menebar SENYUM merajut UKHUWAH
5 Sep
Rasanya tidak lengkap jika memiliki komputer tidak dapat untuk menulis arab. Kalau selama ini saya mencoba ngotak - ngatik cara instalasi menulis arab di Windows, eh di Ubuntu ternyata lebih mudah lagi. Simak tutorial berikut kalau berharap Ubuntu anda dapat digunakan menulis Arab.
1. Pilih klik kanan Panel | Add to Panel , tunggu beberapa saat hingga muncul kotak Add to Panel
2. Cari dan pilihlah Keyboard Indicator dengan cara mendoble Klik-nya, sehingga di Panel Anda terdapat Keyboard Indicator dengan tulisan USA
3. Pililah klik kanan pada Keyboard Indicator yang bertuliskan USA tersebut dan pilihlah menu Keyboard Preference.
4. Pilihlah Tab Layout dan klik tombol Add
5. Tentukan jenis Keyboard Arabic anda. Pilihlah azerty, qwerty ataupun Bulckwalter. Favorite saya adalah Bulcwalter, karena jenis ini yang menggunakan type Alif adalh A, Ba adalah B dan seterusnya.
6. Klik tombol Oke, kemudian klik tombol Close.
7. Untuk mengaktifkan keyboard arabic Klik Keyboard Indicator USA yang ada dipanel maka mapping keyboard anda akan berubah menjadi Arabic, dan sebaliknya klik Ara untuk merubah kembali ke keyboard normal (USA)
8. Bukalah editor gedit ataupun OpenOffice untuk menuliskan arabnya.
5 Sep
Membaca Partisi NTFS di Linux benar - benar mudah, lebih-lebih pada ubuntu. Saya mengetahui NTFS 3G ini waktu masih menggunakan mandriva dulu, dan ketika saya mencobanya di Ubuntu ternyata tidak jauh beda. Tinggal dua baris perintah sudah beres.
Untuk membaca file NTFS masuklah ke console dan ketik
sudo apt-get install ntfs-3g
Kemudian ketik kembali
sudo apt-get install ntfs-config
Untuk membaca Partisi NTFS anda tinggal mengetik pada console
ntfs-config
atau bisa juga dengan memilih menu Applications|System Tools|NTFS Configuration Tools
sehingga keluar kotak ntfs-config.
Pilih Enable write support for internal device serta pilih juga Enable write support for external device.
Nah mudah bukan untuk membaca file NTFS di Ubuntu?
5 Sep
Penerimaan siswa baru memang sudah hampir dua bulan berlalu. Tak terasa memang saya harus menghafal wajah-wajah baru dan nama-nama baru tentunya. Ada-ada saja panggilan buat saya dari anak-anak itu. Waktu masuk pertama kali saya ngajar disini biasa dipanggil Pak Fisika, karena ngajar Fisika. Semester berikutnya karena ngajar komputer saya dipanggil Pak Komputer. Tetapi anak-anak kelas 3 manggil saya Pak Waluyo, karena kalau dipanggil Pak Agus ada dua orang nama Agus di SMP saya.
Alih-alih panggilanya menjadi Agus, karena pernah dua kali makai baju hijau eh dipanggil Pak Ijo hehehe dasar anak-anak. Tetapi beberapa anak malah manggil Pak Nggalek, biyuh.. biyuh.. asal muasalnya saya dari Trenggalek, dan murid saya yang namanya Mevi papanya jadi dokter di Trenggalek. Lengkap sudah deh sama-sama dari Trenggaleknya.
Tapi lain lagi dengan angkatan yang baru. Beberapa hari ini murid saya manggil Pak W, atau kadang pak AW yaitu kependekan dari nama saya. Biasaya Farida yang komentar,“Pak W ini mesti pokoknya.” karena logat si Farida ini agak lucu. Makanya sering saya tirukan :D, dan dia akan komplain.
Sampai-sampai beberapa siswa tanya saya, “Eh Pak, Pak Agus ini enaknya dipanggil siapa? Akupun menjawab, “Yang penting di panggil dengan panggilan yang baik. Pak Agus boleh, pak Waluyo juga boleh.”
Kadang akupun jadi ketawa karena ingat waktu kuliah. Dulu ada sekretaris Rektor yang kelihatannya sudah tua, tetapi biasa dipanggil mbak. Tapi menurutku pantesnya dipanggil Bu, karena sudah kelihatan tua. Akupun tanya sama sekretaris pembantu rektor III yang biasa tak panggil mbak.
“Eh mbak, kalau sekretaris pembantu rektor itu dipanggil Bu atau Mbak se? Aku takutnya salah?” Tanyaku penuh selidik kepada sekretaris pembantu rektor III.
“Terserahlah, pokoknya jangan dipanggil bulik.” Katanya, dan akupun tertawa terpingkal-pingkal.
Komentar Terakhir