@GUSW’s Personal Sites

menebar SENYUM merajut UKHUWAH

Archive for April 7th, 2005

File html biasanya mengikut sertakan beberapa file yang banyak. Di dalamnya terdapat link pada gambar, suara, serta link pada file html yang lain. Satu – satu jalan yang biasa saya pergunakan untuk mendistribusikan file ini adalah dengan pengompresan dalam satu file sehingga bisa di distribusikan.

Adalah Jan Verhoeven dengan Delphi5 membuat SbookBuilder, yaitu suatu aplikasi untuk membuat HTML beserta link terkait dan directory di dalamnya menjadi sebuah file exectuable (EXE) hanya dalam delapan langkah.

Download dahulu aplikasinya freeware yang berkuruan 800 kb ini di http://jansfreeware.com dan ekstraklah di sembarang directory (Misalnya di C:/My Documents/). Aplikasi ini tidak membutuhkan instalasi rumit, karena anda tinggal mendouble klik file bernama SbookBuilder10.exe sampai muncul window-nya.

Image hosted by Photobucket.com
Tampilah Sbook Builder

Software in dilengkapi dengan file help dan interface yang mudah, dilengkapi dengan full search dan pencetakan (print) halaman E-book. Mendukung css dan frame serta mampu mengincludekan beberapa html dan text document (htm, html, dan txt). Mendukung file gambar dalam format bmp, gif, dan png serta gif animator. Sedangkan file suara yang di ijinkan adalah wav, mid dan mp3.

Namun kelemahan dari software ini adalah tidak terdapatnya proses loading saat E-book di convert ke dalam bentuk EXE, fasilitas search-nya masih kurang bagus, serta untuk file html yang kompleks biasanya jarang berhasil

WORKSHOP

Untuk membuat sebuah file Ebok dengan SbookBuilder ini, anda harus memiliki file-file html beserta link terkait-nya. Dalam paket kompresi yang anda downlaod sebelumnya telah diikutsertakan sebuah demo web.

Mari kita mulai bersama – sama untuk membuatnya dalam delapan langkah tersebut.

1. Klik Select Folder

Pilih folder yang akan anda buatE-booknya, karena semua halaman html, semua gambar, folder dan sub-folder akan di masukkan ke dalam E-book.

Whorkshop :
Klik pada kotak Drive pilih : C
Klik pada kotak Directories pilih : C:/My Documents/SbookBuilder/demo-book/

2. Klik Select HomePage

Pilihlah file html yang akan digunakan sebagai halaman pembuka E-book anda. Pastikan bahwa file html yang anda pilih berada pada directory/folder yang telah kita pilih pada tahap 1.

Whorkshop :
Pilih file index.html yang berada pada lokasi C:/My Documents/SbookBuilder/demo-book/index.html.

3. Klik Enter Title

Masukkan Judul E-book Anda. Judul yang anda masukkan akan ditampilkan pada Title Bar E-book anda.

Whorkshop :
Masukkan “Coba – Coba Saja“

4. Klik Enter Password

Pilihan optional, artinya anda bisa memasukkan sebarang password ke dalam E-book anda, nantinya saat anda menjalankan E-book, anda akan diminta untuk memasukkan paswordnya, sehingga orang yang tidak berkepentingan atau tidak mengetahui password-nya tidak dapat mengakses E-book tersebut. Jika anda tidak menyukai pem-password-an maka password tidak usah diisi dan tahap ini bisa anda lewati.

Whorkshop :
Masukkan password-nya yaitu “cobapassword“

5. Klik Select Icon

Pilihan optional, anda bisa melewati tahap ini jika tidak memiliki icon (file beekstensi ICO), sehingga icon anda akan sama dengan icon-nya SbookBuilder yang kita gunakan, atau jika anda memiliki file icon maka pilihlah icon tersebut.

Whorkshop :
Lewati saja tahap ini

6. Klik Allow Printing

Klik (centang) kotak di sebelah Allow Printing jika anda menginginkan pengguna E-boook dapat mencetaknya.

Whorkshop :
Cetang kotak tersebut

7. Klik Show Toolbar

Klik (centang) kotak di sebelah Show Toolbar jika anda menginginkan terdapat Toolbar dalam E-book anda.

Whorkshop :
Cetang kotak tersebut

8. Klik Create E-book

Membuat E-book anda dan masukkan namafile-nya.

Whorkshop :
Namai file E-book anda “coba“

Sekarang anda tinggal men-double klik coba.exe untuk menjalankan E-book anda. Jangan lupa password anda adalah cobapassword. Selamat berE-book ria :D .

  • 1 Comment
  • Filed under: Info Software
  • Bingkai Shilaturohmi

    Setelah lulus dari kuliah satu hal yang sekarang jarang saya lakukan. Satu hal yang sepele padahal pahalanya besar. Sepele sekali bukan, jika hanya meluangkan waktu barang 2 jam atau sehari untuk anjang sana kerumah family, kerabat, ataupun teman ? Yang dalam bahasa umumnya disebut shilaturohmi ini. Bahkan Rasulullah pernah bersabda bahwasanya Shilaturohmi bisa memanjangkan umur manusia, dan Allah sendiri sangat membenci orang yang memutuskan tali shilaturomi.

    Paling tidak sekali dalam setahun keluarga yang mulai jauh biasanya saya kunjungi. Memang tidak ngapa-ngapain, sekedar berkunjung dan berbagi cerita. Apalagi kalau family yang diajak ngobrol nyambung, atau ada sepupu yang saya ajari entah itu hanya sekedar matematika, fisika ataupun sedikit komputer, maka bisa dua hari sampai satu minggu juga :D . Tergantung kondisi keluarga yang saya kunjungi, sedang pantas di kunjungi atau sedang ada masalah. Ya kita mesti bisa memperkirakan lah. Tetapi kalau ngobrol saja tidak begitu nyaman, tidak ada sesuatu yang dikerjakan, paling cepat juga sorenya mesti balik dengan sejuta alasan :D , karena biasanya kalau tidak sampai menginap maka akan ada mimik kecewa di wajah salah satu family.

    Tetapi memang tidak semua family. Bukannya pilih – pilih tetapi family yang banyak aturannya biasanya jarang saya kunjungi, habis ribet banget, aturannya seambreg he.. he.. he.. Apalagi orang kampung macam saya yang cenderung “cul-culan” kalau ada aturan yang njlimet – njlimet ya capek. Ya sebenarnya baiklah tujuannya kalau pagi mesti begini mesti begitu, kalau keluar mesti begini dan begitu pula. Penampilan kudu begini begitu, Puih dua jam rasanya setahun :) ).

    Ada juga family yang nyantai banget, “Sudah anggap saja rumah sendiri.” begitu family yang satu itu selalu berucap, jadi tidak boleh malu – malu. Kalau lapar yang mesti mengambil sendiri dan nggak usah disuruh. Kalau yang mesti dikerjakan, ya kerjakan saja, kalau nggak ada lauk silahkan menggoreng lauk sendiri, kalau sedang ingin buat mie maka buat saja sendiri dan nggak usah malu – malu. Kalau makan saja menunggu disuruh maka dijamin akan kelaparan sendiri :D

    Namun ada juga family yang meminta kudu tiap bulan berkunjung, dan kelihatan kecewa banget kalau ditinggal pulang, yach karena aku sendiri mainnya juga sekali dalam setahun.

    Nah dan yang lama saya kunjungi pasti di rumah family yang ada komputernya, …walah…, habis kebanyakan familyku suami dan isterinya bekerja semua plus sepupu-sepupu sekolah sampai jam 2 siang, coba mau ngapain di rumah sendirian, lihat TV juga sudah jenuh. Apalagi kalau bisa ngajari komputer, saya paling seneng untuk satu hal ini.

    Tapi itu dulu waktu saya masih kuliah, kalau sudah lulus begini kayaknya timing-nya kurang tepat,
    bahkan bisa-bisa menambah masalah he.. he.. he.., barangkali mengunggu timing yang tepat.

    Saat seperni ini saya juga menemui hal yang aneh, seringkali waktu membuka hadits ataupun Qur’an tanpa sengaja membaca hadits atau ayat yang mengancam dengan sangat orang – orang yang memutuskan tali shilaturohmi. Tetapi dalam hati saya berkata “Saya bukannya memutuskan tali shilaturohmi, cuman menunggu timing yang tepat dulu”, saya benar – benar tak punya alasan untuk shilaturohmi semacam dulu lagi, nggak tahu pokoknya tidak mood, dan tidak nyaman.

    Disaat ketidak mood-an hati untuk shilaturohmi inilah saya dikejutkan oleh telephone rumah yang berdering, dan meminta saya menemani adik sepupu yang di lain kota yang tiap hari uring-uringan sama keluarganya karena kebijakan sekolah menggunakan Linux OS. Singkat cerita, setelah satu minggu menemani adik sepupu, alhamdulillah sudah lumayan (bukan lumayan nggak ngerti ya :) ). Bahkan bisa sharing dan di support sama paman dan bibi yang sudah lebih banyak makan asam garamnya hidup ini.

    Habis ngajari adik sepupu rencananya pingin pulang ke rumah lagi, ehmm ternyata komputer familyku yang dilain kota rusak juga. Akhirnya shilaturohmi lagi ke rumah family yang lain.

    Barangkali sebagai pengingat bagi saya bahwa dengan alasan apapun saya tidak boleh untuk merenggangkan tali shilaturohmi. Dan sejak road show :D kerumah beberapa family tadi, mood saya untuk tetap menjaga bingkai shilaturohmi ini semakin kuat. Karena bagaimanapun juga family adalah orang yang paling dekat dengan kita, entah itu saya bisa apa mesti saya bantu dan sebaliknya. Bukankah orang yang hidup memang tidak bisa menjalani kehidupun ini sendirian? Mesti saling bantu membantu lebih – lelih dengan family, kerabat, ataupun teman sendiri.

    Saya tinggal shilaturohmi dulu ya …. :) )

  • 2 Comments
  • Filed under: Curhat
  • Suatu saat Mush’ab dipilih Rasulullah untuk melakukan suatu tugas maha penting saat itu. Ia menjadi duta atau utusan Rasul ke Madinah untuk mengajarkan seluk beluk Agama kepada orang – orang Anshar yang telah beriman dan baiat kepada Rasulullah di bukti Aqabah. Disamping itu mengajak orang-orang lain untuk menganut agama Allah, serta mempersiapkan kota Madinah untuk menyambut hijratul Rasul sebagai peristiwa besar.

    Sebenarnya di kalangan sahabat ketika itu masih banyak yang lebih tua, lebih berpengaruh dan lebih dekat hubungan kekeluargaannya dengan Rasulullah daripada Mush’ab. Tetapi Rasulullah menjatuhkan pilihannya kepada “Mush’ab yang baik”.  Dan bukan tidak menyadari sepenuhnya bahwa beliau telah memikulkan tugas amat penting ke atas pundak pemuda itu, dan menyerahkan kepadanya tanggung jawab nasib agama Islam di kota Madinah, suatu kota yang tak lama lagi akan menjadi kota tempatan atau kota hijrah, pusat dari dai dan dakwah, tempat berhimpunnya penyebar Agama dan pembela al-Islam.

    Mush’ab memikul amanat itu dengan bekal karunia Allah kepadanya berupa fikiran yang cerdas dan budi yang luhur. Dengan sifat zuhud, kejujuran dan kesungguhan hati, ia berhasil melunakkan dan menawan hati penduduk Madinah hingga mereka berduyun-duyun masuk Islam.

    Sesampainya di Madinah, didapatinya Kaum Muslimin di sana tidak lebih dari dua belas orang, yakni hanya orang-orang yang telah baiat di bukit Aqabah. Tetapi tiada sampai beberapa bulan kemudian, meningkatlah orang yang sama-sama memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya.

    Pada musim haji berikutnya dari perjanjian Aqabah, kaum muslimin Madinah mengirim perutusan yang mewakili mereka menemui Nabi. Dan perutusan itu dipimpin oleh guru mereka , oleh duta yang dikirim Nabi kepada mereka, yaitu Mush’ab bin Umair.

    Dengan tindakannya yang tepat dan bijaksana, Mush’ab bin Umair telah membuktikan bahwa pilihan Rasulullah saw. atas dirinya itu tepat. Ia memahami tugas dengan sepenuhnya, hingga tak terlanjur melampaui batas yang telah ditetapkan. Ia sadar bahwa tugasnya adalah menyeru kepada Allah, menyampaikan berita gembira lahirnya suatu Agama yang mengajak manusia mencapai hidayah Allah, membimbing mereka ke jalan yang lurus. Akhlaqnya mengikuti pola hidup Rasulullah yang diimaninya, yang mengemban kewajiban hanya menyampaikan belaka.

    Di Madinah Mush’ab tinggal sebagai tamu di rumah As’ad bin Zararah. Dengan didampingi As’ad, ia pergi mengunjungi kabilah -kabilah, rumah-rumah dan tempat-tempat pertemuan, untuk membacakan ayat-ayat Kitab Suci Allah, menyampaikan kalimatullah “bahwa Allah Tuhan Maha Esa” secara hati-hati.

    Pernah ia menghadapi beberapa peristiwa yang mengancam keselamatan diri serta sahabatnya, yang nyaris celaka kalau tidak karena kecerdasan akal dan kebesaran jiwanya. Suatu hari, ketika ia sedang memberikan petuah kepada orang-orang, tiga-tiba disergap Usaid bin Hudlair kepala suku kabilah Abdul Asyhal di Madinah. Usaid menodong Mush’ab dengan menyentakkan lembingnya. Bukan main marah dan murkanya Usaid, menyaksikan Mush’ab yang dianggap akan mengacau dan menyelewengkan anak buahnya dari agama mereka, serta mengemukakan Tuhan Yang Maha Esa yang belum pernah mereka kenal dan dengar sebelum itu. Padahal menurut anggapan Usaid, tuhan-tuhan mereka yang bersimpuh lena di tempatnya masing-masing mudah dihubungi secara kongkrit. Jika seseorang memerlukan salah satu diantaranya, tentulah ia akan mengetahui tempatnya dan segera pergi mengunjunginya untuk memaparkan kesulitan serta menyampaikan permohonan. Demikianlah yang tergambar dan terbayang dalam fikiran suku Abdul Asyhal. Tetapi Tuhannya Muhammad saw. – yang diserukan beribadah kepada-Nya – oleh utusan yang datang kepada mereka itu, tiadalah yang mengetahui tempat-Nya dan tak seorangpun yang dapat melihat-Nya.

    Demi dilihat kedatangan Usaid bin Hudlair yang murka bagaikan api sedang berkobar kepada orang-orang Islam yang duduk bersama Mush’ab, mereka pun merasa kecut dan takut. Tetapi “Mush’ab yang baik” tetap tinggal tenang dengan air muka yang tidak berubah.

    Bagaikan singa hendak menerkam, Usaid berdiri di depan Mush’ab dan Sa’ad bin Zararah, bentaknya: “Apa maksud kalian datang ke kampung kami ini, apakah hendak membodohi rakyat kecil kami? Tinggalkan segera tempat ini, jika tak ingin segera nyawa kalian melayang!”

    Seperti tenang dan mantapnya samudera dalam, laksana terang dan damainya cahaya fajar, terpancarlah ketulusan hati ”Mush’ab yang baik”, dan bergeraklah lidahnya mengeluarkan ucapan halus, katanya “Kenapa anda tidak duduk dan mendengarkan dulu? Seandainya anda menyukai nanti, anda dapat menerimanya. Sebaliknya jika tidak, kami akan menghentikan apa yang tidak anda sukai itu!”

    Sebenarnya Usaid seorang berakal dan berfikiran sehat. Dan sekarang ini ia diajak oleh Mush’ab untuk berbicara dan meminta pertimbangan kepada hati nurani sendiri. Yang dimintanya hanyalah agar ia bersedia mendengarkan dan bukan lainnya. Jika ia menyetujui, ia akan membiarkan Mush’ab, dan jika tidak, maka Mush’ab berjanji akan meninggalkan kampung dan masyrakat mereka untuk mencari tempat dan masyarakat lain, dengan tidak merugikan ataupun dirugikan orang lain.

    “Sekarang saya insaf”, ujar Usaid, lalu menjatuhkan lembingnya ke tanah dan duduk mendengarkan. Demi Mush’ab membacakan ayat-ayat Al-Quran dan mengajarkan dakwah yang dibawa oleh Muhammad bin Abdullah saw, maka dada Usaid pun mulai terbuka dan bercahaya, beralun berirama mengikuti naik turunnya suara serta meresapi keindahannya. Dan belum lagi Mush’ab selesai dari uraiannya. Usaidpun berseru kepadanya dan kepada sahabatnya, ”Alangkah indah dan benarnya ucapan itu! Dan apakah yang harus dilakukan oleh orang yang hendak masuk Agama ini?” Maka sebagai jawabannya gemuruhlah suara tahlil, serempak seakan hendak menggoncangkan bumi. Kemudian ujar Mush’ab, ”Hendaklah ia mensucikan diri, pakaian dan badannya, serta bersaksi bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah”.

    Beberapa lama Usaid meninggalkan mereka, kemudian kembali sambil memeras air dari rambutnya, lalu ia berdiri sambil menyatakan pengakuannya bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah dan bahwa Muhammad itu utusan Allah.

    Secepatnya berita itu pun tersiar. Keislaman Usaid disusul oleh kehadiran Sa’ad bin Mu’adz. dan setelah mendengarkan uraian Mush’ab, Sa’ad merasa puas dan masuk Islam pula.

    Langkah ini disusul pula oleh Sa’ad bin Ubadah. Dan dengan keislaman mereka ini, berarti selesailah persoalan dengan berbagai suku yang ada di Madinah. Warga kota Madinah saling berdatangan dan tanya bertanya sesama mereka, “Jika Usain bin Hudlair, Saad bin ‘Ubadah dan Sa’ad bin Mu’adz telah masuk Islam, apalagi yang kita tunggu. Ayolah kita pergi kepada Mush’ab dan beriman bersamanya! Kata orang, kebenaran itu terpancar dari celah-celah giginya!”

    —oo—

    Demikian duta Rasulullah yang pertama telah mencapai hasil gemilang yang tiada taranya, suatu keberhasilan yang memang wajar dan layak diperolehnya. Hari-hari dan tahun-tahun pun berlalu, dan Rasulullah bersama para sahabatnya hijrah ke Madinah.

    Orang-orang Quraisy semakin geram dengan dendamnya, mereka menyiapkan tenaga untuk melanjutkan tindakan kekerasan terhadap hamba-hamba Allah yang shalih. Terjadilah perang Badar dan kaum Quraisypun beroleh pelajaran pahit yang menghabisakan sisa-sisa fikiran sehat mereka, hingga mereka berusaha untuk menebus kekalahan. Kemudian datanglah giliran perang Uhud, dan Kaum Muslimin pun berisap-siap mengatur barisan. Rasulullah berdiri di tengah barisan itu, menatap setiap wajah orang beriman menyelidiki siapa yang sebaiknya membawa bendera. Maka terpanggilah “Mush’ab yang baik”, dan pahlawan itu tampil sebagai pembawa bendera.

    Peperangan berkobar lalu berkecamuk dengan sengitnya. Pasukan panah melanggar tidak mentaati peraturan Rasulullah, merek meninggalkan kedudukannya di celah bukit setelah melihat orang-orang musyrik menderita kekalahan dan mengundurkan diri. Perbuatan mereka itu secepatnya merubah suasana, hingga kemenangan kaum muslimin beralih menjadi kekalahan.

    Dengan tidak diduga pasukan berkuda Quraisy menyerbu Kaum Muslimin dari puncak bukit, atau tombak dan pedang pun berdentang bagaikan mengamuk, membatasi Kaum Muslimin yang tengah kacau balau. Melihat barisan Kaum Muslimin porak poranda, musuhpun menunjukkan serangan ke arah Rasulullah dengan maksud menghantamnya.

    Mush’ab bi Umair menyadari suasana gawat ini, Maka diacungkannya bendera setinggi-tingginya dan bagaikan ngauman singa ia bertakbir sekeras-kerasnya, lalu maju ke muka, melompat, mengelak dan berputar lalu menerkam. Minatnya tertuju untuk menarik perhatian musuh kepadanya dan melupakan Rasulullah saw. dengan demikian dirinya pribadi bagaikan membentuk barisan tentara.

    Sungguh, walaupun seorang diri, tetapi Mushab bertempur laksana pasukan tentara besar. Sebelah tangannya memegang bendera bagaikan tameng kesaktian, sedang yang sebelah lagi menebaskan pedang dengan matanya yang tajam. Tetapi musuh kian bertambah banyak juga, mereka hendak menyeberang yang menginjak tubuhnya untuk mencapai Rasulullah.

    Sekarang marilah kita perhatikan saksi mata, yang akan menceritakan saat-saat terakhir kapahlawanan besar Mush’ab bin Umar.

    Berkata Ibnu Sa’ad, “Diceritakan kepada kami oleh Ibrahim bin Muhammad bin Syurahbil al-‘Abdari dari bapaknya, ia berkata :

    “Mush’ab bin Umair adalah pembawa bendera di Perang Uhud. Tatkala barisan Kaum Muslimin pecah, Mush’ab bertahan pada kedudukannya. Datanglah seseorang musuh berkuda, Ibnu Qumaiah namanya, lalu menebas tangan-nya hingga putus, sementara Mush’ab mengucapkan “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul” Maka dipegangnya bendera dengan tangan kirinya sambil membungkuk melindunginya. Musuhpun menebas tangan kirinya itu hingga putus pula. Mush’ab membungkuk ke arah bendera, lalu dengan kedua pangkal lengan meraih ke dada sambil mengucapkan, “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul”. Lalu orang berkuda itu menyerangnya ketiga kali dengan tombak, dan menusukkannya hingga tombak itupun patah. Mush’ab pun gugur, dan bendera jatuh”.

    Gugurlah Mush’ab dan jatuhlah bendera. ia gugur sebagai bintang dan mahkota para syuhada. Dan hal itu dialaminya setelah dengan keberanian luar biasa mengarungi kancah pengorbanan dan keimanan. Disaat itu Mush’ab berpendapat bahwa sekiranya ia gugur, tentulah jalan para pembunuh akan terbuka lebar menuju Rasulullah tanpa ada pembela yang akan mempertahankannya. Demi cintanya yang tiada terbatas kepada Rasulullah tanpa ada pembela yang akan mempertahankannya. Demi cintanya yang tiada terbatas kepada Rasulullah dan cemas memikirkan nasibnya nanti, ketika ia akan pergi berlalu, setiap kali pedang jatuh menerbangkan sebelah tangannya, dihiburnya dirinya dengan ucapan, “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul”.

    Kalimat yang kemudian dikukuhkan sebagai wahyu ini selalu diulang dan dibacanya sampai selesai, hingga akhirnya menjadi ayat Al-Quran yang selalu dibaca orang.

    —oo—

    Setelah pertempuran usai, ditemukanlah jasad pahlawan ulung yang syahid itu terbaring dengan wajah menelungkup ke tanah digenangi darahnya yang mulia. Dan seolah-olah tubuh yang telah kaku itu masih takut menyaksikan bila Rasulullah ditimpa bencana, maka disembunyikannya wajahnya agar tidak melihat peristiwa yang dikhawatirkan dan ditakutinya itu. Atau mungkin juga ia merasa malu karena telah gugur sebelum hatinya tenteram beroleh kepastian akan keselamatan Rasulullah, dan sebelum ia selesai menunaikan tugasnya dalam membela dan mempertahankan Rasulullah sampai berhasil.

    Wahai Mush’ab cukuplah bagimu Ar-Raman.
    Namamu harum semerbak dalam kehidupan.

    —oo—

    Rasulullah bersama para sahabat datang meninjau medan pertempuran untuk menyampaikan perpisahan kepada para syuhada. Ketika sampai ditempat terbaringnya jasad Mush’ab, bercucuran dengan deras air matanya. Berkata Khabbah ibnul ‘Urrat:

    “Kami hijrah di jalan Allah bersama Rasulullah saw dengan mengharap keridlaan-Nya, hingga pastilah sudah pahala di sisi Allah. Diantara kami ada yang telah berlalu sebelum menikmati pahalanya di dunia ini sedikitpun juga. Diantaranya ialah Mush’ab bin Umair yang tewas di perang Uhud. Tak sehelaipun kain untuk menutupinya selain burdah. Andainya ditaruh diatas kepalanya, terbukalah kedua belah kakinya. Sebaliknya bila ditutupkan ke kakinya, terbukalah kepalanya. Maka sabda Rasulullah saw, “Tutupkanlah ke bagian kepalanya, dan kakinya tutupilah dengan rumput idzkhir!

    Betapapun luka pedih dan duka yang dalam menimpa Rasulullah karena gugur pamanda Hamzah dan dirusak tubuhnya oleh orang-orang musyrik demikian rupa, hingga bercucurlah air mata Nabi. Dan betapapun penuhnya medan laga dengan mayat para sahabat dan kawan-kawannya, yang masing-masing mereka baginya merupakan panji-panji ketulusan, kesucian dan cahaya. Betapa juga semua itu, tapi Rasulullah tak melewatkan berhenti sejenak dekat jasad dutanya yang pertama, untuk melepas dan mengeluarkan isi hatinya. Memang, Rasulullah berdiri di depan Mush’ab bin Umair dengan pandangan mata yang pendek bagai menyelubungi dengan kesetiaan dan kasih sayang, dibacakannya ayat :


    Diantara orang-orang Mu’min terdapat pahlawan-pahlawan yang telah menepati janjinya dengan Allah.

    (Q.S. 33. Al-Ahzab : 23)

    Kemudian dengan mengeluh memandangi burdah yang digunakan untuk kain tutupnya, seraya bersabda :

    Ketika di Mekah dulu, tak seorangpun aku lihat yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya dari padamu. Tetapi sekarang ini, dengan rambutmu yang kusut masi, hanya dibalut sehelai burdah.

    Setelah melayangkan pandang, pandangan sayu ke arah medan serta para syuhada kawan-kawan Mush’ab yang tergeletak diatanya, Rasulullah berseru :

    Sungguh Rasulullah akan menjadi saksi nanti di hari qiamat, bahwa tuan-tuan semua adalah syuhada disisi Allah

    Kemudian sambil berpaling ke arah sahabat yang masih hidup, sabdanya,

    Hai manusia! Berziarahlah dan berkunjunglah kepada mereka, serta ucapkanlah salam ! Demi Allah yang menguasai nyawaku, tak seorang Muslimpun sampai hari qiamat yang memberi salam kepada mereka, pasti mereka akan membalasnya.

    Salam atasmu wahai Mush’ab…….
    Salam atasmu sekalian, wahai para syuhada….
    Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.

    T.A.M.A.T


    Saya ketik ulang dari buku :
    Karakteristik Perihidup Enam Puluh Shahabat Rasulullah
    Khalid Muhammad Khalid
    diterjemahkan oleh : Mahyuddin Syaf dkk
    editor H.A.A. Dalan dan Prof.Dr. H.M.D.
    Penerbit CV Diponegoro Bandung.
    Cetakan XV tahun 1999

    Bukunya setebal 704 halaman, saat saya miliki di tahun 1999 harganya hanya 17.500, di kala itu dapat biaya dari menjaga kedai buku kecil di pojokan masjid kampus :D jadi teringat masa dulu….

    Pinginnya sih saya ketik ulang semua untuk ditampilkan di myweb, ya katakanlah sehari dapat satu cerita sahabat, kalau 60 cerita sahabat berarti dua bulan selesai. Tetapi saya tak tega kalau buku semurah itu saya tulis lagi, nanti bukunya bisa tak laku he.. he.. he.., Kan kasihan. Saya katakan murah karena satu cerita harganya hanya Rp 17.500,-/60 = Rp 291,6,- dibulatkan cuman Rp 300,- jadinya ya murah sekali :) , Di buku tersebu masih ada 59 cerita sahabat lagi. So, beli saja bukunya ya?

    Surabaya 06 April 2005

  • 1 Comment
  • Filed under: Cerita Islam
  • Mush’ab bin Umair salah seorang di antara para shahabat Nabi. Alangkah baiknya jika kita memulai kisah dengan pribadinya. Seorang remaja Quraisy terkemuka, seorang yang paling ganteng dan tampan, penuh dengan jiwa dan semangat kemudaan.

    Para muarrikh dan ahli riwayat melukiskan semangat kemudaannya dengan kalimat “Seorang warga kota Mekah yang mempunyai nama paling harum”.

    Ia lahir dan dibesarkan dalam kesenangan, dan tumbuh dalam lingkungannya. Mungkin tak seorangpun di antara anak-anak muda Mekah yang beruntung dimanjakan oleh kedua orang tuanya demikian rupa sebagai yang dialami Mush’ab bin Umair.

    Mungkinkah kiranya anak muda yang serba kecukupan, biasa hidup mewah dan manja, menjadi buah bibir gadis-gadis Mekah dan menjadi bintang di tempat-tempat pertemuan, akan meningkat sedemikian rupa hingga menjadi buah ceritera tentang keimanan, menjadi tamsil dalam semangat kepahlawanan ?

    Sungguh, suatu riwayat penuh pesona, riwayat Mush’ab bin Umair atau “Mush’ab yang baik”, sebagai biasa digelarkan oleh Kaum Muslimin. Ia salah satu di antara pribadi -pribadi Muslimin yang ditempa oleh Islam dan dididik oleh Muhammad SAW.

    Tetapi corak pribadi manakah?

    Sungguh, kisah hidupnya menjadi kebanggaan bagi kemanusiaan umumnya.

    Suatu hari anak muda ini mendengar berita yang telah tersebar luas di kalangan warga Mekah mengenai Muhammad al-Amin, Muhammad SAW, yang mengatakan bahwa dirinya telah diutus Allah sebagai pembawa berita suka maupun duka sebagai da’i yang mengajak umat beribadat kepada Allah Yang Maha Esa.

    Sementara perhatian warga Mekah terpusat pada berita itu, dan tiada yang menjadi buah pembicaraan mereka kecuali tentang Rasulullah SAW serta Agama yang dibawanya, maka anak muda yang manja ini paling banyak mendengar berita itu. Karena walaupun usianya masih belia, tetapi ia menjadi bunga majlis tempat-tempat pertemuan yang selalu diharapkan kehadirannya oleh para anggota dan teman-temannya. Gayanya yang tampan dan otaknya yang cerdas merupakan keistimewaan Ibnu Umair, menjadi daya pemikat dan pembuka jalan pemecahan masalah.

    Di antara berita yang didengarnya ialah bahwa Rasulullah bersama pengikutnya biasa mengadakan pertemuan di suatu tempat yang terhindar jauh dari gangguan gerombolan Quraisy dan ancaman-ancamannya, yaitu di bukit Shafa di rumah Arqam bin Abil Arqam.

    Keraguannya tiada berjalan lama, hanya sebentar waktu ia menunggu, maka pada suatu senja di dorong oleh kerinduannya pergilah ia ke rumah Arqam menyertai rombongan itu. Di tempat itu Rasulullah SAW sering berkumpul dengan para shahabatnya, temapt mengajarnya ayat-ayat al-quran dan membawa mereka shalat beribadat kepada Allah Yang maha Akbar.

    Baru saja Mush’ab mengambil tempat duduknya, ayat-ayat al-Quran mulai mengalir dari kalbu Rasulullah bergema melalui kedua bibirnya dan sampai ke telinga, meresap di hati para pendengar. Di senja itu Mush’ab pun terpesona oleh untaian kalimat Rasulullah yang tepat menemui sasaran pada kalbunya.

    Hampir saja anak muda itu terangkat dari tempat duduknya karena rasa haru, dan serasa terbang ia karena gembira. Tetapi Rasulullah mengulurkan tangannya yang penuh berkat dan kasih sayang dan mengurut dada pemuda yang sedang panas bergejolak, hingga tiba-tiba menjadi sebuah lubuk hati yang tenang dan damai, tak obah bagai lautan yang teduh dan dalam. Pemuda yang telah Islam dan Iman itu nampak telah memiliki ilmu dan hikmah yang luas – berlipat ganda dari ukuran usianya – dan mempunyai kepekatan hati yang mampu merubah jalan sejarah.

    Khunas binti Malik yakni ibunda Mush’ab, seorang yang berkepribadian kuat dan pendiriannya tak dapat ditawar atau diganggu gugat. Ia wanita yang disegani bahkan ditakuti.

    Ketika Mush’ab menganut Islam, tiada satu kekuatanpun yang ditakuti dan dikhawatirkannya selain ibunya sendiri, bahkan kalau seluruh penduduk Mekah beserta berhala-berhala para pembesar dan padang pasirnya berubah rupa menjadi suatu kekuatan yang menakutkan yang hendak menyerang dan menghancurkannya, tentulah Mush’ab akan menganggapnya enteng. Tapi tantangan dari ibunya bagi Mush’ab tidak dapat dianggap kecil. Ia pun segera berpikir keras dan mengambil keputusan untuk menyembunyikan keislamannya sampai terjadi sesuatu yang dikehendaki Allah. Demikian ia senantiasa bolak – balik ke rumah Arqam menghadiri majlis Rasulullah, sedan hatinya merasa bahagia dengan keimanan dan sedia menebusnya dengan amarah murka ibunya yang belum mengetahui berita keislamannya.

    Tetapi di kota Mekah tiada rahasia yang tersembunyi, apalagi dalam suasana seperti itu. Maka kaum Quraisy berkeliaran di mana – mana mengikuti setiap langkah dan menyelusuri setiap jejak.

    Kebetulan seorang yang bernama Usman bin Thalhah melihat Mush’ab memasuki rumah Arqam secara sembunyi. Kemudian pada hari yang lain dilihatnya pula ia shalat seperti Muhammad saw. Secepat kilat ia mendapatkan ibu Mush’ab dan melaporkan berita yang dijamin kebenarannya.

    Berdirilah Mush’ab di hadapan ibu dan keluarganya serta para pembesar Mekah yang berkumpul di rumahnya. Dengan hati yang yakin dan pasti dibacakannya ayat-ayat al-Quran yang disampaikan Rasulullah untuk mencuci hati nurani mereka, mengisi dengan hikmah dan kemuliaan, kejujuran dan ketaqwaan.

    Ketika sang ibu hendak membungkam mulut puteranya dengan tamparan keras, tiba-tiba tangan yang terulur bagai anak panah itu surut dan jatuh terkulai – demi melihat nur atau cahaya yang membuat wajah yang telah berseri cemerlang itu kian berwibawa dan patut diindahkan – menimbulkan suatu ketenangan yang mendorong dihentikannya tindakan.

    Karena rasa keibuannya, ibunda Mush’ab terhindar memukul dan menyakiti puteranya, tetapi tak dapat menahan diri dari tuntutan bela berhala-berhalanya dengan jalan lain. Dibawalah puteranya itu ke suatu tempat terpencil di rumahnya, lalu dikurung dan dipenjarakan sangat rapat.

    Demikian beberapa lama Mush’ab tinggallah dalam kurungan sampai saat beberapa orang Muslimin hijrah ke Habsyi. mendengar berita hijrah ini Mush’ab pun mencari muslihat, dan berhasil mengelabui ibu dan penjaga-penjaganya, lalu pergi ke Habsyi melindungi diri. Ia tinggal disana bersama saudara-saudaranya kaum Muhajirin, lau pulang ke Mekah. Kemudian ia pergi lagi hijrah kedua kalinya bersama para shahabat atas titah Rasulullah dan karena taat kepadanya.

    Baik di Habsyi ataupun di Mekah, ujian dan penderitaan yang harus dilalui Mush’ab di tiap saat dan tempat kian meningkat. Ia telah selesai dan berhasil menimpa corak kehidupannya menurut pola yang modelnya telah dicontohkan Muhammad SAW. Ia merasa puas bahwa kehidupannya telah layak untuk dipersembahkan bagi pengorbanan terhadap Penciptanya Yang Maha Tinggi, Tuhannya Yang Maha Akbar.

    Pada suatu hari ia tampil di hadapan beberapa orang muslimin yang sedang duduk sekeliling Rasulullah SAW. Demi memandang Mush’ab, mereka sama menundukkan kepala dan memejamkan mata, sementara beberapa orang matanya basah karena duka. Mereka melihat Mush’ab memakai jubah usang yang bertambal – tambal, padahal belum lagi hilang dari ingatan mereka – pakaiannya sebelum masuk Islam – tak obahnya bagaikan kembang di taman, berwarna-warni dan menghamburkan bau yang wangi.

    Adapun Rasulullah, menatapnya dengan pandangan penuh arti, disertai cinta kasih dan syukur dalam hati, pada kedua bibirnya tersungging senyuman mulia seraya bersabda :

    “Dahulu saya lihat Mush’ab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya, kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya.”

    Semenjak ibunya merasa putus asa untuk mengembalikan Mush’ab kepada agama yang lama, ia telah menghentikan segala pemberian yang biasa dilimpahkan kepadanya, bahkan ia tak sudi nasinya dimakan orang yang telah mengingkari berhala dan patut beroleh kutukan daripadanya, walau anak kandungnya sendiri.

    Akhir pertemuan Mush’ab dengan ibunya, ketika perempuan itu hendak mencoba mengurungnya lagi sewaktu ia pulang dari Habsyi. Iapun bersumpah dan menyatakan tekadnya untuk membunuh orang-orang suruhan ibunya bila rencana itu dilakukan. Karena sang ibu telah mengetahui kebulatan tekad puteranya yang telah mengambil satu keputusan, tak ada jalan lain baiknya kecuali melepaskan dengan cucuran air mata, sementara Mush’ab mengucapkan selamat berpisah dengan menangis pula.

    Saat perpisahan itu menggambarkan kepada kita kegigihan luar biasa dalam kekafiran pihak ibu, sebaliknya kebulatan tekad yang lebih besar dalam mempertahankan keimanan dari pihak anak. Ketika sang ibu mengusirnya dari rumah sambil berkata : “Pergilah sesuka hatimu! Aku bukan ibumu lagi”. Maka Mush’ab pun menghampiri ibunya sambil berkata: “Wahai bunda! Telah anakanda sampaikan nasihat kepada bunda, dan anakanda menaruh kasihan kepada bunda. Karena itu saksikanlah bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya”.

    Dengan murka dan naik darah ibunya menyahut : “Demi bintang! sekali-kali aku takkan masuk ke dalam Agamamu itu. Otakku bisa jadi rusak, dan buah pikiranku takkan diindahkan orang lagi”.

    Demikian Mush’ab meninggalkan kemewahan dan kesenangan yang dialaminya selama itu, dan memilih hidup miskin dan sengsara. Pemuda ganteng dan perlente itu, kini telah menjadi seorang melarat dengan pakaiannya yang kasar dan usang, sehari makan dan beberapa hari menderita lapar.

    Tapi jiwanya yang telah dihiasi dengan aqidah suci dan cemerlang berkat sentuhan Nur Illahi, telah merubah dirinya menjadi seorang manusia lain, yaitu manusia yang dihormati penuh wibawa dan disegani.

    —oo—

    Bersambung …….

  • 1 Comment
  • Filed under: Cerita Islam
  • (lagi…)

  • 31 Comments
  • Filed under: Doa & Hadits
  • Doa Keluar Rumah

    (lagi…)

  • 4 Comments
  • Filed under: Doa & Hadits
  • Tentangku

    Agus Waluyo, online sejak 02/02/02, asli Durenan, Trenggalek, tetapi mulai awal tahun 2008 tinggal di Malang. Seorang guru honorer SMP yang suka iseng nulis. Selain situs ini juga admin Blog SMP, dan Lirik Nasyid. Dapat dihubungi melalui e-mail ataupun Ym di kank_agus(at)yahoo.com.

    Halaman