Wah ternyata aku sudah memasuki minggu ke empat di Malang, atau hampir satu bulan berada di kota pelajar nan dingin ini. Hampir bisa dipastikan jika aku ke malang maka bagian kulit di bawah bibir atau diatas dagu serasa kakau, dan mbesisik, terus lama kelamaan agak sedikit menghitam. Hal ini bisa sembuh kalau aku kembali ke Surabaya atau ke Gresik dalam waktu seminggu sampai dengan satu bulan. Berbeda dengan di Gresik yang kepadatan lalu lintasnya tidak seberapa, maka di Malang kepadatan lalu lintasnya luar biasa. Kalau berangkat dari rumah bibiku lebih dari jam 6.00 pagi maka kemacetanpun tidak bisa dihindari. Lebih-lebih kalau hujan turun di pagi hari, maka keluar dari Perumahan Sawojajar sudah disuguhi deretan kendaraan yang berjajar. Tapi bagiku kemacetan tersebut tak begitu berarti, karena aku dipinjami sepeda motor sama bibiku sehingga masih bisa nylintat-nylintutdiantara deretan mobil yang macet. Kemacetan disini saya pikir karena kondisi jalan di malang yang ukurannya kecil-kecil. Jalan utama saja ukurannya haya separo jalan utama di Surabaya, ditambah penduduk yang padat maka lengkap sudah kepadatan di Malang.

Pertama saya agak terkejut karena ketaatan lalu lintas di Malang tidak seberapa bagus, khususnya ketika lampu merah masih menyala, maka tidak dipedulikan lagi, semua orang rata-rata akan menerobos saja, apalagi kalau lagi tidak ramai, maka kalau saya diam aja tidak segera jalan, maka yang belakang akan membunyikan klakson berkali-kali tanda kita di minta jalan, padahal lampu masih merah dan dari arah yang lain masih ada beberapa pengguna jalan yang lewat. Atau kadang kebanyakan orang - orang akan memakan jalan pemakai dari arah yang berlawanan. Intinya kalau pagi hari lalu lintas di Malang agak semrawut. Yach karena jalannya yang tidak seberapa lebar itu.

Perjalanan dari rumah ke sekolah yang berjarak 12 km-an itu biasanya memakan watu 15 s/d 20 menit tergantung kepadatan tentunya. Biasanya keseharian saya habiskan di sekolah mulai jam 6.30 s/d pukul 17.00 di sekolah, walaupun jam 13.00 sudah pulang. Tetapi saya lebih senang di sekolah, seperti pekerjaan saya sebelumnya yang sering tinggal di sekolah daripada di rumah. Yach bekerja di sekolah memang harus at home atau serasa di rumah sendiri, jadi handuk, odol, sabun harus selalu berada di loker. Lho. lho… lho.. yang penting jangan sampai kompor, panci bahkan cucian juga ngikut….