Kuliah sore ini begitu membuat ngantuk, namun sedikit terobati ketika dosen mata kuliah Profesi Mengajar saya menampilkan slide lagu anak-anak :

“Oh ibu dan ayah selamat pagi
Ku pergi belajar sampailah nanti
Belajarlah nak penuh semangat
Rajinlah selalu tentu kau dapat
Hormati gurumu sayangi teman
Itulah tandanya kau murid budiman”

Betapa bagusnya syair lagu diatas yang sudah demikian jarang dinyanyikan oleh anak-anak Indonesia. Karena lagu anak-anak sekarang O, oo kamu ketahuan, pacaran lagi…. waduh, waduh… Kalau tidak begitu ya Bang.. sms siapa ini bang, isinya kok sayang-sayangan. Kalau sudah begini Siapa yang salah? Kata beliau tentu pendidikan di tempat kita. Itulah syair-syair lagu sekarang, syair-syair lagu gubahan manusia hasil didikan guru-guru di Indonesia.

Saya jadi teringat kata salah seorang teman ngajar saya Pak Bagus waktu masih ngajar di SMP Muhamadiyah 12 GKB. Menurutnya yang meracuni anak-anak di Indonesia sekarang ini adalah tayangan televisi dan syair-syair lagu. Seperti lagu-lagu Teman Tapi Mesra (TTM) yang dibiarkan saja tanpa ada pembatasan dari Pemerintah seakan-akan melegalkan TTM sendiri, yang sampai sekarang istilah tersebut masih dipakai di lingkungan kita. Walaupun kelompok yang sudah bubar tersebut pernah mengatakan kalau fenomena TTM sedemikian luas dimasyarakat dan bukan merupakan hal yang perlu ditutup tutupi lagi, tetapi dampaknya bukankah kita rasakan. TTM seakan-akan menjadi hal yang lumrah. Waktu lagu seperti Shefia dari Sheila on Seven demikian nge-hits istilah sefhia juga lumrah banget didengar, “Ehmm siapa tuh, Shefia kamu ya?”. Namun lagu-lagu tema perselingkuhan sekarang sudah menjadi hal yang lumrah, sehingga makin menambah potret buram wajah kita. Herannya memang lagu tema-tema seperti itulah yang katanya laris manis, dan lebih herannya lagi kok mau-maunya orang membeli lagu dengan tema seperti itu..Kok tidak eman-eman ya? Kalau sudah seperti ini, darimana kalau bukan dari kita yang memulai dengan mendidik generasi kita dengan lagu-lagu yang berlirik mendidik. Masak bangsa kita akan jadi bangsa tempe dan bangsa krupuk terus-terusan?