menebar SENYUM merajut UKHUWAH
13 Jan
Ruqyah adalah kumpulan ayat – ayat Qur’ani dan hadits – hadits Rasulullah SAW yang merupakan doa – doa perlindungan yang harus dibaca oleh setiap muslim atas dirinya, atau anaknya, atau istrinya, baik untuk tujuan perlindungan diri dari semua bentuk kejahatan manusia dan jin, atau kesurupan syetan, atau sihir, atau dari penyakit tersebut atau penyakit – penyakit fisik lainnya.
Itulah Ruqyah Syariah. Dan tidak sebagaimana dipahami banyak orang bahwa ia merupakan sebentuk sihir atau mantra – matra. Juga tidak digunakan untuk orang – orang yang mengalami penyakit – penyakit rohani saja. Pemahaman yang salah seperti itulah yang membuat orang tidak tertarik untuk menggunakan pengobatan seperti ini dalam kehidupan mereka walaupun mereka telah menderita dan merasakan begitu banyak penyakit.
3-4
13 Jan
Ini yang saya ceritakan dulu tentang si “Mata Indah Bola Pingpong” atau Dik Aan atau nama panjangnya Muhammad Nafan Abdillah. Sekarang Dik Aan sudah lumayan besar. Usianya sudah 3.5 tahun. Tambah besar tambah mbethik (=nakal). Kalau sedang naik ke atas (lantai II) atau tempatnya arek – arek ngekost, sukanya mbuka – mbuka pintu kamar saya. “Dol !!” lantas tertawa. Kalau tidak begitu suka maaf “ngentuti” saya. Tetapi bukan ngentut beneran cuma mulutnya saja yang bilang. “Mas Agus tak entuti.” Lantas sambil mebelakakingi saya mulutnyapun di sembur – semburkan “Blut.., blut.. blut..” Tertawa dan menutup pintu sambil berlari. Habis itu pintunya dibuka sedikit sambil intip – intip dari balik pintu. Nah, kalau aku tersenyum dia akan mengulangi aksinya beberapa kali sampai Dik Aannya capek sendiri. Nggak tau siapa juga yang ngajari. Jangan – jangan antum yang mbaca tulisan saya ini ya yang ngajari, karena aku nggak pernah ngajari hal – hal semacam ini. Hmm.. awas kalau ketahuan yang ngajari mau tak hajar (wih kejamnya).
Tetapi waktu aku bawa digital camera dan memfoto teman – temanku, eh Dik Aan-nya muncul dan malah suka ngikuti di belakangku, tetapi kalau diminta difoto nggak berani, takut sama blitnya. Kalau ada kilatan blitz kayaknya takut banget, Kaya mau nangis. Disangka petir kali he.. he.. he..
“Ya sudah sekarang foto sama Mas Agus saja, blitsnya nggak usah dinyalakan wis.” Waktunya memang sudah sore sih, jadi agak – agak gelap, akhirnya make lampu neon saja. Tapi ya gitu, Dik Aannya takut – takut berani. Akhirnya waktu di hitung satu, dua, ti…. mendadak mau lari dan mo nangis akhirnya tak pegangi saja. “Cret”.. nah tuh kan yang semula center jadi keluar layar. Lihat tuh mukanya Dik Aan tegang banget bukan? Ya.., jadinya Dik Aan yang cakep, putih, matanya besar, akhirnya kelihatan jelek, item, dan mau nangis. Tuh lihat tuh, mulutnya mau “mewek”. Habis gitu nggak mau di foto lagi. Ya sudah akhirnya cuma itu dokumentasinya.
Aku mencoba merayu, “Ayo Dik Aan, Foto lagi?”. “Emoh.., emoh.” Kata Dik Aan.
Habis itu beberapa hari yang lalu waktu Pak Kost naik keatas Dik Aannya ngikut. Barangkali jenuh ngikut bapak yang cuman ngobrol sama komting-nya Kost-kostan, Dik Aan masuk ke kamarku.
“Ayo Dik Aan sudah pandai nyanyi apa belum?“Tanyaku.
“Cudah.” Katanya.
Akhirnya waktu aku tawari headshet, eh malah suka banget. Aku putarin midi – midi koleksi anak – anak buatan Mas Didi Hariyadi. Eh seneng banget nyanyi. Tapi lagunya cuma bisa dua. Balonku ada lima, sama cicak di dinding. Ya sudah, daripada merekam lagu balonku ada lima yang panjang, mendingan yang tak rekam lagunya Cicak Di Dinding. Kan cuman pendek saja.
“Ayo Dik Aan kita rekaman saja ?” pintaku. Eh nggak taunya Dik Aan seneng banget. akhirnya ya ini suaranya Dik Aan. Putranya Pak Kost yang usianya baru 3.5 tahun. Lucu bukan. Habis gitu sering keatas minta nyanyi lagi. Ha.. ha.. ha..
Tapi sudah seminggu lebih Dik Aan kok nggak kelihatan naik keatas ya? Kemana nich. Tidak biasanya loh. Esok harinya saya ketemu di bawah. Hii ngeri.. jari telunjuk kanannya kayak mau putus. Disamping itu jalannya pincang dan jempol kakinya juga menghitam. Hi.. ngeri banget aku. Tetapi anaknya nggak kelihatan nangis, nggak kelihatan sedih cuman senyum – senyum saja.
“Hayo.. Dik Aan tangane kenek opo iki?” Tanyaku. (=Hayo.. Dik Aan, tangannya terkena apa ini?)
“Enek ading. Enek Ading.” Katanya. (Itu adalah suara anak kecil yang yang masih belum lancar bicaranya, yang maksudnya “Kenek Lading” atau dalam bahasa Indonesianya “Terkena Pisau“)
“Nek Endi?” tanyaku lagi (=Dimana?)
“Enek ading.” jawabnya. Dia tidak mau menjawab dimana terkena pisaunya tetapi cuman mengatakan kalau terkena pisau. Aku tanya saudaranya yang lain yang masih kecil juga pada nggak tau terkena apa Dik Aan itu.
Akhirnya aku tanya Bapak (bapak kost), beliau mengatakan kalau jari telunjuknya itu terkena alergi, dan diobati salep sehingga kelihatan kaya mau putus. Hii… terus jempol kakinya terkena “cantengen” atau infeksi kuku kaki, sementara jalannya pincang karena telapak kakinya terkena pecahan kaca. Aduh sampe aku kasihan banget. Habis Dik Aan itu sukanya main di tempat – tempat yang kotor. Atau orang jawa bilang suka “nrutus”.
Tetapi seminggu kemudian waktu naik ke atas lagi, Alhamdulillah berjalannya sudah normal, tinggal bekas – bekasnya saja.
“Eh Dik Aan endi jempolan sikil sing loro iku, wis mari yo?” Tanyaku. (=Eh Dik Aan mana jempol kaki yang sakit itu, sudah sembuh ya?)
Maka Dik Aanpun memperlihatkan jempolnya kakinya yang sudah mengering itu. Maka akupun menggoda saja.
“Hi…” kataku sambil menirukan mimik orang ketakutan.
dan Dik Aanpun mengusap usapkan jempol kakinya ke arah kakiku, sambil tertawa terbahak – bahak. Dan akupun menghindar sambil ngomong “Hi…, hi..” dan Dik Aanpun dengan semangat mengejarku sambil mengusap – usapkan jempol kakinya yang sakit itu. “Hi..”, lantas aku angkat badan kecilnya ke atas dan kamipun tertawa lebar.
12 Jan
oleh: Ibnu HS
Bunda …, jadah itu artinya apa?”
Bunda tersentak waktu itu. Tak menyangka pertanyaan itu akan keluar dari sela bibir mungilku. Gadis kecilnya yang baru berumur lima tahun saat itu. “Kenapa Sayang?” Bunda bertanya sambil mendekapku di dadanya. “Orang-orang menyebutku seperti itu,” jawabku dengan sangat polos. Memeluk Bunda semakin erat dan merasakan perlindungannya.
Kudengar Bunda menarik nafasnya berkali-kali. Barangkali sibuk merumuskan jawaban yang tepat untuk pertanyaanku yang tak diduganya sama sekali.
“Nanti kalau sudah besar kau akan tahu sendiri jawabannya!” demikianlah akhirnya suara itu yang kudengar sebagai jawaban. Kalau mau jujur tentu aku tidak puas dengan kalimat itu. Tapi aku tidak pernah tega untuk menyakiti Bunda. Kupikir waktu itu mungkin memang Bunda tak tahu tentang apa makna dari kata-kata itu.
Di waktu lainnya aku ajukan pertanyaan lain padanya.
“Bunda …, apa saya punya Ayah?” tanyaku. Bunda baru saja selesai mendongeng padaku waktu itu.
Bunda tertegun begitu lama.
“Kenapa?” Bunda bertanya sambil memandangku dengan matanya yang indah.
“Orang-orang itu bilang saya tak punya Ayah,” jawabku murung sambil menundukkan kepala.
“Ada!” tegas Bunda meyakinkanku.
Di mana? Kenapa aku tak bisa menemuinya?
Tangan mungil ini kemudian digenggamnya. Bunda membimbingku bangkit dari tempat tidur kayu berkepinding. Mengajakku melangkah keluar rumah. Berjalan ke halaman tanpa penerangan.
“Kau lihat langit di atas sana?” Bunda bertanya tanpa melepas genggamannya. Aku mengangguk mengiyakan.
“Ayahmu ada di sana!” jawab Bunda meyakinkan.
Aku tidak melihat apa-apa. Selain langit hitam dan taburan berjuta bintang tidak ada gambar wajah manusia terlihat di sana.
Tapi aku tidak ingin bertanya lagi. Rasanya aku telah mendapatkan jawabannya. Barangkali ayahku adalah satu diantara kerlip bintang-bintang itu. Aku tidak merasa sedih lagi. Besok jika anak-anak itu menggodaku lagi dan mengatakan aku tidak punya ayah aku sudah punya jawabannya. Aku akan mengatakan pada mereka bahwa aku adalah anak sebuah bintang!
* * *
Sejak kecil aku cuma punya Bunda, perempuan yang dicipta dari seribu kuntum bunga. Perempuan yang miskin tanpa harta tapi penuh cinta. Yang selalu menyediakan dadanya untuk menyerap luka-luka.
Dengan upah seadaanya sebagai tukang cuci pakaian pada beberapa keluarga Bunda selalu menabung. Katanya aku harus sekolah setinggi mungkin dan jadi orang pandai. Agar tidak bodoh dan melarat seperti dirinya.
Bunda lewati seluruh kehidupan berat sendiri. Mengasuh anak yang terus tumbuh tanpa pendamping di sisi. Tidak mudah memang. Tapi tidak sekalipun aku melihatnya berduka. Kecuali sekali pada suatu malam aku terbangun dan melihatnya mengisak di atas sehelai sajadah.
Bagiku Bunda telah memberi segalanya padaku. Kecuali satu hal, kepastian tentang siapa orang yang harus kusebut sebagai ayah. Dulu waktu aku kecil aku bisa saja mengatakan aku adalah anak sebuah bintang. Tapi seiring perjalanan waktu dan aku menjadi semakin dewasa, tentu saja ucapan itu tak lagi memadai.
Seiring dengan pertambahan usia aku kian mengerti bahwa setiap orang lahir dari hubungan antara seorang lelaki dan seorang perempuan. Jelas aku adalah anak seorang manusia. Bukan anak sebuah bintang seperti yang selama ini kutafsirkan.
Beban inilah yang terus kusandang. Pertanyaan tentang siapa lelaki yang mesti kupanggil Ayah yang tak pernah menemukan jawab. Perlahan menjelma jadi sebuah kutukan yang mengiringi perjalanan usiaku.
Setiap kali aku menanyakan hal itu pada Bunda, cuma air matalah yang kemudian menjadi jawabannya. Seperti menguak luka yang tak pernah kering sama sekali. Lalu aku jadi tak pernah tega memaksa Bunda untuk menjawabnya. Sebab Bunda terlalu mulia untuk terluka.
Aku sendiri akhirnya berusaha melupakan semua persoalan itu sendiri. Menyimpan pertanyaan dan seribu keluh di udara. Membiarkannya berkelana mencari jawab hingga ke tempat bintang-bintang terjauh.
Aku tidak ingin mengecewakan Bunda. Perjuangannya tidak boleh sia-sia. Keinginannya melihatku sekolah setinggi mungkin memacu semangatku untuk belajar dengan giat. Dan hasilnya tidak memalukan. Aku selalu berhasil mencapai gelar juara sejak duduk di bangku SD hingga SMU. Bahkan setiap tahun Bunda tidak perlu repot mencarikan aku biaya karena aku aku selalu meraih beasiswa.
Lalu kemudian aku terpaksa berpisah dengan Bunda. Aku diterima masuk tanpa test di salah satu perguruan tinggi terkemuka di kota Pontianak. Sebenarnya aku tak tega meninggalkan Bunda sendiri dalam usianya yang semakin senja. Tapi Bunda bersikeras memaksa.
“Kau harus pergi. Sekolah setinggi-tingginya seperti impian Bunda!”
Maka pergilah aku meninggalkannya sendiri. Bertahun-tahun sudah aku tinggal di kota ini. Pendidikanku telah kuselesaikan dengan memuaskan. Sekarang aku bahkan telah diterima bekerja di salah satu Bank Syariah terkemuka yang baru berdiri.
Aku ingin menjemput Bunda. Mengajaknya pindah ke kota ini. Tapi Bunda menolak. Ia ingin tinggal di sana selamanya sampai kematian menjemputnya nanti. Aku sendiri tak bisa mencegahnya. Akhirnya aku tinggal di kota ini. Mengontrak rumah dengan seorang teman untuk mengirit biaya.
* * *
Kukira dengan meninggalkan tempat kelahiran aku akan bisa hidup dengan tenang. Semua mimpi buruk masa kecil tentang siapa ayahku tidak akan memburuku sampai ke kota ini. Tapi tidak. Sepertinya ia menjelma jadi kutukan yang mengikuti kemana pergi.
Aku telah dewasa kini. Telah siap untuk menikah dan berkeluarga. Sudah tiga orang lelaki shaleh yang datang mengajukan lamaran padaku. Tapi sudah tiga kali pula aku terpaksa menolaknya.
“Kamu kenapa sih? Lelaki shaleh sudah langka, lho …,” tanya Asti. Teman serumahku. Cuma padanya aku bisa cerita.
Asti benar. Tapi beban berat ini …
“Kau takut mereka bertanya tentang keluargamu?” ia bertanya sambil menatap mataku dalam-dalam. Persis seperti Bunda.
Aku mengangguk. Memang ini hal paling menakutkan bagi diriku. Aku sudah dewasa kini. Tak mungkin lagi mengemukakan jawaban seperti ketika aku masih kecil dulu. Aku tak mungkin mengatakan bahwa aku anak sebuah bintang.
“Jangan simpan prasangka pada Bunda. Ndak baik,”
Aku tahu. Tapi perasaan itu memburuku. Aku menduga Bunda menyembunyikan sesuatu yang buruk di masa lalunya dariku, anak satu-satunya. Dan itu terkait dengan keberadaan seorang lelaki yang harusnya kupanggil Ayah. Seorang lelaki yang tak kuketahui meski hanya selembar gambar.
Rabbi …, aku hanya ingin tahu siapa lelaki yang menjadi ayhku. Hanya itu. Apa aku durhaka pada Bunda?
“Sejelek apa pun kenyataannya, Bunda tetaplah Bunda!”
Aku tertegun mendengarnya. Kulihat Asti mengeluarkan sebuah kalung dengan mata berbentuk hati dari dalam kotak perhiasannya.
“Kenang-kenangan dari ibuku,” jawabnya seperti paham dengan pertanyaan yang tak kuutarakan. Lama ia menimang perhiasan tersebut sebelum memasukkannya kembali ke kotak perhiasan.
“Di mana ibumu sekarang?”
Ia menggelengkan kepala dan mengangkat bahunya.
“Aku bahkan tak tahu siapa namanya. Ia meninggalkanku di depan sebuah panti asuhan yang kemudian menjadi rumah bagiku,”
Aku tertegun mendengarnya. Baru kali ini ia menceritakan kisah hidupnya.
“Maaf …!”
Kulihat ia tersenyum.
“Tak apa. Kau beruntung, Sahabat. Meski tak punya seorang ayah kau masih punya Bunda. Perempuan yang katamu tercipta dari seribu kuntum bunga. Aku sendiri tak punya keduanya,” jawabnya tanpa melepas senyum di bibirnya.
Aku insyaf kini. Aku masih sangat beruntung mempunyai Bunda. Dalam sujudku malam itu aku menangis. Mohon kesempatan pada Allah untuk membahagiakan Bunda. Perempuan yang dicipta dari seribu kuntum bunga.
* * *
Berita itu sampai lewat seorang tamu. Salah seorang tetangga kami di kampung dulu. Sengaja datang untuk mengunjungiku. Padaku ia cerita Bunda sedang sakit.
“Sebenarnya ia sakit sejak lama. Tapi tak mau cerita. Bunda bilang tak mau kalau pekerjaanmu terganggu. Tapi aku pikir kau memang perlu tahu!”
Aku jadi sangat cemas karenanya. Asti menyarankan agar aku sebaiknya meminta izin untuk pulang kampung menjenguk Bunda. Mulanya aku ragu. Sebagai seorang karyawan yang belum lama bekerja belum tentu aku mendapat izin. Tapi mereka mengerti dan aku mendapat izin untuk pulang selama dua hari.
Di rumah aku lihat Bunda terbaring di tempat tidurnya. Tempat tidur yang sama seperti masa kecilku dulu. Tempat Bunda biasa mendekap, mendongeng dan berdoa sebelum lelap menyergapku.
“Kenapa Bunda tidak memberitahuku?” tanyaku setelah mencium tangannya.
“Bunda tak mau pikiranmu terganggu,” jawabnya sambil tetap mengukir senyum di wajahnya. Tapi aku melihatnya semakin lemah saja.
“Bunda ingin mengatakan sesuatu tentang ayahmu, ia …,”
“Tidak perlu, Bunda,” potongku cepat. “Jangan katakan apa-apa. Tidak ada yang perlu Bunda jelaskan tentang masa lalu. Bunda tetaplah Bunda. Perempuan yang dicipta dari seribu kuntum bunga!”
Aku memang sudah tidak lagi perduli. Bunda manusia biasa. Mungkin pernah khilaf di masa lalunya. Tapi bagiku kini Bunda adalah anugerah Allah terbesar dalam hidup ini.
Dua hari kemudian Bunda berpulang ke Rahmatullah. Aku harus menelpon Asti dan meminta perpanjangan izin di kantor. Tiga hari setelah pemakaman Bunda baru aku kembali ke kota.
Malam itu kembali aku menatap langit. Seperti waktu kecil dulu saat aku bertanya pada Bunda di mana ayahku. Bunda akan menunjuk ke arah langit. Tempat kegelapan malam dihiasi pendar jutaan bintang.
Bunda kini telah pergi. Menyusul ayahku di tempat yang abadi. Dan aku tahu kini. Jika seorang lelaki shaleh datang untuk melamar dan bertanya tentang keluargaku, aku akan mengatakan bahwa aku adalah anak sepasang bintang!
Kota Kuntilanak, 14 01 03
———————————————-
Penulis: Ibnu HS
ibnu.hs@plasa.com
diambil dari Muslimuda
12 Jan
Acungan jempol, itulah tanda yang paling tepat buat BK DPR, Badan Kehormatan DPR. DPR itu singkatan dari Dewan Perwakilan Rakyak, dewannya rakyat, wakilnya rakyat yang kita pilih saat pemilihan umum lalu. Walau saya tidak ngeh dunia perpolitikan indonesia dan boleh dikatakan buta tentang tetek bengek perpolitikan, tetapi saya acungi jempol buat BK yang dengan berani menegur para anggota DPR yang mangkir dari rapat – rapat yang digelar, bahkan memaparkannya ke publik. Ya ini tindakan yang benar jadi biar rakyat – rakyat macam saya ini tahu, oh, calon ini sering mangkir karena suatu alasan tertentu, dan memang seperti itulah tugasnya semau team – team pengawas.
Dari yang saya baca di koran, saya sendiri heran, diantara anggota partai ada yang mangkir dari rapat karena sedang melanjutkan study. Walau saya tidak memilih wakil yang bersangkutan tetapi saya pribadi heran, nggumun dan tidak faham. Bagaimana mungkin orang yang menjadi lidahnya rakyat malah cuti dan melanjutkan studynya. Apakah memang dikira rakyat yang memilihnya itu cuman main – main saja? Ini bukanlah jabatan main – main tetapi amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Padahal rakyat masih banyak yang membutuhkan fikirannya, dengan membebankan amanah itu kepundaknya. Dan waktu pemilu saya yakin semua calon wakil rakyat berjanji siap mengemban amanah itu. Masih banyak yang mesti diurus dan di fikirkan bapak – bapak dan ibu – ibu. Anda semua dipilih bukan untuk enak – enak, ongkang – ongkang kaki. Ada juga yang tidak ijin karena ngurus partai, nah ya beginilah kalau tugas ditumpuk – tumpuk di dobel – dobel.
Bahkan masalah dobel jabatan pernah disoroti secara serius dalam editorial media indonesia yang ditayangkan langsung oleh MetroTV yang menggembar – gemborkan diri sebagai TV independent tanpa memihak. Tetapi kenyataan dilapangan, memang sangat mustahil ada media tanpa keberpihakan. Sewaktu calon yang digadang – gadang maju bahkan dengan jabatan rangkap, editorial media indonesia tidak berani mengupasnya, jangakan mengupasnya menyinggunnya saja tidak berani. Dagelan indenpendent macam apa lagi ini?
Nah untuk itulah badan – badan yang berani semacam BP ini pantas untuk dipertahankan, pantas utuk dilestarikan. Badan yang mau memplubikasikan sepak terjanga dewan kita, sehingga rakyat ini tidak membeli kucing dalam karung. Dengan mengetahui sepak terjang wakil kita tentu akan menjadi catatan bagi kita untuk memilih tidaknya di pemilu yang akan datang.
Tetapi buat yang mangkir anda masih lumayan, karena ada yang lebih berbahaya lagi dari anggota dewan kita. Titip Absen. Nah ini lebih parah dan mesti di waspadai. Lebih berbahaya daripada yang membolos. Memang semuanya hanya kembali pada hati nurani yang berangkutan?
Huwallohu Alam.
12 Jan
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurahkan keharibaan Rasulullah SAW.
Ada begitu banyak penyakit di zaman ini, dan ada begitu banyak jenis dan bentuknya. Sebagian diantaranya adalah penyakit – penyakit baru yang bahkan sebelumnya tidak pernah kita kenal. Orang – orang pun berusaha mencari obat. dan untuk itu mereka membuang begitu banyak harta dan waktu. Namun hasilnya tetap saja nihil.
Tetapi mereka lupa, atau setidaknya hampir lupa dengan suatu bentuk pengobatan yang dapat menyembuhkan seluruh penyakit mereka, tentu saja dengan izin Allah. Yaitu Ruqyah Syariah (jampi – jampi berdasarkan syariah).
Saya sungguh senang menulis risalah ringkas ini untuk membicarakan beberapa aspek dari Ruqyah Syariah. Semoga risalah ini dapat mencapai tujuannya dan semoga Allah menyembuhkan seluruh orang – orang sakit dan kaum muslimin. Amin ya Rabbal Aalamiin.
Bersambung …
1-2
12 Jan
Saudaraku sesama muslim …
• Apakah anda sering mengeluh dari penyakit fisik tertentu yang belum juga sembuh?
• Apakah Anda sering merasa sedih dan gundah gulana atau cemas dan terhimpit ?
• Apakah Anda sering merasa malas melakukan kewajiban – kewajiban agama?
• Apakah Anda sering merasa lesu dan lemas di sekujur tubuh serta merasa tak berdaya ?
• Apakah ..???
Ada begitu banyak pertanyaan yang – dengan izin Allah – akan Anda temukan jawabannya, secara tuntas, dalam lembaran – lembaran berikut ini.
Bersambung …
v-vi
10 Jan
Asalamu’alaikum
Selanjutnya kolom Doa dan Hadits akan saya isi terjemahan
“SEHAT JIWA RAGA CARA ISLAM (SENI BERJAMPI)”
yang dituliskan oleh Abdullah bin Adul Aziz bin Abdullah, dengan alih bahasa Muh. Anis Matta, Lc dan diterbitkan oleh :
Yayasan Pusat Study Islam Al-Manar.
Jl. Nangka I No. 4 Utan Kayu Jakarta Timur
Telp (021) 8510132,
Cetakan pertama Dzulqoidah 1418 H – Maret 1998
dan selanjutnya dalam tiap judulnya akan disingkat menjadi (SJRCI-SB) untuk lebih memudahkan.
Saya merasa buku ini sangat cocok untuk digunakan sebagai wirid dan bacaan sehari – hari karena banyaknya penyakit yang aneh – aneh dewasa ini. Terus terang buku ini saya tulis tanpa seizin Penerbit , dan jika pihak penerbit atau yang terkait lainnya merasa berkeberatan dengan pemuatannya, saya harapkan menghubungi saya lewatkan email, insya Allah tulisan yang terkait dengan tulisan ini akan saya turunkan.
Namun jika di perkenankan semoga menjadi sutau hal yang bermanfaat dan tercatat sebagai suatu amal kebaikan bersama. Amin.
Karena akan saya tulis di tengah – tengah saya mencari kesibukan yang lain, maka buku kecil setebal 119 akan saya bagi menjadi banyak bagian. Dan jika antum sebagai pembaca budiman ada yang merasa perlu dengan buku tersebut, atau sedikit membaca buku tersebut lantas tertarik, silahkan hubungi penerbit karena harganya paling kurang dari sepuluhribu rupiah, saat saya miliki di tahun 1999 harganya hanya empat ribu rupiah saja.
Bagian pertama ini bukanlah merupakan bagian dari buku tersebut, tetapi pengantar dari saya pribadi tentang pencantuman buku ini pada personal web saya.
Semoga bermanfaat !!
Wassalamu’alaikum
Agus Waluyo
e-mail : kank_agus@yahoo.com
10 Jan
Hampir dua bulan saya uthek – uthek di depan komputer, mengerjakan personal site. Namun tidak sepenuhnya dua bulan terus menerus didepan komputer mengerjakan personal site ini, waktu tersebut lebih banyak saya habiskan untuk mengetik e-book hadits arbain sekaligus versi onlinenya, karena kelahiran ponakan pertama saya, sekaligus minta doanya pada antum semua. Disamping itu juga menyelesaikan bimbingan sholat ditambah e-book almaktsurat. Alhamdulillah kesemuanya bisa selesai.
Tetapi ya seperti itu konsekuensinya personal site-pun menjadi molor. Seharian didepan komputer terus kadang membuat mata ini sakit, dan badan terasa lelah dan capek. Bahkan pernah juga delete tabelpun keliru drop database, waduh, padahal yang saya submit sudah lumayan banyak. Walau sempat ke-backup rasanya saya kehilangan waktu seharian mensubmit isi web. Tapi tak apalah sekalian peringatan bagi saya pribadi untuk lebih berhati – hati.
Desain ini terselesaikan lebih dahulu. Terinspirasi dari Windows Media Player 10, yang pada akhirnya saya capture untuk dijadikan headernya myweb ditambah sedikit pewarnaanya, jadi kolom search dan garis ke kiri di atas itu mengambil skinnya Windows Media Player 10. Sedangkan desain lainnya terinspirasi dari Open Source Web Development yang alamatnya bisa antum lihat dari Favorites. Code program phpnya pertama kali saya contoh dari Open Sourcenya kakakku, karena konsep Open Sourcenya kakakku dan keinginanku berbeda jauh, ngedel – ngedelnya juga lama. Tetapi satu bulan mrogram tidak selesai – selesai juga. Tampilannya sudah jadi tetapi belum ada halaman adminya. Waduh pasti masih lama nich.
Atas saran kakak saya, akhirnya make source code-nya homepage my brother tersebut. Ya, kalau pakei ini dua minggu saja sudah beres. Sebenarnya kalau mau full kerja paling satu minggu sudah selesai. Ya.. itu tadi sambil mengerjakan e-book – e-book yang barangkali berguna, padahal rencananya kemarin mau full mrogram sendiri. Ternyata eh ternyata hah mrogram sendiri itu bikin kepala cenut – cenut serasa mau pecah. Pusing iya, mumet iya.. he.. he.. he.., Alhamdulilah akhirnya jadi juga. Ditambah lagi pinjaman servernya.. Lengkap sudah deh kegratisannya.
Nah kalau punya web begini kan enak, misalkan saat menemukan cerita islam bisa disubmit. Eh tiba – tiba dan mendadak pingin nulis doa – doa atau hadits, bisa di submit; atau pingin curhat, submit; Enak kan? Terimakasih untuk My Brother atas pemberian source code sekaligus pinjaman servernya he.. he. he..
Saya masih berusaha mengemas keorisionalitasan di web ini, jadi kalau antum bertamu ada yang antum dapatkan dan bisa di bawa pulang serta tidak ditemukan di web yang lain. Terkecuali Cerita Islam, semua aplikasi disini telah melalui sentuhan tangan saya. Ambil contoh nich karaoke midi. Saya tak ingin hanya meletakkan file midi di server. Sama kan? di homepage lain pastilah ada yang telah mengusung midi, tetapi di sini saya tambahan track text yang barangkali belum ada di Indonesia yang telah membuatnya, Karena saya telah mengubek – ubek berkali kali mencari karaoke midi dalam format *.kar belum ada homepage di indonesia yang menyediakannya, tetapi kalau dalam midi barat ada banyak homepage yang telah menyediakannya. Mengenai cerita islam kenapa saya masukkan ke dalam server juga, ya daripada tertimbun di PC saja, kan eman – eman ada cerita menarik, kenapa tidak saya publish sekalian. Bisa saja saya ngelink langsung ke yang bersangkutan tetapi nanti kalau tiba – tiba webnya mati seperti moslemword, nah kan eman – eman.
Serta masih tetap mengusung motto “menebar SENYUM merajut UKHUWAH” he he, karena moto ini dulu saya cari – cari dengan melekan sampai semalam ditemani Om Yeye (sekarang Om Yeye-nya sudah kerja di Jakarta) karena kemarin ada teman complain. He.. moto-nya mbacem ya? Enak saja, moto ini orisinil made in sendiri. Memang sih saya sering kali menemukan beberapa web yang menggunakan motto mirip – mirip moto ini, jangankan web, ada buletin bahkan rumah sakit make moto mirip – mirip pula, tetapi tak apalah wong cuman moto saja. Berarti minimal mereka yang memiliki moto kayak ini paling tidak pernah berkunjung kesini. Saya sih malah seneng saja, melekan saya yang semalaman sampai mendapat moto yang dulu itu berarti diterima banyak kalangan. Yang menjengkelkan itu kalau dikatain kayak temenku tadi, moto-nya mbacem nah itu baru kurang ajar he.. he.. he..
Pendukung web ini ada banyak. File-file berada di geocities.com dan geocities.com.sg, Foto – foto saya taruh di fotobucket.com, scrip php dan datanya ada di my brother, terus domainnnya ada di cjb.net. Jadi sekarang sever gratisnya di brinkster jadi nganggur. Sebenarnya pingin juga sih punya server sendiri semuanya dikasih di dalam server sendiri tersebut, sehingga maintenance-nya enak, tapi yach, belum ada finansial yang memadahi. Belum kerja ia, tak punya duit iya. Kalau dulu waktu kuliah enak, bisa menyisihkan sedikit – sedikit uang makan buat ngenet. Bersyukur saja deh masih bisa online walau seminggu kadang cuman sekali. Bukankan Allah sendiri pernah berjanji kalau kita bersyukur akan ditambah nikmatnya.
Segitu dulu, terimakasih semuanya yang menyempatkan waktu membaca tulisan ini, masukan antum sangat saya harapkan. Tanpa adanya feedback rasanya kurang lengkap untuk mengetahui kelemahan dan kebodohan baik itu tulisan ataupun langkah – langkah saya.
10 Jan
Sebenarnya banyak fasilitas dalam Ms Word yang kurang diketahui. Sebagai contoh konkritnya adalah pembuatan daftar isi otomatis. Waktu Tugas Akhir dulu terus terang saya mentertawakan teman saya yang membuat Daftar Isi secara Manual pada Word. Di cek satu persatu lantas diketik, padahal tinggal empat kali klik saja semua daftar isi pada Ms Word sudah terbentuk.
Belum lagi tatkala dosen pembimbingnya meminta jenis dan ukuran font untuk Judul Bab, Subbab, dan text umumnya harus diubah. Sayapun tinggal tertawa terbahak – bahak. Lah memang sudah saya peringatkan berkali – kali untuk menggunakan style tetapi tidak mahu, bukankah menjadi pekerjaan yang berkepanjangan?
Namun buat yang belum pernah mencoba dan merasakan pembuatan daftar isi otomatis ini, anda tidak bisa langsung menggunakan fasilitas istimewa tersebut jika belum berkenalan sama yang namanya ‘style’, karena antara style dan pembuatan daftar isi ini sangat berhubungan erat. Jika anda tidak menggunakan style maka secara otomatis data anda tidak bisa di buat daftar isinya otomatisnya.
Walaupun untuk tugas akhir dulu saya menggunakan OpenOfficeWriter dengan equation yang seambreg, namun saya agak mengerti tentang style MsWord. MsWord saya dahulukan ketimbang OpenOffice karena banyaknya masarakat yang menggunakan MsWord ketimbang OpenOffice, kususnya untuk saat ini. Tetapi jangan kawatir, jika dimungkingkan setelah pembahasan style pada MsWord ini akan saya usahakan untuk membahas style pada OpenOffice Writer seperti yang saya pergunakan saat saya mengerjakan tugas akhir dulu, ya semoga saja masih sempat.
Oke sekarang mari kita mulai belajar style MsWord. Saran saya gunakan Ms Word 2002 saja atau terbundel dalam office XP, (buat pemula harap diperhatikan bahwa Office XP tidak sama dengan WIndows XP, Windows XP adalah sebuah sistem operasi sedangkan Office XP adalah salah satu aplikasi yang dijalankan dibawah sistem operasi). Walau untuk urusan Drawing (gambar)versi ini kadang menjengkelkan tetapi kalau untuk urusan Style adalah jagoaanya.
Jalankan Ms Word hingga muncul jendela MsWord. Dari menu F
o
rmat klik lagi submenu
S
tyle and Formatting sehingga muncul “Task Pane Style and Formating” yang berada di sisi kanan MsWord.
Lihatlah pada kotak Pick Formatting to Apply secara default akan terdapat sebuah perintah Clear Formating dan empat buah standar style Ms Word. Keempat buah standart style ini adalah Heading 1, Heading 2, Heading 3, dan Normal.
Secara default Heading 1 menempati urutan level 1, Heading 2 menempati urutan level 2, dan Heading 3 menempati urutan level 3, sedangkan Normal menepati level ‘bodytext’.
Untuk menerangkan bagaimana sebenarnya level itu perhatikan sebuah contoh makalah yang saya buat ini.
1
2
Pengolah Kata adalah salah satu paket Office yang paling banyak digunaan diantara paket Office yang lain. Betapa banyaknya surat menyurat, arsip – arsip dan data – data yang harus diketik. Tanpa ada pengolah kata rasanya sangatlah sulit
normal
1.1.1 Ms Word
3
Pengolah kata ini dikeluarkan oleh Microsoft, walaupun harganya selangit, tetapi kemudahan yang diberikan cukup menjanjikan. Dalam hal kecepatan misalnya MsWord sangat kompatibel dengan Windows, loadingnya paling cepat dan fasilitas yang diberikan sangat banyak……..
normal
1.1.2 Open Office Writer
3
Seakan tak mau kalah dengan paket Word dari Microsoft, Open Office Writer berusaha menguasai pangsa pasar dengan menjanjikan kemudahan dan fasilitas yang tak kalah dengan Ms Word. Bersifat open source dan free Open Office memiiki kompatibilitas yang cukup tinggi denga MsWord. Didukung kemampuannya yang multi operating sistem pengolah kata ini makin banyak digandrungi…….
normal
Catatan : No 1 menadakan judul tersebut beradap pada level 1, No 2 menandakan judul tersebut berada pada level 2, No 3 menandakan level tersebut berada pada level 3 dan normal menandakan level ‘bodytext’.
Perlu dicatat juga bahwa level tidak menunjukkan bentuk font ataupun letaknya namun sebagai tingkatan dalam sebuah tulisan yang dalam hal ini adalah makalah. Dalam suatu makalah level tertinggi adalah judul bab, dan berada pada level satu. Jika dibawahnya terdapat Subbab maka Subbab itu berada pada level ke 2, dan jika dibawahnya Subbab terdapat Subsubbab, maka ia akan menempati level ke 3 begitu seterusnya. Dalam MsWord ini jumlah level dibatasi sampai 9. Jika masih belum mengerti ada baiknya anda lihat contoh daftar isi berikut ini.
Bab I Paket Office
1
……………………………………… 1
1.1 Pengolah Kata
2
……………………………… 1
1.1.1 Ms Word
3
……………………………. 1
1.1.2 Open Office Writer
3
………………. 1
Mengapa normal tidak dimasukkan dalam jenes level ke-empat? Karena normal memang sebaiknya berada pada outline level “bodytext”, bisa saja diubah menjadi level ke empat misalkan, tetapi hal ini malah mempersulit anda untuk mencek bab dan subbabnya. Terutama sangat menyusahkan untuk pembuatan Daftar Isi Otomatis, karena setiap level dari level 1 sampai level 9 akan terindex kedalam daftar isi. Bukahkan daftar isi sendiri hanya berisi Judul Bab dan Subab?
Jika anda pemula dan masih bingung itu adalah normal, dan insya Allah akan mengerti jika kita telah mempraktekkannya. Untuk sesion ini minimal kita sudah mengerti tentang tingkatan – tingkatan level dalam suatu tulisan.
(bersambung)
8 Jan
Pasti sudah pada tahu yang saya maksud bukan? Ya.. kalau ada web ginian ya nggak mungkin dari pacar, siapa lagi kalau bukan dari Ibuku saat wisuda dulu. Hmm.. sebenarnya saya sendiri juga males. Lah untuk apa sih di kasih bunga segala, lah wong tiada gunanya. Namun ya itulah seorang tua yang ingin melihat anak – anaknya tersenyum senang. Menyenangkan buah hatinya. Tak mungkinlah aku mengucapkan semacam itu untuk ibuku tersayang. Nggak mungkin aku tega menyakiti hatinya. Mesti dalam hati bilang gitu tapi di luar ya ngucapkan “Makasih deh ibu, Ibu buaek buanget, ibu dan perhatian lagi saya saya? cup muah .. muah. cipika cipiki.” He.. he.. he.. Toh juga sudah terlajur dibeli, kalau di tolak malah menyakiti hati orang tua. Dosa kan?
Ya.. terimakasih deh ibu, atas perhatiannya selama ini. Dan maafkan putramu yang ndableg ini belum bisa membantu apa – apa. Belum bisa memberikan yang terbaik buat engkau. Sabar ya bu?
Komentar Terakhir