi jadi sadar, betapanya agama yang Dewi anut selama ini begitu Dewi acuhkan sehingga keindahan-keindahannya tidak dapat Dewi nikmati.

    Dewi juga diajak untuk ikut kegiatan-kegiatan Islam di kampus. Sama seperti kamu, Dewi pun lama-lama mulai tertarik dengan kegiatan keislaman. Kegiatan keislaman itu sedikit banyak makin menambah luas pengetahuan keislaman Dewi.

    Dewi juga ikut kajian mingguan yang ada di kampus. Pokoknya, Uni Irna sukses membuat Dewi aktif di setiap kegiatan keislaman.

    Hingga akhirnya pada suatu saat di sebuah acara keislaman, Dewi mendengar bahwa Islam tidak mengenal pacaran. Pada mulanya Dewi ragu, Ndri. Tapi Uni Irna berhasil meyakinkan Dewi. Dan dari Uni Irna lagi, rupanya kamu juga udah tau kalau pacaran itu dilarang dalam Islam.

    Begitulah Andri, Dewi akhirnya punya keberanian untuk memutuskan hubungan kita. Toh rupanya syarat kamu agar Dewi dekat dengan Uni Irna bertujuan supaya Dewi siap kalau suatu waktu kamu memutuskan hubungan kita.

    Andri, insya Allah, kalau Allah menghendaki pacaran kita ini akan tetap berlanjut. Tapi nanti Ndri, ketika kita sudah diresmikan oleh penghulu. Tapi selama kita belum resmi, kita berlindung saja kepada Allah dari cinta yang berasal dari nafsu.

    Mudah-mudahan masing-masing kita mendapatkan pasangan yang terbaik yang pilihan Allah.

    Wassalamualaikum wr. wb.

    Dewi

    Seketika kurasakan sekujur tubuhku menjadi lemas. Aku telah kedahuluan olehnya.

    sumber : Muslimmuda.com

  • 0 Comments
  • Filed under: Cerita Islam
  • Kisah Pohon Apel

    Suatu masa dahulu, terdapat sebatang pohon apel yang amat besar. Seorang kanak-kanak lelaki begitu gemar bermain-main di sekitar pohon apel ini setiap hari. Dia memanjat pohon tersebut, memetik serta memakan apel sepuas-puas hatinya, dan adakalanya dia beristirahat lalu terlelap di perdu pohon apel tersebut. Anak lelaki tersebut begitu menyayangi tempat permainannya. Pohon apel itu juga menyukai anak tersebut. 

    Masa berlalu… anak lelaki itu sudah besar dan menjadi seorang remaja. Dia tidak lagi menghabiskan masanya setiap hari bermain di sekitar pohon apel tersebut. Namun begitu, suatu hari dia datang kepada pohon apel tersebut dengan wajah yang sedih. “Marilah bermain-mainlah di sekitarku,” ajak pohon apel itu. “Aku bukan lagi kanak-kanak, aku tidak lagi gemar bermain dengan engkau,” jawab remaja itu. “Aku mahukan permainan. Aku perlukan wang untuk membelinya,” tambah remaja itu dengan nada yang sedih. Lalu pohon apel itu berkata, “Kalau begitu, petiklah apel-apel yang ada padaku. Juallah untuk mendapatkan uang. Dengan itu, kau dapat membeli permainan yang kau inginkan.” Remaja itu dengan gembiranya memetik semua apel di pohon itu dan pergi dari situ. Dia tidak kembali lagi selepas itu. Pohon apel itu merasa sedih. 

    Masa berlalu… Suatu hari, remaja itu kembali. Dia semakin dewasa. Pohon apel itu merasa gembira. “Marilah bermain-mainlah di sekitarku,” ajak pohon apel itu. “Aku tiada waktu untuk bermain. Aku terpaksa bekerja untuk mendapatkan uang. Aku ingin membina rumah sebagai tempat perlindungan untuk keluargaku. Bolehkah kau menolongku?” Tanya anak itu. “Maafkan aku. Aku tidak mempunyai rumah. Tetapi kau boleh memotong dahan-dahanku yang besar ini dan kau buatlah rumah daripadanya.” Pohon apel itu memberikan cadangan. Lalu, remaja yang semakin dewasa itu memotong kesemua dahan pohon apel itu dan pergi dengan gembiranya. Pohon apel itu pun turut gembira tetapi kemudiannya merasa sedih karena remaja itu tidak kembali lagi selepas itu. 

    Suatu hari yang panas, seorang lelaki datang menemui pohon apel itu. Dia sebenarnya adalah anak lelaki yang pernah bermain-main dengan pohon apel itu. Dia telah matang dan dewasa. “Marilah bermain-mainlah di sekitarku,” ajak pohon apel itu. “Maafkan aku, tetapi aku bukan lagi anak lelaki yang suka bermain-main di sekitarmu. Aku sudah dewasa. Aku mempunyai cita-cita untuk belayar. Malangnya, aku tidak mempunyai boat. Bolehkah kau menolongku?” tanya lelaki itu. “Aku tidak mempunyai boat untuk diberikan kepada kau. Tetapi kau boleh memotong batang pohon ini untuk dijadikan boat. Kau akan dapat belayar dengan gembira,” kata pohon apel itu. 

    Lelaki itu merasa amat gembira dan menebang batang pohon apel itu. Dia kemudiannya pergi dari situ dengan gembiranya dan tidak kembali lagi selepas itu. Namun begitu, pada suatu hari, seorang lelaki yang semakin dimamah usia, datang menuju pohon apel itu. Dia adalah anak lelaki yang pernah bermain di sekitar pohon apel itu. “Maafkan aku. Aku tidak ada apa-apa lagi untuk diberikan kepada kau. Aku sudah memberikan buahku untuk kau jual, dahanku untuk kau buat rumah, batangku untuk kau buat boat. Aku hanya ada tunggul dengan akar yang hampir mati…” kata pohon apel itu dengan nada pilu. “Aku tidak mahu apelmu kerana aku sudah tiada bergigi untuk memakannya, aku tidak mahu dahanmu kerana aku sudah tua untuk memotongnya, aku tidak mahu batang pohonmu kerana aku berupaya untuk belayar lagi, aku merasa lelah dan ingin istirahat,” jawab lelaki tua itu. “Jika begitu, istirahatlah di perduku,” kata pohon apel itu. Lalu lelaki tua itu duduk beristirahat di perdu pohon apel itu dan beristirahat. Mereka berdua menangis kegembiraan. 

    Tersebut. Sebenarnya, pohon apel yang dimaksudkan di dalam cerita itu adalah kedua-dua ibu bapa kita. Bila kita masih muda, kita suka bermain dengan mereka. Ketika kita meningkat remaja, kita perlukan bantuan mereka untuk meneruskan hidup. Kita tinggalkan mereka, dan hanya kembali meminta pertolongan apabila kita di dalam kesusahan. Namun begitu, mereka tetap menolong kita dan melakukan apa saja asalkan kita bahagia dan gembira dalam hidup. Anda mungkin terfikir bahwa anak lelaki itu bersikap kejam terhadap pohon apel itu, tetapi fikirkanlah, itu hakikatnya bagaimana kebanyakan anak-anak masa kini melayan ibu bapa mereka. Hargailah jasa ibu bapa kepada kita. Jangan hanya kita menghargai mereka semasa menyambut hari ibu dan hari bapa setiap tahun.

    sumber : Milis Kisah - kisah Islam

  • 0 Comments
  • Filed under: Cerita Islam
  • Pulang

    CUKUP lama sudah laki-laki itu termangu menatap langit-langit kamar. Pikirannya kusut tak terurai. Kalaupun ada satu dua yang tertemukan, tak tahulah apa dan dimana ujung dari kesemuanya tadi berawal. Sementara dalam hati ini, kegundahanpun turut larut menggiris hati. Panas dan suntuk sekali rasanya malam ini. Sebentar kemudian laki-laki itupun bangkit dari pembaringan. Sebatang rokok filter diharapkan kiranya dapat sedikit mengurangi tekanan dalam jiwa. Pun pikiran yang kegerahan.

    Kijan nama laki-laki ini. Malam ini kembali berada pada suatu titik sunyi. Seperti biasanya dan juga seperti pada hari-hari sebelumnya. Sungguh! Betapa segala sunyi serta gelimangan hari-hari selalu tampak hadir tanpa pamrih pada kehidupan laki-laki ini. Anehnya kesemuanya taklah sebegitu hebatnya seperti kali ini.

    Malam di kala semuanya telah beranjak melarut, sinar rembulan tampak perlahan muncul, merayap dan tembusi celah-celah daun jendela kamarnya. Jauh di sana terdengar sayup-sayup sampai suara ayat-ayat suci berkumandang di surau tak jauh dari kontrakannya. Kijan berdiri mendekati jendela. Ingin sekali rasanya sinar rembulan itu ia nikmati. Daun jendela ia buka lebar-lebar. Akh…betapa sejuknya angin malam di luaran sana. Dan dinginnya udara akhirnya datang terpa wajah teduhkan jiwa.

    Sinar rembulan terus membias di wajahnya. Kepalanya dibiarkannya terus terdongakkan ke atas agar bisa terus-menerus nikmati lembutnya belaian cahaya keperakan di balik mega sana.

    “Bulan separuh sunyi mencumbu waktu,” tanpa disadarinya kata-kata itu begitu saja muncul dari permukaan bibirnya, seperti halnya dengan senyuman itu yang perlahan muncul setelah kata-kata itu terucap.

    Bulan separuh sunyi mencumbu waktu. Akh!…Ternyata ia masih ingat juga sepenggalan bait puisi Toto ST Radiq. Puisi yang tergurat di dinding kamar kosnya. Tepat di sebelah kanan tempat tidurnya. Entah siapa yang menulis kalimat ini. Yang jelas ia senang dengan kalimat pertamanya. Cocok sekali dengan apa yang sedang dialaminya malam ini.

    Waktu berjalan perlahan namun pasti melarutkan isi malam. Namun Kijan masih pula berdiri menatap langit gelap. Di sini cumalah jangkrik malam saja yang tetap setia temani pengembaraan pikirannya.

    Malam ini malam kedua puluh delapan di bulan Ramadhan. Ramadhan toh seperti bulan-bulan lainnya. Itu anggapan Kijan selama ini. Dan iapun tak begitu mengistimewakannya. Bulan yang dulu kata guru agamanya disebut bulan penuh rahmat dan pengampunan. Akh! Rasanya biasa saja.

    Namun kini. Di saat ini. Menginjak tahun ke delapan sejak kepergiannya. Ada setangkup rasa yang sukar sekali buat dilukiskan. Hatinya gusar. Pikirannya terbang entah kemana. Perasaan ditegur terasa jelas menggedor-gedor alam perasaannya. Mirip ketika pintu kamarnya digedor keras oleh bapaknya saat ia kesiangan untuk melakukan Shalat Subuh.

    Bapak. Akh! Sedang apa sekarang orang tua itu di rumah. Mungkin sedang taddarus. Atau pula mungkin sedang memain-mainkan butir-butir tasbih di tangan sembari tak henti mengucapkan puja-puji pada Allah. Berdzikir atau…entahlah. Tiba-tiba pikiran ini buntu. Yang ada di depan matanya kini cuma sesosok tubuh tua yang rapuh menghiba memanggil namanya. Sayup-sayup sampai dapat ia tangkap apa yang sesungguhnya terucap dari bibir tua itu. “Kijan. anakku…Pulanglah.”

    Kijan terbangun dari tidurnya. Bermimpikah aku? Ia bergurau sendiri. Namun suara-suara itu jelas dirasakannya. Dan sosok tua itu seperti betul-betul hadir di hadapannya. Sosok yang keras, seperti dirinya juga yang sama-sama keras. Alasan keras inilah yang kemudian menciptakan jurang yang sangat dalam pada diri orang tua dan sang anak. Hidup memang merupakan guratan-guratan kisah yang seseorangpun taklah pernah bisa mengerti apa dan bagaimana akhir dari perjalanan ini. Seperti halnya hidup pula yang memisahkan lajur cerita sosok manusia. Keterperosokan Kijan pada lingkaran kriminal jelas membuat luka di hati orang tua ini. Menggurat kian dalam setelah hal itu ternyata bukanlah yang pertama kalinya. Hingga di akhir titik jemu. Kesemuannya berakhir dengan pedihnya perpisahan. Perpisahan yang mungkin disadari orang tua itu sebagai satu jalan yang melapangkan ruang waktu yang sedianya tertenggangkan. Kijan pun akhirnya menyadari. Telah kikis habis sudah rasa-rasa yang dimiliki oleh bapaknya guna menutupi malu dan cela yang timpa keluarga.

    Betapa pedih hati orang tua itu sepeninggalnya Kijan dari LP delapan tahun silam.

    Sepedih hati Kijan yang dengan langkah terpaksa akhirnya mesti berusaha hindari kenyataan buat selama-lamanya. Kenyataan bahwa ia pernah hidup dan tinggal satu dalam ruang temaram yang sarat dengan perhatian dan kasih sayang. Kijan tak sanggup dan berusaha mengingkarinya. Jalan satu-satunya cuma dengan pergi pada kehidupan yang dirasakan lebih bisa mendatangkan ketenangan dan ketentraman di hati ini. Dan tak satupun keluarganya boleh sedia tahu kemana perginya.

    Tapi itu dulu. Waktu delapan tahun saat ketetapan hati ini masih penuh di dada. Kala hati ini masih berkecamuk dalam seribu tanya dan pencarian jati diri yang tak pernah ada. Kebahagiaan itu memang pada akhirnya tak pernah bisa termuara jika berusaha menapaki hari untuk terus-menerus mencari. Sebab secara hakikinya memang kebahagiaan hidup itu ada dalam hati untuk kemudian dibias lewat rasa. Ya. Kebahagiaan itu memang muaranya ada pada diri. Bukan pada siapa-siapa. Tapi ia bisa muncul lewat diri kita. Kita sendiri yang harus memulainya.

    Cahaya lampu perlahan mengalihkan pantulan wajah pemuda itu pada cermin di depannya. Kijan tertegun. Guratan halus tampak hadir di kiri kanan pojok mata. Ia tersenyum. Ada rasa yang tak bisa ia urai saat ini kala memandang guratan itu.

    Betapa letihnya hari-hari ini kulalui dalam pengembaraan hidup, gumamnya. Lirih.

    “Aku harus pulang. Bapak, aku akan pulang,” senyum tipis itu kembali hadir. Kali ini lebih lega kelihatannya. Besok aku harus pulang, sebelum Idul Fitri menjelang. Janjinya pada larutnya malam. Hari ini.

    ***

    Puasa kian berujung. Ramadhan tinggal beberapa hari lagi. Namun tanda-tanda menjelang Idul Fitri sudah mulai terasa. Wajah-wajah ceria jelas terukir pada tiap-tiap muslim yang menjalankan ibadah puasa. Terbayang di diri mereka rencana apa saja yang bakalan dilakukan di hari lebaran nanti. Pertemuan dengan teman-teman lama, kerabat, handai taulan dan lain-lain kegembiraan telah menari-nari di pelupuk mata masing-masing. Indah nian hari ini.

    Begitu yang mereka rasakan begitu pula dengan apa yang dirasakan Kijan. Tekadnya sudah bulat untuk menemui bapaknya sekaligus berziarah ke makam ibunya. Kakak-kakaknya pun sudah jelas ingin juga segera ia temui. Ia tak peduli entah apa yang bakal terjadi dengan kehadirannya kembali di keluarga. Apa sambutan kakak-kakaknya. Dan bagaimana sikap bapaknya. Cukup sudah pengembaraan dan perjalanan hidupnya dilalui dalam sedih maupun gembira. Lengkap dengan cerita-cerita yang menghantam dan mengantarkannya pada satu titik pengertian bahwa pencarian setiap manusia selalu melewati tahapan dan warna yang berbeda-beda. Kedewasaan dan kematangan akhirnya telah terhimpun genap di dalam proses penempaan diri. Tuhan memang selalu berpihak pada insan yang mau berubah pada apa itu yang dinamakan titik-titik kebenaran yang hakiki. Bukankah tiada kebenaran yang sebenar-benarya kebenaran selain kebenaran pada keberpihakan diri pada Yang Maha Esa.

    Kijan menginjakkan kakinya di teras rumah. Pas matahari terbenam. Ragu ia masuk teras itu. Matanya menyipit. Rumah ini ternyata masih seperti yang dulu. Tak banyak yang berubah. Juga letak kursi-kursi di teras itu. Masih seperti dulu. Tak banyak yang berubah. Juga letak kursi-kursi di teras itu. Masih seperti dulu. Yang berubah cuma warnanya tidak secerah dulu. Saat delapan tahun ia tinggalkan. Juga warna cat di dinding rumah. Agak terkelupas di sana-sini. Juga warnanya sudah tak secerah dulu. Pintu rumah diketuknya. sepi. Yang terdengar cuma adzan maghrib yang berkumandang di surau di ujung desanya. Kijan mengetuk pintu itu lagi.

    Tapi suasana sepi kembali ada. Mungkin di belakang. Pikirnya.

    Suara langkah kaki dan derit pintu yang terbuka terdengar. Diurungkannya untuk pergi ke belakang lewat samping rumah. Kijan menoleh. Seraut wajah tenang memandangnya. Kijan hapal betul siapa pemilik wajah tenang dan bersih itu. Kakak sulungnya, Akhmad. Lelaki yang dulu paling diseganinya. Anak soleh yang selalu taat beribadat. Guru di madrasah dekat kampung sebelah. Tak ada yang berubah dari sosok itu. Kijan tak berani terus menatap wajah itu. Teringat kembali betapa bertolak belakangnya apa yang dimiliki oleh sang kakak dengan kelakuannya selama ini.

    Lama mereka saling diam. Dan laki-laki itupun akhirnya berkata: “Kijan”.

    “Bang Akhmad,” suara Kijan terdengar parau. Kijan tak sanggup menahan gejolak di dalam dada. Dipeluknya laki-laki di hadapannya. Laki-laki itu pun balas memeluk.

    “Kemana saja kau selama ini, dik?” butir-butir air mata terasa membasahi kemeja Kijan. Kijan terharu. Tapi lidahnya kelu untuk bisa bicara. Apa yang ingin dia ucap telah lenyap oleh isak tangis dan gejolak dalam dada yang kian keras.

    “Bapak dimana, Bang ?”

    Akhmad. Lelaki itu tak kuasa menjawab pertanyaan dari sang adik. Hanya air matalah yang bisa menjadi jawaban. Tapi akhirnya dipaksakannya jua untuk menjawab.

    “Bapak sudah meninggal. Minggu kemarin,” datar kedengarannya karena Akhmad telah berusaha untuk tabah. Tapi di balik itu kata-katanya jelas merupakan petir di telinga Kijan. Tidak! Kijan jatuh terduduk di lantai. Angan dan keinginannya membentur kenyataan. Bahwa orang yang selama ini begitu ingin ditemuinya telah tiada. Bukan itu yang menjadi sesalnya. Keinginan untuk bisa bertemu dan meminta maaf atas kelakuannya dahulu yang tak terpenuhilah yang jadi penyesalan. Ya Allah pada siapa lagi diri ini meminta maaf. Kijan terpukul.

    “Sudahlah, Dik. Kesemuanya memang pada akhirnya mesti kita kembalikan pada Allah semata. Kita harus ikhlas menerimanya.” “Dan kami sebagai kakak-kakakmupun akhirnya juga tetap ingin kau kembali seperti sekarang ini,” terdengar sahutan dari belakang punggung Kijan. Ia menoleh. Heni dan Rosita. Dua orang kakaknya telah berdiri di belakangnya. Dipeluknya kedua kakaknya. Keharuan bercampur gembira di dalam dada masing-masing.

    “Jangan pergi lagi, dik,” suara Heni terbata-bata diiringi suara tangis Kijan tak menjawab. Cuma anggukan kepala yang bisa ia lakukan.

    Untuk pertama kalinya setelah delapan tahun meninggalkan rumah ini, Kijan berbuka puasa bersama kakak-kakaknya. Betapa hidup telah mengukir cerita lewat ceceran-ceceran perjalanan yang melanda setiap insan. Kepahitan hidup. Juga kepedihan-kepedihan dalam melangkahkan kaki ini semuanya taklah bisa dijadikan halangan buat kita terus melangkah. Kedewasaan serta kematangan dalam bersikap terkadang mutlak perlu dilalui dengan terlebih dahulu tahu dan mengenal apa itu penderitaan.

    Sayup-sayup terdengar suara takbir dari surau desanya. Kijan berdiri di teras rumahnya. Sinar rembulan perlahan datang merambat dari balik awan. Besok aku harus berziarah ke makam bapak dan ibu. Batinnya berjanji.

    “…Bulan separuh sunyi mencumbu waktu.
    Dibenakku masih tersisa pertanyaan lain.
    Dimanakah rumahku…”

    sumber : ukhuwah.or.id

  • 0 Comments
  • Filed under: Cerita Islam
  • Di Bawah Rembulan El-Syifa

    Blug… blug… blug…!!!

    Aris mengangkat punggungnya yang bermandikan keringat. Kaus singlet putihnya yang pudar dimakan usia lekat di kulitnya yang legam terbakar matahari.

    Dengan cekatan tangannya memasukkan gumpalan-gumpalan adonan tanah ke cetakan persegi berjajar empat. Meratakannya hingga padat mengisi seluruh ruang, lalu merapikannya dengan bilah kayu. Sesaat kembali terdengar irama khas itu. Tanah bergetar sebentar.

    Matahari mulai condong ke barat. Sinarnya yang keemasan menyapu rambatan kacang panjang. Daun-daun singkong yang mulai bertunas bergoyang dipermainkan angin. Jagung-jagung muda menyeruak di ketiak daun, menyelaraskan hamparan padi yang ijo royo-royo. Aris memasukkan sisa tanahnya yang terakhir. Peluh menetes di pelipisnya.

    Seteguk air melegakan tenggorokannya. Di hempaskannya pantatnya ke lantai tanah dangau. Buaian angin mengusir titik-titik keringatnya. Dengan puas dipandangnya jerih payahnya seharian yang berderet rapi menutupi pelataran.

    “Hoi…, lumayan hari ini, Kang?” teriakan Kang Sobir dari seberang membuat Aris tersenyum makin lebar.

    “Yah, ada kalau sekitar lima ratus,” sahutnya sambil mengeluarkan slepi-nya. Dari jauh dilihatnya Kang Sobir menyusuri pematang menuju ke arahnya.

    Bagaimana kabar Suswati? Berapa bulan kandungannya, kok, sekarang sudah jarang kelihatan turun membantumu?” Tanya Kang Sobir.

    “Sudah bulannya, Kang, makanya aku suruh siap-siap saja di rumah. Dan lagi kurang bagus orang hamil tua kerja keras begini.”

    “Senangnya mendapat anak pertama, Kang.”

    Mata Aris membulat gemerlap. Anak, siapa yang tidak mendambakannya dalam sebuah keluarga?

    Sang surya kian jatuh ke barat. Aris membereskan bekalnya sebelum menutup jajaran batu bata yang baru di cetaknya dengan lembaran plastik. Dipandangnya langit. Cerah tanpa awan. Hujan tidak akan turun meski hanya gerimis sekali pun. Aris tidak perlu khawatir air hujan akan menyapu bersih hasil kerja kerasnya.

    Sambil bersiul Aris melangkah pulang. Terbayang istrinya yang tengah hamil tua menyambutnya dengan kehangatan yang tidak pernah bayangkannya akan diperoleh dalam kemelaratan. Serombongan burung gelatik melintas di atas kepalanya. Kemudian hinggap memenuhi dahan pohon lamtoro gung. Aris tak peduli.

    ***

    Suswati mengangkat piring kotor dan gelas bekas makan malam ketika terdengar petir membelah malam yang baru turun. Nyaris saja piring di tangannya terlepas. Aris melompat bangun dari bale-bale. Ia terperanjat, disebutnya asma Allah ketika suara titik-titik hujan menderas di atas atap. Pikirannya menggapai jajaran batu batanya yang hanya dilindungi lembaran plastik. Jika hujan kian deras, apalagi terjadi badai semuanya akan hancur. Batu bata yang susah payah dicetaknya akan meleleh tak berbentuk.

    Segera disambarnya senter dan jas hujan tua. Suswati mengiringinya dengan doa dari pintu ketika Aris melangkah menembus kegelapan malam dan hujan yang kian lebat.

    Sawah ramai dengan suara-suara manusia yang beradu dengan petir dan gemuruh air hujan. Sorot-sorot lampu senter menyala redup mencoba menembus benteng air. Aris mencoba menyalakan lampu gantung di dangaunya. Sia-sia. Angin bertiup terlalu kencang, menggoyahkan pucuk-pucuk turi dan lamtoro gung.

    Sebisa mungkin Aris menyelamatkan sumber kehidupannya. Untuk memasukkannya ke dangau jelas mustahil. Selain belum kering, hujan akan melelehkannya bata-bata itu dalam genggaman tangan sebelum mencapai dangau. Lembaran-lembaran plastik dihamparkannya melebihi jajaran batu batanya. Batang-batang kayu di letakkan pada keempat sisi plastik untuk menahan masuknya air.

    Dalam guyuran hujan, Aris menjangkau cangkulnya. Dibuatnya saluran air darurat agar air tidak terkumpul di pelataran dan merendam batu batanya. Sesaat terlintas rasa sayang ketika membayangkan bagaimana ia meratakan pelataran hingga licin di bawah terik matahari. Tetapi cangkul terus terayun. Itulah resiko. Dicobanya membayangkan Suswati dengan anak dalam kandungannya untuk meneguhkan hati. Anak yang akan segera lahir. Amanat dari Allah yang tidak akan ia sia-siakan. Yang akan ia beri penghidupan dan pendidikan yang layak. Aris terus mengayunkan cangkulnya.

    ***

    Dalam perjalanan pulang kaki Aris dengan cermat mencari pijakan yang tepat di antara rimbunan daun singkong dan bayam yang terkadang menjorok ke pematang. Kalen dilompatinya dengan sigap. Ia tidak tega membiarkan Suswati sendirian dalam hujan lebat seperti ini. Biarpun ia tahu perempuan seperti apa yang menjadi teman hidupnya itu, ia tidak akan meningalkannya seorang diri. Suswati perempuan hebat. Perempuan yang memiliki ketabahan luar biasa.

    Rasanya baru kemarin Aris merasakan hidup berkecukupan. Demikian juga istrinya. Ia berasal dari keluarga baik-baik yang tidak kekurangan materi sedikit pun. Namun segalanya berakhir ketika Aris memutuskan melamar Suswati yang berjilbab dan merupakan kerabat dekat seorang ulama terkenal pula.

    Keluarga Aris tidak mau bermantukan gadis berjilbab, anak dari orang yang paling sering mengingatkan mereka tentang usaha peminjaman uang ilegal ibu Aris. Sementara ayah Suswati pun tidak sudi bermantukan anak rentenir. Hanya karena kuatnya pengaruh paman Suswati yang ulama itu akhirnya ayahnya mau menjadi wali nikah. Tetapi seusai pernikahan mereka berdua terpaksa angkat kaki dari rumah masing-masing dan memulai kehidupan baru yang sangat berbeda.

    Aris tidak memiliki bekal pendidikan yang memadai untuk bekerja di kantor kabupaten. Dari kecil ia sudah di-gegadhang akan mewarisi seluruh bisnis keluarga sebagai satu-satunya anak lelaki. Untuk memulai usaha pun sulit karena seluruh modalnya sudah diboikot. Sementara Suswati, meski berasal dari keluarga berada, hanya dididik untuk menjadi ratu rumah tangga.

    Lagi-lagi karena kemurahan hati paman Suswatilah mereka mendapat sepetak sawah yang Aris usahakan untuk bermacam keperluan. Menanam padi sebagian dan sebagian lagi untuk membuat batu bata. Pematang ditanaminya dengan aneka macam palawija dan sayur mayur. Semua itu dilakukannya dengan kerja keras sebab ia buta sama sekali dengan masalah pertanian. Beruntung Suswati selalu membantunya. Ia sama sekali tak pernah mengeluh. Semua diterimanya dengan ikhlas.

    Aris mempercepat langkah ketika melihat rumahnya ramai oleh kerlip lampu yang timbul tenggelam dalam kegelapan. Apa yang terjadi?

    “Istrimu, Kang!” Yu Rodiah, tetangga terdekatnya, berseru ketika melihat kelebat bayangan Aris.

    “Ada apa dengan Wati?” Aris menyeruak masuk. “Mau melahirkan?”

    “Barangkali iya, makanya tadi saya panggilkan Mbak Sukirah, tapi darahnya terus-terusan keluar. Mbak Sukirah bilang tidak sanggup,” Yu Rodiah menjelaskan seraya mengiringi Aris masuk ke kamar istrinya.

    Yu Rodiah benar. Di bawah sinar lampu teplok yang berkedip-kedip nampak Suswati terbaring lemah dengan muka pucat pasi. Pendarahan terus terjadi. Di sisi tempat tidur tampak Mbah Sukirah, dukun beranak desa itu, duduk menguatkan hati Suswati.

    “Lebih baik memanggil bidan, Nak!” kata Mbah Sukirah setelah Aris masuk, “Atau ke rumah rakit. Saya takut melihat darahnya terus menerus keluar.”

    Rumah sakit? Aris mengulang kata itu dalam hatinya. Rumah sakit? Selama ini ia berusaha sebisa mungkin agar tetap sehat dan tidak menyentuh tempat itu. Tapi melihat kondisi Suswati tidak ada pilihan lain. Alhamdulillah ia punya sedikit simpanan. Tapi dengan apa membawa Suswati ke rumah sakit kabupaten malam-malam begini? Dalam cuaca yang sangat tidak mendukung pula.

    “Becak Kang Diman sepertinya ada di rumah, Kang!\rquote Yu Rodiah membuka jalan.

    ***

    Aris mondar mandir di depan ruang gawat darurat. Hatinya tidak henti-hentinya berdzikir. Sudah hampir satu jam istrinya masuk ruangan itu.

    Pintu terbuka. Aris segera menghambur.

    “Bayi Bapak kembar, akan tetapi yang satu posisinya sungsang sehingga sulit untuk keluar. Kondisi istri Anda sangat lemah. Karena itu jalan terbaik yang harus ditempuh saat ini adalah melakukan bedah caesar,” ucap dokter setengah baya yang nampak kelelahan itu dengan hati-hati. Namun tak urung Aris surut ke belakang.

    “Ceasar?” ulangnya lirih.

    “Ya, selekasnya.”

    Aris termangu. Ditolehnya sekeliling. Sepi. Hanya ia dan dokter itu.

    “Baiklah, lakukan yang terbaik, dokter,” Aris mengucap pelan namun mantap.

    ***

    Suara detak jarum jam menggema dalam kegelapan malam, hujan tinggal satu-satu bahkan bulan mulai muncul dari balik awan. Aris tenggelam dalam sujud panjangnya di musalla rumah sakit yang senyap. Mengadukan semua yang dialaminya pada Rabb-nya.

    Satu sentuhan mendarat di pundaknya. Aris menolah. Kang Sobir dan Kang Diman yang tadi sore mengantarkannya ke rumah sakit ini.

    “Bagaimana istrimu?” tanya Kang Diman.

    “Terpaksa harus di-caesar,” jawab Aris pendek.

    “Caesar?” Kang Sobir mengerutkan keningnya. “Apa itu?”

    “Dioperasi, Kang, dibedah,” jelas Aris.

    “Separah itu?”

    “Allah tentu punya maksud yang tidak kita ketahui, Kang! Tawakal, Kang!” Kang Diman urun suara.

    “Terima kasih!”

    Bertiga mereka berkerudung sarung di depan kamar operasi. Dingin dinihari menusuk tulang. Hujan telah berhenti sama sekali. Cahaya bulan memantul di genangan-genangan air. Daun-daun berkilau dilapisi kristal sisa hujan. Aris membuka mushaf kecil yang ditemukannya dalam tas pakaian istrinya. Dibacanya perlahan. Lonceng berdentang sekali. Setengah empat pagi. Aris menutup mushafnya sebentar.

    “Kang, boleh saya minta tolong?” katanya pada Kang Sobir yang segera mengiyakan, “Tolong kalau nanti siang ada panas plastik penutup batu bata saya dibuka. Saya tidak tahu apa siang nanti bisa pulang.”

    Kang Diman dan Kang Sobir saling berpandangan. Aris menangkap adegan itu dengan jelas.

    “Ada apa, Kang? Kakang keberatan? Sebenarnya saya cuma minta tolong agar dibukakan plastiknya saja, tidak perlu dibalik-balik seperti biasanya. Hanya supaya tidak lembab. Tapi kalau Kakang keberatan….”

    “Bukan begitu Kang Aris, dengan sukarela kami pasti melakukannya, bahkan tanpa disuruh. Masalahnya…” Kang Sobir menggantung kalimatnya. Matanya menerawang jauh menembus liku-liku koridor rumah sakit.

    “Ada apa?” Aris mengerutkan kening tak mengerti.

    “Pohon-pohon turi Kaki Karta tumbang ke pelataranmu, Kang,” Kang Diman yang menjawab.

    “Oh,” hanya itu yang keluar dari bibir Aris. Ia tahu artinya. Semua hasil kerja kerasnya hancur lebur. Uang yang diharapkan bisa ia peroleh untuk membeli kambing aqiqah anaknya tidak akan ia dapatkan. Digenggamnya mushaf di tangannya erat-erat. Tidak, Aris tidak ingin ia berburuk sangka pada Allah.

    Pintu ruang operasi terbuka. Nampak Suswati terbaring di bawa perawat. Demikian juga bayinya yang kedua-duanya masih harus dimasukkan inkubator untuk beberapa waktu. Aris masih belum diperbolehkan memegang bayi laki-laki dan perempuan itu. Tapi ia telah memastikan keduanya diazani.

    Kehidupan mulai nampak di rumah sakit itu. Beberapa penunggu pasien mulai keluar sambil menenteng termos air. Dapur kafetaria pun mulai mengepul. Bulan masih setia menemani meski nyaris habis.

    Aris baru saja selesai shalat ketika mendengar suara salam. Segera ia menoleh ke pintu sambil menjawab. Sesaat ia merasa tak percaya. Ibu dan ayah mertuanya berdiri di sana. Makin terpana ia saat ibu dan ayahnya sendiri menyusul masuk. Hamdallah bersahutan dalam kalbunya. Dan di hadapan semua orang yang mencintainya itu, Suswati perlahan membuka matanya.

    Di luar cahaya bulan kian pucat.

    Jakarta, medio Mei 2000

    Untuk Ibu dan alm. Bapak yang selalu kurindukan.
    diambil dari Majalah Ummi

  • 1 Comment
  • Filed under: Cerita Islam
  • Koran Gondrong

    Sejak dahulu hingga sekarang, tak seorangpun dalam keluarga kami yang seperti Niq, gondrong! Kecuali yang perempuan, tentu saja. Kakek, Paman, Ayah, Bang Faris, semua selalu berpenampilan necis dan keren. Necis orang bilang.

    “Pokoknya Niq suka begini!” kata adikku itu suatu ketika.
    “Memangnya ada yang dirugikan kalau Niq gondrong? Rambut-rambut gue …” katanya cuek.
    “Bukan gitu, Niq. Kamu tuh jadi kayak cewek. Apalagi kalau dilihat dari belakang,” tegurku tak suka.

    “Kak Wiwi aja yang kuno, norak. Sekarang emang jamannya begini. Lihat aja anak-anak kampus Niq, rata-rata kayak Niq. Keren!”
    “Kucel, kumal, serem …” potongku sewot.
    “Niq ganteng, bersih, dan banyak yang naksir!” tambah Niq tak mau kalah, sambir menyisir rambutnya yang sepinggang itu. Aku mencibir.

    “Jangan suka menghina deh, Kak! Rasulullah aja gondrong, kok!” kata Niq akhirnya sambil ngeloyor meninggalkanku.
    Aku bengong. Manyun. Rasulullah? Gondrong? Hah, tahu dari mana tuh anak?

    Tak kupungkiri, Niq memang berbeda dengan cowok-cowok gondrong lainnya. Rambutnya tebal, hitam dan mengkilap. Ia rajin sekali merawatnya. Terkadang kupergoki Niq melumuri rambutnya dengan kemiri.

    Lain waktu, saat Ibu ribut mencari jeruk nipis yang baru dibelinya di pasar, kutemui Niq asyik memeras jeruk-jeruk nipis itu sebelum akhirnya membasuh dan memijat kepalanya dengan ‘belanjaan’ Ibu itu. Lain waktu pakai rumput lautlah, madulah …, pokoknya heboh.

    “Hoi, siapa di kamar mandi? Niq, ya? Buruan, dong!!!” teriak Bang Faris. “Bisa terlambat aku ke kantor,” katanya sambil melirikku.
    “Sabar dong, Bang! Niq lagi keramas!” suara Niq santai dari kamar mandi.

    Kami saling lirik. Kalau Niq udah keramas, mendingan jangan ditungguin. Bisa ‘botak sariawan’ kita. Soalnya cuci bilasnya saja sampai lima kali. Belum pakai hair tonic, cem-ceman, lidah buaya dan sebagainya. Malah ditambah berdoremi di kamar mandi lagi. Maklum aja, anak IKJ jurusan musik!
    “Sudah, mandi di kamar Ibu aja, Ris,” suara Ibu. “Kamu juga, Wi. Jangan ribut pagi-pagi.”

    ***
    “Pokoknya Niq, kalau kamu mau merapikan rambut kamu, Kak Wiwi kasih dua puluh ribu, deh!” kataku saat berada di meja makan.
    Semua tersenyum.
    “Ogahlah yau. Rambut Niq lebih mahal dari itu.”
    “Lima puluh ribu, deh!” kataku lagi.
    Niq Cuma nyengir. “Sorry. Not for sale!”
    “Seratus ribu!” seruku sambil memasukkan sepotong tempe ke dalam mulut. “Biar kubedol celenganku!”

    Ayah dan Ibu geleng-geleng kepala. Niq tak bergeming.
    “Dua ratus ribu lagi dariku!” tambah Bang Faris tiba-tiba.
    Niq senyam-senyum. “Ditukar motor pun belum tentu Niq mau!” katanya menang.

    “Memangnya rambut kamu itu ada apanya, sih?” cetusku kesal.
    “Kekuatan … ceila!” ujar Niq gede rasa.
    “Emangnya Samson!?” ledekku.

    “Sudah-sudah. Ayah tambah sertus lima puluh lagi, deh,” kata Ayah sambil menambahkan nasi ke piring.
    Aku surprise!
    “Ibu juga sama,” tambah Ibu. “Gimana, Niq? Kamu berubah pikiran?”

    Niq masih menggeleng. Mantap sekali! Tujuh ratus ribu baginya tak berarti dibandingkan ‘kekuatan’ itu? Uh, sebel!

    ***

    “Koran!”
    Seperti biasa pagi ini kulihat Niq berlari menghampiri Udin, bocah SD tukang koran langganan kami itu. Kalau soal baca koran, Niq memang nomor satu. Nggak mau ketinggalan berita, begitu katanya.

    Dari jauh kulihat mereka bercakap-cakap sebentar. Entah apa yang mereka bicarakan. Aku hanya sempat melihat Niq menepuk-nepuk pundak Udin, akrab. Lalu tiba-tiba saja mataku menangkap sesuatu pada sosok Udin. Ya ampun, sejak kapan rambutnya jadi sebahu?! Gondrong!

    “Kok si Udin jadi gondrong sih, Niq?” tanyaku sambil tergesa-gesa memakai sepatu. Satu jam lagi kuliah terakhir Bu Sijunjung. Aku tak boleh telat!

    “Katanya mumpung liburan. Biar keren kayak Om Niq,” jawab Niq sekenanya sambil membuka lembaran koran.
    Aku mesem. Belagu!

    “Eh, Kak Wi, mau ikutan ke Gunung Salak nggak? Anak-anak kampus ngadain pendakian sama baksos. Orang luar juga boleh ikut,” kata Niq tiba-tiba. Matanya sesaat lepas dari koran, dan tangannya memilin-milin ujung rambut gondrongnya.

    Aku nyengir. Dahulu, sebelum pakai jilbab,aku memang pendaki handal. Niq belum lupa itu.
    “Nitip baju bekas aja, deh, buat baksos.” Kuraih tasku dan bersiap pergi.

    Niq ngangguk. “Boleh! Bilangin sama Bang Faris, Kak. Biar dia nyumbang juga!” kata Niq nyengir. “Kasihan masyarakat di sana. Malah tanahnya banyak direbut orang kota!” teriaknya sebelum aku berlalu.

    Di dalam bus, wajah Niq terus terbayang….

    Adikku itu gagah, tegar, dan terkesan garang, tetapi sebenarnya lembut hati dan senang menolong. Ia juga punya banyak teman. Namun biar bagaimanapun, rasanya aneh bukan, seorang aktivis rohis punya adik model Bob Marley?
    “Bob Marley yang ini rajin shalat, lho! Niq kan metal Islam,” kata Niq suatu ketika.

    “Tapi kamu tahu nggak, arti namamu sebenarnya?”
    “Aniq Hanif? Oh ya, Niq, kok nggak pernah nanya sama Ayah Ibu, ya?” cengirnya sambil membetulkan senar gitarnya yang putus.

    “Artinya rapi dan baik. Dan kalau lihat kamu sekarang, nama itu kurang sesuai,” kataku.

    “Sesuai. Percayalah padaku, kakakku sayang,” katanya sok romantis. “Tanyakan saja pada rumput laut dan jeruk nipis!”
    Iiiih, Niq!

    “Kampus! Kampus!” Suara kenek bus mengagetkanku. Aku pun buru-buru turun. Dug! Pakai kesandung lagi! Ups, aku hampir jatuh dan …
    “Maaf,” kataku saat kusadari sepatuku sempat menginjak kaki orang.

    Lelaki gondrong yang bergelantungan dan beralas sandal jepit itu diam. Melotot padaku.
    Aku bergidik. Buru-buru turun.
    ***

    “Coba deh, Da. Suruh Niq pangkas. Biar rapi,” kataku pada Ida, teman dekat Niq, setengah berbisik, saat dia berkunjung ke rumah.

    “Udah, Kak. Dianya nggak mau!” jawab Ida enteng.
    Aku menarik napas panjang. Sungguh, aku nggak pernah setuju Niq pacaran dengan Ida. Bagiku nggak ada konsep pacaran dalam Islam. Tapi … mau tidak mau kali ini aku harus memanfaatkan Ida untuk ngomong dengan Niq.

    “Coba deh kamu jujur, kamu nggak suka kan kalo Niq gondrong?” tanyaku pelan.
    Ida menyeruput teh manis yang kusediakan. “Oh … eh … ng, gimana ya, Kak? Suka juga. Abis macho, sih,” ujarnya kemudian malu-malu.

    Aku geregetan. Duh, gimana, nih? Siapa lagi yang bias menasihati si Gondrong itu?

    “Ini kan jaman kemerekaan. Demokrasi,” masih kuingat kata Ayah, bagai anggota DPR. “Terserah dia sajalah, Wi. Nggak usah dipaksa-paksa.”
    “Ibu juga sependapat. Yang penting, dia tidak rusak seperti anak tetangga sebelah itu!”

    “Ah, Cuma buang-buang waktu, nasihati dia!” kata Bang Faris. “Mendingan ngurusin kerjaanku.”

    Nah, tujuh ratus ribu aja, ditolak!
    “Ayo, dong, Da! Kalau kamu bisa bujuk Niq, Kakak beri hadiah, deh!” rayuku lagi.

    Ida, yang hingga sekarang masih berbiat jadi artis sinetron itu membetulkan letak duduknya. “Gimana, ya? Yaaa, Ida coba deh. Tapi, nggak janji, lho!”

    Tiba-tiba Niq muncul. Rambutnya rapat dibungkus handuk. “Sorry ya, kemirinya belum meresap, Da,” ujarnya, santai. “Habis itu mesti dibilas lagi, baru dikeringin. Gue nggak suka pakai hair drayer. Bisa bikin rusak rambut! Sabar ya, Non?”
    Ida diam saja. Mesem.

    “Kalah sama kemiri,” bisikku. “Dua hari lalu kalah sama alpukat, ya?”
    Ida menukar posisi duduk dan mengaduk teh manisnya. Rasain!

    ***

    “Koran!” suara Udin terdengar agak serak pagi ini.
    Aku mengintip dari balik tirai. Niq dan Udin tertawa-tawa. Masing-masing memegang rambut gondrongnya. Apa coba?
    “Hati-hati ya, Din! Ingat, kalau ada apa-apa pager, aja!” kata Niq. Kulihat Udin mengangguk. Kemudian menggenjot sepedanya dan berlalu.

    Aku keluar.
    “Lho, kirain udah pergi rapat lagi,” sapa Niq. “Ayah dan Bang Faris malah pagi-pagi banget udah pergi.”
    “Belum.” Kuraih salah satu koran langganan kami. Ooo …!

    Dasar koran kriminal. Beritanya tentang pembunuhan, perampokan, perkosaan, dan pengeroyokan. Tiba-tiba mataku memandang sebuah foto yang terpampang di situ. Lalu mataku bergerak memandang foto-foto lainnya. Masya Allah!

    “Ehm .. hm …” aku berdehem.
    “Kenapa, Kak?”
    “Lihat foto-foto di koran ini …”
    “Kenapa?” Niq meraih koran itu.

    “Penjahatnya kok, gondrong semua …” kataku pelan.
    “Huh, Sara! Banyak kok, orang gondrong berhati mulia! Wajah Niq mengeras. “Jangan terpengaruh gitu dong, Kak?!”
    Aku mengangkat bahu dan meninggalkan Niq sendiri. Galau.

    ***

    “Hari ini, di kampus, aku dan teman-teman aktivis Rohis berkumpul di mushala. Lepas sholat zuhur, kami mengadakan rapat untuk acara pesantren kilat (sanlat) mengisi liburan.

    “Ajak aja Niq, Wi!” kata Ratna. “Ikhwan panitia juga banyak yang mengajak adiknya.”
    “Ngajak Niq? Ke laut, aja!” ledekku. “Sejak kapan dia berminat?”
    “Hus, nggak boleh gitu. Namanya hidayah, siapa tahu?” timpal Kiki.

    Aku menggeleng. Susah mengajak Niq ke acara-acara seperti itu. Dia mau shalat saja aku sudah syukur banget!
    “Rambutnya belum dipotong juga?” Tanya Ratna tiba-tiba. Ratna dan Kiki memang orang kampus yang paling tahu tentang keluargaku.

    “Belum,” jawabku pendek.
    “Hati-hati lho, Wi. Bukan apa-apa. Biasanya cowok gondrong itu sering dikira preman, sering juga dikira anak bandel. Pemabuk atau pemadat!”

    Aku agak tersinggung dengan ucapan Ratna. “Niq nggak begitu, kok!”
    “Iya, aku tahu.” Ratna menjajari langkahku. “Jaga-jaga saja. Kamu tahu nggak, anak-anak kiri di kampus kita rata-rata gondrong. Lalu … setiap ada kerusuhan di Jakarta, itu kan banyak cowok-cowok gondrong yang terlibat.”

    Alisku terangkat.
    “Selain Budiman Sudjatmiko, anak-anak PRD itu banyak yang gondrong!”
    “Iya, bilang sama Niq, jangan sampai kalau ada apa-apa, dia yang kena!” timpal Kiki. “Orang jaman sekarang kan sering salah paham dan suka mencari kambing hitam!”
    Ooo …! Kok, ngomongnya jadi pada ngelantur sih?

    ***

    “Kok, diam saja dari tadi, Wi? Ada masalah?” Tanya Ibu lembut.
    Aku menggeleng. Kulirik jam di dinding. Pukul 23.30, dan Niq belum juga pulang.

    “Niq, kok, belum pulang sih, Bu?’
    “Katanya latihan band di Grogol. Di rumahnya si Dodo!” suara ayah yang masih betah menonton televisi.

    “Astaghfirullah. Perasaan Wiwi kok, nggak enak, ya?!”
    “Aku juga, Wi. Soalnya tadi dia bilang mau pulang cepat. Film di tivi bagus!” Bang Faris menghampiriku.

    “Aduh … gimana, ya?”
    “Kenapa, sih?” desak Ibu yang sudah beberapa kali kulihat menguap.

    “Wiwi … khawatir …”
    “Cerita, dong!” desak Ibu.
    Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tak gatal. Lalu tiba-tiba semua yang dikatakan Ratna dan Kiki mengalir. Kuceritakan kepada Ibu, Ayah, dan Bang Faris.

    Dan … semua diam. Duh, aku jadi merasa bersalah! Sementara dentang jam dinding sudah menunjukkan pukul dua belas malam.

    Kita doakan saja tak terjadi apa-apa,” kata Ayah. Waktu terus berlalu dan kami benar-benar tak bisa tidur! Sesekali pandangan kami mengarah pada telepon di ruang tamu.

    Tepat pukul 01.00 pintu diketuk. Aku bangkit dan mengintip jendela. “Bukan Niq! Temannya kali! Bang Faris aja, yang buka!” kataku ketika melihat sosok asing dari balik jendela.
    Semua berpandangan. Ayah dan Bang Faris bangkit, mengintip jendela, kemudian membuka pntu.
    Seorang pemuda berambut rapi. Baju putihnya berdarah. Kami berempat menatap tak percaya! Niq!

    Ibu langsung memeluk Niq panik! “Kamu kenapa? Ya Allah, bajumu berdarah?”
    “Ya Robby …” bibirku kelu. Dengkulku lemas. Sementara aku masih menatap wajah Niq aneh. Dia tak gondrong lagi! Apa pula ini? Ah …

    “Niq nggak jadi latihan band. Sebenarnya tadi mau langsung pulang … “
    “Tapi?” Tanya Ayah tak sabar.

    “Niq ketemu Udin.”
    “Udin? Tukang Koran kita?” tanyaku beruntun.
    Niq mengangguk. “Dia digebuk beberapa berandalan yang mau merampas duitnya. Niq nggak bisa membiarkan …”

    “Lan … tas?” suara Ibu bergetar.
    “Niq berantem. Berandalan itu kabur setelah Niq dan Udin berteriak minta tolong. Niq luka sedikit kena clurit.”

    Wajah kami pias. Ya Allah, adikku kena clurit!
    “Tapi nggak apa, sudah ke poliklinik. Maaf, Niq nggak telepon. Takut semua panik.”

    Kami menarik napas lega. Ibu membelai Niq dan sesaat mengusap lebam wajahnya. Ayah menepuk bahunya. Bang Faris tercenung, sementara aku menatap Niq tak berkedip. Rambut gondrongnya benar-benar sudah raib!

    “Ram … ram .. butmu?”
    Niq tersenyum. Kami jadi bingung.
    “Buat Udin,” jawabnya pendek.
    “Buat Udin? Buat apa?” Tanya kami hampir serempak. Emangnya Udin butuh rambut???

    “Udin butuh duit buat lanjutin sekolah. Dia kan anak yatim dan ibunya cuma tukang cuci.